CLOSE ADS
CLOSE ADS
PASJABAR
Jumat, 17 April 2026
  • PASJABAR
  • PASBANDUNG
  • PASPENDIDIKAN
  • PASKREATIF
  • PASNUSANTARA
  • PASBISNIS
  • PASHIBURAN
  • PASOLAHRAGA
  • CAHAYA PASUNDAN
  • RUANG OPINI
  • PASJABAR
  • PASBANDUNG
  • PASPENDIDIKAN
  • PASKREATIF
  • PASNUSANTARA
  • PASBISNIS
  • PASHIBURAN
  • PASOLAHRAGA
  • CAHAYA PASUNDAN
  • RUANG OPINI
No Result
View All Result
PASJABAR
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home PASNUSANTARA

BMKG Jelaskan Penyebab Suhu Dingin di Indonesia Akhir-Akhir Ini

Hanna Hanifah
25 Juli 2024
suhu dingin indonesia

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan fenomena suhu dingin yang akhir-akhir ini melanda beberapa wilayah di Indonesia. (foto: BMKG https://www.bmkg.go.id/press-release/?p=suhu-udara-bikin-menggigil-ternyata-ini-penyebabnya&tag=press-release&lang=ID)

Share on FacebookShare on Twitter
ADVERTISEMENT

BANDUNG, WWW.PASJABAR.COM – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan fenomena suhu dingin yang akhir-akhir ini melanda beberapa wilayah di Indonesia.

Dilansir dari situs resmi BMKG, suhu dingin di Indonesia ini terjadi menjelang puncak musim kemarau pada bulan Juli-Agustus, dan kadang berlanjut hingga September, disebabkan oleh Angin Monsun Australia yang bertiup menuju Benua Asia melewati wilayah Indonesia dan perairan Samudera Hindia yang suhunya relatif lebih rendah.

Angin Monsun Australia ini bersifat kering dan membawa sedikit uap air, terutama pada malam hari ketika suhu mencapai titik minimumnya.

Hal ini menyebabkan suhu udara di wilayah selatan Khatulistiwa seperti Pulau Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara terasa lebih dingin.

Contohnya, pada 7 Juli 2024, suhu minimum di Dataran Tinggi Dieng mencapai 1 derajat Celsius pada pukul 2 dini hari.

Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Guswanto, menjelaskan bahwa selain Monsun Australia, fenomena ini juga dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti posisi geografis, kondisi topografis, ketinggian wilayah, dan kelembaban udara yang relatif kering.

Pada bulan Juni hingga Agustus, posisi sinar matahari berada pada titik terjauh dari Indonesia, khususnya di bagian selatan Khatulistiwa.

Baca juga:   Gempa M 7,6 Guncang Bitung: Korban Jiwa Jatuh, Tsunami Picu Kepanikan Warga

“Beberapa hari terakhir ini, cuaca cerah mendominasi hampir seluruh Pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Sumatra bagian selatan, Kalimantan bagian selatan, dan Sulawesi bagian selatan. Angin dominan dari arah timur hingga tenggara membawa massa udara kering dan dingin dari daratan Australia ke Indonesia, sehingga kurang mendukung proses pertumbuhan awan,” ujar Guswanto di Jakarta, Jumat (19/7/2024) lalu.

Guswanto menambahkan bahwa cuaca cerah sepanjang hari dan kurangnya tutupan awan pada malam hari menyebabkan radiasi panas dari permukaan bumi terpancar ke atmosfer tanpa halangan, mengakibatkan penurunan suhu yang signifikan.

Angin tenang di malam hari juga menghambat pencampuran udara, sehingga udara dingin terperangkap di permukaan bumi.

Dalam satu pekan ke depan, cuaca cerah hingga berawan diprakirakan masih akan mendominasi wilayah Indonesia, khususnya bagian selatan.

Namun, potensi hujan dengan intensitas signifikan masih dapat terjadi di beberapa wilayah.

Waspada Angin Kencang

Kepala Pusat Meteorologi Publik BMKG, Andri Ramdhani, melaporkan bahwa terdapat daerah tekanan rendah di perairan barat Filipina (bibit Siklon Tropis 91W) dan di Laut Filipina sebelah utara Papua (bibit Siklon Tropis 92W).

Baca juga:   Fasilitas di TN Komodo Utamakan Keselamatan dan Keberlanjutan Lingkungan

Daerah tekanan rendah ini membentuk daerah pertemuan dan perlambatan kecepatan angin (konvergensi) yang memanjang dari Laut Filipina bagian barat, Laut Sulawesi hingga perairan timur Filipina.

Konvergensi lainnya terpantau di Selat Malaka, Laut Cina Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Sulawesi Utara bagian barat, Laut Seram, Laut Arafuru, dan Samudera Pasifik sebelah utara Papua.

“Kondisi ini meningkatkan potensi pertumbuhan awan hujan di sekitar daerah tekanan rendah dan di sepanjang daerah konvergensi tersebut,” jelas Andri.

Fenomena intrusi udara kering dari BBS melintasi wilayah Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, dan Maluku, mengangkat uap air basah di depan batas intrusi menjadi lebih hangat dan lembab di Sulawesi bagian tengah, Maluku, dan Pulau Papua.

Andri menambahkan bahwa peningkatan kecepatan angin hingga lebih dari 25 knot terpantau di Laut Andaman, Laut Cina Selatan, Samudera Hindia sebelah barat daya, selatan Jawa Barat, Laut Jawa bagian tengah dan timur, Laut Flores, Laut Banda, Laut Seram, Laut Halmahera, dan Laut Maluku, yang berpotensi meningkatkan tinggi gelombang di wilayah perairan tersebut.

Baca juga:   Jemaah Haji Asal Makassar Pamer Emas Imitasi

Labilitas lokal yang mendukung proses konvektif ada di Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Bengkulu, Kalimantan Utara, Kalimantan Timur, Sulawesi Tengah, Papua Barat, Papua Tengah, Papua, dan Papua Pegunungan.

“Secara umum, kombinasi fenomena-fenomena cuaca ini diprakirakan akan menimbulkan potensi cuaca signifikan dalam periode 18 – 25 Juli 2024. Di antaranya berupa hujan sedang hingga lebat yang dapat disertai kilat/petir dan angin kencang di wilayah Sumatera Barat, Kalimantan Utara, Sulawesi Tenggara, Maluku, Papua Barat Daya, Papua Tengah, Papua Pegunungan, dan Papua. Kondisi ini juga berpotensi menimbulkan angin kencang di wilayah Banten, Jawa Barat, NTB, NTT, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Maluku, Papua Barat, dan Papua Tengah,” paparnya.

“Kami himbau kepada masyarakat di wilayah tersebut untuk senantiasa waspada dan siap-siaga, terutama saat berkendara ketika angin kencang terjadi, karena dapat mengakibatkan baliho dan pohon tumbang atau menerbangkan material-material berbahaya,” tambah Andri. (han)

Print Friendly, PDF & Email
Editor: Hanna Hanifah
Tags: BMKGfenomena udara dinginsuhu dingin indonesia


Related Posts

potensi cuaca ekstrem
PASNUSANTARA

BMKG Ingatkan Potensi Cuaca Ekstrem di Sumatra hingga Jawa

16 April 2026
kemarau bmkg
HEADLINE

BMKG: Mayoritas Wilayah Jabar Masuki Kemarau Lebih Cepat

14 April 2026
cuaca bandung hari ini
HEADLINE

BMKG Prakirakan Sejumlah Kota Besar Diguyur Hujan Ringan

13 April 2026

Categories

  • CAHAYA PASUNDAN
  • HEADLINE
  • PASBANDUNG
  • PASBISNIS
  • PASBUDAYA
  • PASDUNIA
  • PASFINANSIAL
  • PASGALERI
  • PASHIBURAN
  • PASJABAR
  • PASKESEHATAN
  • PASKREATIF
  • PASNUSANTARA
  • PASOLAHRAGA
  • PASPENDIDIKAN
  • PASTV
  • PASVIRAL
  • RUANG OPINI
  • TOKOH
  • Uncategorized
No Result
View All Result

Trending

instagram/@zonanaetral5
HEADLINE

Hasil Piala AFF U-17 2026: Indonesia Takluk 0-1 dari Malaysia, Langkah ke Semifinal Terancam!

16 April 2026

GRESIK, WWW.PASJABAR.COM – Sebagai tuan rumah ajang ASEAN U-17 Boys' Championship 2026, Timnas Indonesia harus menelan pil...

pasundan law fair 2026

Pasundan Law Fair 2026 Sukses Digelar, Ajang Nasional Adu Gagasan dan Kompetensi Mahasiswa Hukum

16 April 2026
harga plastik

Kenaikan Harga Plastik Picu Penurunan Sampah di Kota Cimahi

16 April 2026
Agus Sutisna

Agus Sutisna Ditemukan Tewas Setelah Terjun Selamatkan Siswi Hanyut

16 April 2026
remaja hanyut

Remaja Tewas Hanyut di Sungai Cibanjaran, Penolong Masih Hilang

16 April 2026

Highlights

Agus Sutisna Ditemukan Tewas Setelah Terjun Selamatkan Siswi Hanyut

Remaja Tewas Hanyut di Sungai Cibanjaran, Penolong Masih Hilang

BMKG Ingatkan Potensi Cuaca Ekstrem di Sumatra hingga Jawa

Rektorat Unpad Nonaktifkan Dosen Diduga Terlibat Kekerasan Seksual, Dan Lakukan Investigasi

Transformasi RS Rajawali, Primaya Perkuat Layanan Medis Modern di Bandung

Kenalan Lewat Game Online Siswi SMP di Bandung Barat Diculik Remaja

PASJABAR

© 2018 www.pasjabar.com

Navigate Site

  • REDAKSI
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Alamat Redaksi & Iklan

Follow Us

No Result
View All Result
  • PASJABAR
  • PASBANDUNG
  • PASPENDIDIKAN
  • PASKREATIF
  • PASNUSANTARA
  • PASBISNIS
  • PASHIBURAN
  • PASOLAHRAGA
  • CAHAYA PASUNDAN
  • RUANG OPINI

© 2018 www.pasjabar.com

This website uses cookies. By continuing to use this website you are giving consent to cookies being used. Visit our Privacy and Cookie Policy.