CLOSE ADS
CLOSE ADS
PASJABAR
Kamis, 16 April 2026
  • PASJABAR
  • PASBANDUNG
  • PASPENDIDIKAN
  • PASKREATIF
  • PASNUSANTARA
  • PASBISNIS
  • PASHIBURAN
  • PASOLAHRAGA
  • CAHAYA PASUNDAN
  • RUANG OPINI
  • PASJABAR
  • PASBANDUNG
  • PASPENDIDIKAN
  • PASKREATIF
  • PASNUSANTARA
  • PASBISNIS
  • PASHIBURAN
  • PASOLAHRAGA
  • CAHAYA PASUNDAN
  • RUANG OPINI
No Result
View All Result
PASJABAR
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home RUANG OPINI

Golput “Pemenang” Pilkada Jakarta

Hanna Hanifah
4 Desember 2024
pilkada jakarta

Pilkada Jakarta. (foto: Antara)

Share on FacebookShare on Twitter
ADVERTISEMENT
Dosen Yayasan Pendidikan Tinggi Pasundan Dpk FH UNPAS, Firdaus Arifin. (foto: pasjabar)

Oleh: Firdaus Arifin, Dosen Fakultas Hukum Universitas Pasundan (Pilkada Jakarta)

BANDUNG, WWW.PASJABAR.COM – Ketika Pilkada Jakarta telah usai, pembicaraan publik tak hanya berputar pada siapa kandidat yang akan menjadi pemenang dalam kontestasi pilkada, diskursus lain yang tak kalah penting justru mengemuka: fenomena golongan putih (golput). Dalam demokrasi elektoral, golput sering kali dianggap sebagai problem akut yang menggerus legitimasi pemilihan umum. Namun, di tengah derasnya upaya mendorong partisipasi politik, mengapa golput tetap menjadi “pemenang” yang tak terelakkan?

Pilkada Jakarta selalu menjadi barometer politik nasional. Sebagai episentrum kekuasaan, Jakarta tak hanya mencerminkan dinamika politik lokal, tetapi juga merefleksikan wajah demokrasi Indonesia secara keseluruhan. Namun, kehadiran golput yang masif kerap menimbulkan pertanyaan besar: apakah ini cerminan apatisme, ataukah sinyal adanya ketidakpuasan mendalam terhadap sistem yang berjalan?

Cerminan Kekecewaan

Fenomena golput bukanlah barang baru dalam politik Indonesia. Dalam setiap pemilu, baik nasional maupun daerah, golput selalu muncul sebagai aktor senyap yang menentukan peta akhir permainan politik. Dalam Pilkada 2012, tingkat partisipasi pemilih di Jakarta hanya mencapai 63,62% pada putaran pertama, yang meningkat menjadi 66,71% pada putaran kedua. Namun, angka ini tetap menunjukkan bahwa lebih dari 30% warga memilih tidak menggunakan hak pilihnya.

Pada Pilkada 2017, partisipasi pemilih naik signifikan hingga 77%, yang menjadi angka tertinggi sepanjang sejarah Pilkada DKI Jakarta. Namun, situasi ini tidak bertahan pada Pilkada 2024. Berdasarkan data dari Charta Politika, tingkat partisipasi pemilih hanya mencapai 58%. Dengan kata lain, angka golput melonjak hingga 42%, tertinggi dalam sejarah Pilkada Jakarta.

Baca juga:   Panggung Dedi, Bayang-bayang Erwan

Golput dalam konteks ini sering kali menjadi representasi kekecewaan masyarakat terhadap kandidat yang bertarung. Dalam demokrasi yang ideal, pemilih dihadapkan pada pilihan-pilihan yang mampu merepresentasikan kepentingan dan nilai-nilai mereka. Namun, ketika kandidat yang tersedia dianggap sama-sama jauh dari harapan, sebagian masyarakat cenderung memilih untuk tidak memilih sama sekali.

Selain itu, golput juga menjadi kritik diam-diam terhadap sistem politik yang berjalan. Ketika demokrasi elektoral hanya berkutat pada perebutan kekuasaan tanpa disertai upaya nyata untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat, kepercayaan publik terhadap proses pemilu akan tergerus. Golput, dalam hal ini, menjadi bentuk perlawanan simbolis terhadap sistem yang dianggap gagal.

Politik Uang dan Kepercayaan

Salah satu faktor utama yang mendorong tingginya angka golput adalah praktik politik uang yang terus menghantui setiap penyelenggaraan pemilu. Jakarta, sebagai kota metropolitan dengan tingkat pendidikan dan akses informasi yang relatif tinggi, ironisnya tetap tak luput dari praktik semacam ini. Ketika proses politik didikte oleh uang, masyarakat kehilangan kepercayaan bahwa pemilu adalah mekanisme yang adil untuk memilih pemimpin terbaik.

Politik uang bukan hanya menciderai integritas pemilu, tetapi juga memperkuat narasi bahwa politik adalah arena transaksional semata. Di satu sisi, kandidat dengan kekuatan finansial yang besar mendominasi panggung politik. Di sisi lain, pemilih yang pragmatis memanfaatkan momentum ini untuk keuntungan jangka pendek. Akibatnya, golput menjadi pilihan rasional bagi mereka yang enggan terlibat dalam proses yang dianggap tidak bermoral.

Baca juga:   LIC untuk Mempersiapkan Dokter Adaptif dan Berorientasi Masalah Kesehatan Daerah

Peran Media dan Polarisasi Politik

Fenomena golput juga tak lepas dari pengaruh media dan polarisasi politik yang kian tajam. Dalam Pilkada Jakarta, media sering kali menjadi aktor penting yang memengaruhi persepsi publik terhadap kandidat. Sayangnya, alih-alih menjadi penyampai informasi yang objektif, media sering kali terseret dalam kepentingan politik tertentu.

Ketika media kehilangan independensinya, masyarakat cenderung bingung membedakan mana informasi yang benar dan mana yang hanya sekadar propaganda. Dalam situasi seperti ini, golput muncul sebagai bentuk protes terhadap manipulasi informasi yang merusak kualitas demokrasi.

Selain itu, polarisasi politik yang tajam juga berkontribusi pada meningkatnya angka golput. Pilkada Jakarta beberapa kali menjadi arena konflik ideologis yang membelah masyarakat ke dalam kubu-kubu yang saling bertentangan. Bagi sebagian pemilih, keterbelahan ini menciptakan kelelahan politik yang membuat mereka enggan berpartisipasi.

Mencari Solusi

Mengurangi angka golput tidaklah mudah, tetapi bukan berarti mustahil. Ada beberapa langkah strategis yang bisa dilakukan untuk mendorong partisipasi politik masyarakat yaitu:

Pertama, pendidikan politik harus menjadi prioritas. Masyarakat perlu diberikan pemahaman yang mendalam tentang pentingnya partisipasi politik dalam membangun demokrasi yang sehat. Pendidikan politik tidak hanya bisa dilakukan melalui institusi formal, tetapi juga melalui kampanye yang kreatif dan menyentuh langsung kebutuhan masyarakat.

Baca juga:   Ketika Jabatan Disangka Kekuasaan

Kedua, reformasi sistem politik menjadi kunci. Partai politik harus mampu menawarkan kandidat yang berkualitas dan memiliki rekam jejak yang jelas. Dalam hal ini, proses seleksi calon pemimpin harus dilakukan secara transparan dan berbasis meritokrasi, bukan sekadar karena faktor popularitas atau kedekatan dengan elit tertentu.

Ketiga, integritas penyelenggara pemilu harus dijaga. Bawaslu dan KPU memiliki peran strategis untuk memastikan bahwa setiap tahapan pemilu berjalan dengan jujur dan adil. Selain itu, pengawasan terhadap praktik politik uang harus diperketat agar masyarakat merasa bahwa suaranya benar-benar dihargai.

“Pemenang” yang Tidak Diinginkan

Pada akhirnya, golput bukanlah ancaman yang harus dimusuhi, melainkan sinyal yang perlu direspons dengan bijak. Dalam demokrasi, tidak memilih pun adalah pilihan yang sah dan harus dihormati. Namun, ketika golput menjadi pilihan mayoritas, ini menunjukkan bahwa ada masalah serius dalam sistem yang kita bangun.

Pilkada Jakarta 2024 menjadi momentum untuk merefleksikan ulang arah demokrasi kita. Jangan sampai golput terus menjadi “pemenang” yang tidak diinginkan karena ketidakmampuan kita menyediakan proses politik yang lebih inklusif, adil, dan bermakna.

Masyarakat Jakarta, dengan segala keragamannya, layak mendapatkan pemimpin yang mampu menjawab kebutuhan mereka. Dan tugas kita semua adalah memastikan bahwa pemilu, sebagai instrumen demokrasi, benar-benar mampu menjalankan fungsi tersebut. Golput bukanlah musuh; ia adalah cermin yang memperlihatkan wajah demokrasi kita yang sebenarnya. (han)

Print Friendly, PDF & Email
Editor: Hanna Hanifah
Tags: pilkada jakarta


Related Posts

No Content Available

Categories

  • CAHAYA PASUNDAN
  • HEADLINE
  • PASBANDUNG
  • PASBISNIS
  • PASBUDAYA
  • PASDUNIA
  • PASFINANSIAL
  • PASGALERI
  • PASHIBURAN
  • PASJABAR
  • PASKESEHATAN
  • PASKREATIF
  • PASNUSANTARA
  • PASOLAHRAGA
  • PASPENDIDIKAN
  • PASTV
  • PASVIRAL
  • RUANG OPINI
  • TOKOH
  • Uncategorized
No Result
View All Result

Trending

UTBK SNBT 2026
HEADLINE

Pengunduhan Kartu SBMPTN 2026 Ditutup, Terlewat Unduh? Ini Risikonya

15 April 2026

BANDUNG, WWW.PASJABAR.COM – Pengunduhan kartu peserta UTBK-SNBT 2026 (yang sebelumnya dikenal sebagai SBMPTN) resmi ditutup. Ribuan peserta...

stres

Dokter Ungkap Tips Efektif Atasi Stres dan Kecemasan

15 April 2026
wisuda unjani

Wisuda Unjani 2026: 1.810 Lulusan, Sistem Hybrid Jadi Andalan

15 April 2026
penataan gedung sate

Pemprov Jabar Mulai Bongkar Plaza Depan Gedung Sate untuk Penataan

15 April 2026
TJSL

KAI Daop 2 Bandung Salurkan TJSL Rp1,1 Miliar Sepanjang 2025

15 April 2026

Highlights

Pemprov Jabar Mulai Bongkar Plaza Depan Gedung Sate untuk Penataan

KAI Daop 2 Bandung Salurkan TJSL Rp1,1 Miliar Sepanjang 2025

HMT ITB Minta Maaf atas Lagu Kontroversial yang Picu Keresahan

Rusun ASN Kejati Jabar Capai 32%, Berpotensi Rampung Lebih Cepat

Program Bedah Rumah Jabar Dimulai, Target 40 Ribu Hunian

Pemprov Jabar Tata Ulang Kawasan Gedung Sate Jadi Ruang Terpadu

PASJABAR

© 2018 www.pasjabar.com

Navigate Site

  • REDAKSI
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Alamat Redaksi & Iklan

Follow Us

No Result
View All Result
  • PASJABAR
  • PASBANDUNG
  • PASPENDIDIKAN
  • PASKREATIF
  • PASNUSANTARA
  • PASBISNIS
  • PASHIBURAN
  • PASOLAHRAGA
  • CAHAYA PASUNDAN
  • RUANG OPINI

© 2018 www.pasjabar.com

This website uses cookies. By continuing to use this website you are giving consent to cookies being used. Visit our Privacy and Cookie Policy.