CLOSE ADS
CLOSE ADS
PASJABAR
Kamis, 15 Januari 2026
  • PASJABAR
  • PASBANDUNG
  • PASPENDIDIKAN
  • PASKREATIF
  • PASNUSANTARA
  • PASBISNIS
  • PASHIBURAN
  • PASOLAHRAGA
  • CAHAYA PASUNDAN
  • RUANG OPINI
  • PASJABAR
  • PASBANDUNG
  • PASPENDIDIKAN
  • PASKREATIF
  • PASNUSANTARA
  • PASBISNIS
  • PASHIBURAN
  • PASOLAHRAGA
  • CAHAYA PASUNDAN
  • RUANG OPINI
No Result
View All Result
PASJABAR
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home HEADLINE

Sunda Jeung Politik (Sunda dan Politik)

Hanna Hanifah
25 Desember 2024
sunda dan politik

ilustrasi. (foto: Google Gambar)

Share on FacebookShare on Twitter
ADVERTISEMENT
Dosen Yayasan Pendidikan Tinggi Pasundan Dpk FH UNPAS, Firdaus Arifin. (foto: pasjabar)

Oleh: Firdaus Arifin, Dosen YPT Pasundan Dpk. FH Unpas (Sunda dan Politik)

BANDUNG, WWW.PASJABAR.COM – Budaya Sunda memiliki warisan panjang dalam sejarah Nusantara. Sebagai salah satu kebudayaan yang kaya akan nilai-nilai etis, moralitas, dan harmoni, Sunda sering digambarkan sebagai pusat dari rasa, rasa hormat, dan rasa beunghar budi. Namun, di tengah arus besar politik modern yang kerap diwarnai intrik dan manipulasi, posisi budaya Sunda seolah terpinggirkan. Mengapa ini terjadi, dan bagaimana budaya Sunda dapat kembali mengambil peran strategis dalam percaturan politik Indonesia?

Sunda dalam Lintasan Sejarah Politik

Dalam catatan sejarah, Sunda bukanlah pemain pasif dalam arena kekuasaan. Kerajaan Sunda Pajajaran, misalnya, merupakan model pemerintahan berbasis nilai-nilai harmoni, keadilan, dan keseimbangan. Salah satu bukti yang paling terkenal adalah “Prasasti Sunda Siliwangi” yang menegaskan pentingnya menjaga keadilan dan kelestarian alam. Falsafah ini menjadi simbol bahwa Sunda tidak pernah terpisah dari politik, tetapi mendefinisikan politiknya dengan pendekatan moralitas dan keberlanjutan.

Namun, setelah runtuhnya Pajajaran, budaya Sunda cenderung terasing dari pusat-pusat kekuasaan. Pascakolonialisme, politik di Indonesia lebih banyak didominasi oleh pragmatisme Jawa dan pendekatan kekuatan. Urang Sunda—dengan nilai-nilai harmoni yang menjunjung tata krama—cenderung memilih posisi diam, lebih berfokus pada pengembangan budaya lokal ketimbang perebutan kekuasaan.

Apatisme atau Strategi Kebudayaan?

Sikap urang Sunda terhadap politik modern sering dipersepsikan sebagai apatisme. Namun, apakah benar demikian? Dalam budaya Sunda, ada filosofi “ulah nyarekan angin, ulah ngalawan ombak” (jangan melawan angin, jangan melawan ombak) yang mengajarkan kebijaksanaan untuk memilih waktu yang tepat dalam bertindak. Filosofi ini bukan berarti menghindari konflik, tetapi menekankan pentingnya memahami konteks dan situasi sebelum melangkah.

Baca juga:   Kekurangan Formil dan Materil, Berkas Pegi Setiawan Dikembalikan

Namun, di tengah iklim politik yang serba kompetitif dan mengedepankan kekuatan, filosofi ini sering dianggap sebagai kelemahan. Urang Sunda yang lebih mengutamakan harmoni dan musyawarah sering kalah bersaing dengan aktor politik yang agresif. Akibatnya, representasi urang Sunda dalam politik nasional menjadi minim, baik dari segi jumlah maupun pengaruh.

Pertanyaannya, apakah urang Sunda harus mengubah pendekatan ini? Atau justru harus mengolah nilai-nilai tersebut menjadi kekuatan politik baru?

Politik Sunda: Antara Tatali Paranti dan Tantangan Zaman

Salah satu kekuatan terbesar budaya Sunda adalah tatali paranti (tradisi yang mengikat). Tradisi ini mengajarkan pentingnya menjaga nilai-nilai luhur, bahkan ketika menghadapi perubahan zaman. Dalam konteks politik, tatali paranti dapat menjadi landasan untuk menciptakan politik yang berkeadaban, beretika, dan berorientasi pada kemaslahatan bersama.

Namun, tatali paranti juga menghadapi tantangan besar di era modern. Politik hari ini bukan lagi tentang menjaga keharmonisan, tetapi tentang menguasai narasi, membangun citra, dan memenangkan dukungan publik. Jika urang Sunda tetap berpegang pada pola lama yang pasif dan reaktif, maka posisi budaya Sunda dalam politik akan semakin tergerus.

Baca juga:   Kluivert Coret Marselino & Hilgers Gara-Gara Ini!

Maka, yang perlu dilakukan adalah reinterpretasi nilai-nilai Sunda dalam konteks politik modern. Filosofi “silih asih, silih asah, silih asuh” misalnya, dapat diterjemahkan sebagai prinsip kolaborasi lintas golongan, pembangunan kapasitas kepemimpinan, dan komitmen terhadap keadilan sosial. Dengan reinterpretasi ini, politik Sunda dapat menjadi model alternatif yang relevan dengan tantangan zaman.

Sunda dan Kontribusi terhadap Politik Kebangsaan

Sebagai entitas budaya, Sunda memiliki potensi besar untuk memberikan kontribusi pada politik kebangsaan. Dalam budaya Sunda, ada konsep ngajadi bangsa anu adil jeung arif (mewujudkan bangsa yang adil dan bijaksana). Konsep ini selaras dengan kebutuhan politik Indonesia hari ini yang kerap terjebak dalam konflik kepentingan dan polarisasi.

Namun, kontribusi ini hanya mungkin terwujud jika urang Sunda mampu memanfaatkan nilai-nilai budaya mereka sebagai strategi politik, bukan sekadar filosofi. Misalnya, prinsip “caina herang, laukna beunang” (airnya jernih, ikannya tertangkap) dapat menjadi inspirasi untuk menciptakan politik yang transparan, akuntabel, dan berorientasi pada hasil nyata.

Membentuk Generasi Pemimpin Sunda

Kebangkitan politik Sunda sangat bergantung pada generasi mudanya. Pendidikan politik berbasis budaya Sunda harus mulai dikembangkan untuk melahirkan pemimpin yang tidak hanya kompeten, tetapi juga memiliki akar budaya yang kuat. Generasi ini harus mampu memadukan kecerdasan intelektual dengan kecerdasan rasa—prinsip dasar dalam budaya Sunda.

Baca juga:   Binus Juara, Unpas Bersinar di Jabar! Ini 20 Kampus Swasta Terbaik RI 2025

Pemimpin Sunda yang ideal adalah mereka yang mampu menjadi simbol harmoni, sekaligus agen perubahan. Mereka tidak hanya mengandalkan pendekatan tatang (bertahan), tetapi juga tandang (aktif menyerang) ketika situasi menuntut. Dengan demikian, mereka dapat membawa nilai-nilai Sunda ke panggung politik nasional tanpa kehilangan jati diri.

Sunda jeung politik sejatinya bukanlah dua hal yang bertolak belakang. Keduanya saling melengkapi jika dirumuskan dengan benar. Budaya Sunda yang berakar pada harmoni, etika, dan musyawarah dapat menjadi landasan untuk menciptakan politik yang lebih manusiawi dan berkeadaban.

Namun, untuk mewujudkan ini, urang Sunda harus berani melangkah keluar dari zona nyaman. Mereka harus mengolah nilai-nilai budaya menjadi kekuatan politik yang nyata, bukan hanya narasi romantis masa lalu. Sebagaimana filosofi Sunda yang mengajarkan “luhur ku elmu, teger ku rasa, jembar ku pangarti” (mulia dengan ilmu, tegas dengan rasa, luas dengan pemahaman), politik Sunda dapat menjadi model politik yang membawa perubahan tanpa kehilangan akar budayanya.

Saatnya urang Sunda kembali mengambil peran strategis dalam politik Indonesia, bukan sebagai pengikut, tetapi sebagai pemandu yang menginspirasi. Jati kasilih ku junun, politik Sunda harus menjadi cermin nilai-nilai luhur yang tidak hanya memimpin masyarakatnya, tetapi juga bangsa ini. (han)

Print Friendly, PDF & Email
Editor: Hanna Hanifah
Tags: budaya sundaOpinipolitikunpas


Related Posts

unpas
HEADLINE

FEB Unpas Juara Umum POM Dies Natalis ke-65, Mental Jadi Kunci Kemenangan

11 Januari 2026
unpas
PASPENDIDIKAN

Unpas Berikan Penghargaan Masa Bakti dan Prestasi Sivitas Akademika

1 Januari 2026
Merampok Daulat Rakyat
HEADLINE

Merampok Daulat Rakyat

31 Desember 2025

Categories

  • CAHAYA PASUNDAN
  • HEADLINE
  • PASBANDUNG
  • PASBISNIS
  • PASBUDAYA
  • PASDUNIA
  • PASFINANSIAL
  • PASGALERI
  • PASHIBURAN
  • PASJABAR
  • PASKESEHATAN
  • PASKREATIF
  • PASNUSANTARA
  • PASOLAHRAGA
  • PASPENDIDIKAN
  • PASTV
  • PASVIRAL
  • RUANG OPINI
  • TOKOH
  • Uncategorized
Radio Player
No Result
View All Result

Trending

Mohamed Salah mejan di semifinal Piala Afrika 2025. (Foto: Ulrik Pedersen/NurPhoto via Getty Images)
HEADLINE

Mane Berpesta, Salah Merana: Senegal Menundukkan Mesir di Piala Afrika 2025 lewat Gol Roket Sadio Mane!

15 Januari 2026

TANGER, WWW.PASJABAR.COM – Rivalitas abadi dua legenda Liverpool kembali tersaji di semifinal Piala Afrika (AFCON) 2025. Namun,...

Michael Carrick. (Foto: Getty Images/Aitor Alcalde)

Misi Mustahil Michael Carrick: Debut di Derby Manchester dan Ujian Pemuncak Klasemen Arsenal!

15 Januari 2026
Momen ribut-ribut Enzo Fernandez dan Martin Zubimendi usai Chelsea vs Arsenal di Piala Liga Inggris. (Foto: Catherine Ivill - AMA/Getty Images)

Tensi Panas Stamford Bridge: Enzo Fernandez Mencengkeram Leher Zubimendi Usai Chelsea Disikat Arsenal!

15 Januari 2026
Getty Images Sport

Malam Kelam di Carlos Belmonte: Debut Alvaro Arbeloa Berujung Bencana, Madrid Tersingkir dari Copa del Rey!

15 Januari 2026
Foto: AFP/ABDEL MAJID BZIOUAT

Yassine Bounou Jadi Pahlawan! Maroko Bungkam Nigeria Lewat Adu Penalti dan Segel Tiket Final Piala Afrika 2025

15 Januari 2026

Highlights

Malam Kelam di Carlos Belmonte: Debut Alvaro Arbeloa Berujung Bencana, Madrid Tersingkir dari Copa del Rey!

Yassine Bounou Jadi Pahlawan! Maroko Bungkam Nigeria Lewat Adu Penalti dan Segel Tiket Final Piala Afrika 2025

Garnacho Menggila, Tapi Chelsea Tetap Tumbang di Stamford Bridge

Bandung Menggigil! Cuaca Dingin Picu Ancaman Flu dan ISPA

Pemerintah Mengalokasikan 4,8 T di Sektor Peternakan Sapi

Danlanud Husein Resmikan SPPG Cipatik di Kab Bandung Barat

PASJABAR

© 2018 www.pasjabar.com

Navigate Site

  • REDAKSI
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Alamat Redaksi & Iklan

Follow Us

No Result
View All Result
  • PASJABAR
  • PASBANDUNG
  • PASPENDIDIKAN
  • PASKREATIF
  • PASNUSANTARA
  • PASBISNIS
  • PASHIBURAN
  • PASOLAHRAGA
  • CAHAYA PASUNDAN
  • RUANG OPINI

© 2018 www.pasjabar.com

This website uses cookies. By continuing to use this website you are giving consent to cookies being used. Visit our Privacy and Cookie Policy.