CLOSE ADS
CLOSE ADS
PASJABAR
Jumat, 17 April 2026
  • PASJABAR
  • PASBANDUNG
  • PASPENDIDIKAN
  • PASKREATIF
  • PASNUSANTARA
  • PASBISNIS
  • PASHIBURAN
  • PASOLAHRAGA
  • CAHAYA PASUNDAN
  • RUANG OPINI
  • PASJABAR
  • PASBANDUNG
  • PASPENDIDIKAN
  • PASKREATIF
  • PASNUSANTARA
  • PASBISNIS
  • PASHIBURAN
  • PASOLAHRAGA
  • CAHAYA PASUNDAN
  • RUANG OPINI
No Result
View All Result
PASJABAR
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home HEADLINE

Farhan dan Dosa Lama Bandung

Hanna Hanifah
11 Maret 2025
Farhan Bandung

Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan. (foto: pasjabar)

Share on FacebookShare on Twitter
ADVERTISEMENT
Opini Kegaduhan Politik
Dosen Yayasan Pendidikan Tinggi Pasundan Dpk FH UNPAS, Firdaus Arifin. (foto: pasjabar)

Oleh: Firdaus Arifin, Dosen FH Unpas & Sekretaris APHTN HAN Jawa Barat (Farhan dan Dosa Lama Bandung)

BANDUNG, WWW.PASJABAR.COM – Muhammad Farhan baru saja menapaki bulan pertamanya sebagai Wali Kota Bandung. Mantan presenter televisi itu kini berdiri di panggung politik lokal yang jauh lebih berliku dibandingkan sorotan lampu studio. Harapan warga menggantung di pundaknya, tetapi warisan dosa lama birokrasi Bandung tak bisa dihapus hanya dengan retorika atau semangat belaka.

Bandung bukan sekadar ibu kota Jawa Barat, melainkan etalase bagi kota-kota lain di Indonesia. Citra kota ini sebagai pusat kreativitas dan inovasi sering kali bertolak belakang dengan wajah aslinya: macet, tata kota semrawut, korupsi birokrasi, dan pelayanan publik yang tertatih-tatih. Farhan berjanji membawa perubahan. Tapi pertanyaannya: sejauh mana ia mampu menjebol kebiasaan lama yang sudah mengakar?

Dosa Lama Bandung

Setiap pemerintahan di kota besar pasti memiliki problematika, tetapi Bandung memiliki dosa-dosa lama yang terus berulang. Dari satu wali kota ke wali kota berikutnya.

Pertama, korupsi yang mengakar di birokrasi. Kota Bandung bukan hanya pernah tersandung kasus besar yang melibatkan pejabat tinggi. Tetapi juga praktik rente yang menjadi rahasia umum. Mulai dari perizinan usaha, proyek infrastruktur, hingga pengelolaan aset daerah, semuanya kerap berbau korupsi. KPK sudah berkali-kali turun tangan, tetapi akar masalahnya tak pernah benar-benar dicabut.

Kedua, tata kota yang semakin kacau. Bandung pernah dijuluki “Paris van Java,” tetapi kini lebih mirip “Kota Beton van Macet.” Ruang publik semakin tergerus oleh pembangunan yang tak terkendali, sementara drainase buruk menyebabkan banjir langganan. Jalan-jalan yang seharusnya menjadi akses lancar bagi warga justru menjadi arena parkir liar dan kemacetan yang tak berkesudahan.

Baca juga:   Uskup Bandung Hadir di Open House Pemkot Bandung

Ketiga, pelayanan publik yang lamban dan berbelit. Dari pengurusan KTP, izin usaha, hingga layanan kesehatan, masih banyak warga yang mengeluhkan birokrasi yang bertele-tele. Era digital seharusnya membuat pelayanan lebih cepat dan transparan. Tetapi justru di banyak lini, prosesnya tetap saja diwarnai pungutan liar dan calo perizinan.

Semua ini bukan masalah yang lahir dalam semalam. Dosa lama ini adalah akumulasi dari kebijakan yang setengah hati, pengawasan yang lemah, dan kepentingan oligarki lokal yang terlalu nyaman dengan status quo.

Tantangan Perubahan

Sejak awal, Farhan menegaskan bahwa ia tak ingin terjebak dalam ilusi “100 Hari Kerja.” Ia mengklaim akan bekerja setiap hari, bukan sekadar mengejar pencitraan. Sikap ini patut diapresiasi, tetapi tantangan utama tetap ada: sejauh mana ia bisa mengguncang sistem yang sudah mapan?

Ada beberapa faktor yang akan menentukan sukses atau gagalnya Farhan dalam membangun Bandung yang lebih baik.

Pertama, bersih-bersih birokrasi. Tidak cukup hanya dengan pidato dan instruksi moral kepada ASN, Farhan harus berani melakukan audit menyeluruh terhadap dinas-dinas yang selama ini menjadi sarang pungli dan korupsi. Reformasi birokrasi di tingkat daerah harus dimulai dari rekrutmen yang transparan, promosi berbasis kinerja, dan digitalisasi layanan yang menghilangkan celah korupsi.

Baca juga:   Selama Pandemi, 3 Ribu Pesan Warga Masuk ke HP Oded Setiap Hari

Kedua, membongkar mafia tata kota. Pembangunan Bandung selama ini lebih banyak dikendalikan oleh para pemilik modal besar, bukan oleh kepentingan publik. Perubahan zonasi sering kali lebih ditentukan oleh lobi-lobi pengembang ketimbang visi pembangunan berkelanjutan. Jika Farhan benar-benar ingin meninggalkan jejak sejarah, ia harus berani melawan kepentingan-kepentingan ini dan mengembalikan tata kota ke jalurnya.

Ketiga, mewujudkan pelayanan publik berbasis kepercayaan. Warga Bandung butuh layanan yang cepat, transparan, dan tanpa pungli. Digitalisasi memang sudah berjalan di beberapa sektor, tetapi masih banyak yang belum optimal. Farhan harus memastikan bahwa setiap kebijakan yang dibuat benar-benar dirasakan dampaknya oleh warga, bukan sekadar proyek berbasis angka-angka statistik yang hanya bagus di laporan akhir tahun.

Politik Lokal dan Godaan Kekuasaan

Tak bisa dimungkiri, politik lokal sering kali lebih brutal daripada politik nasional. Wali Kota bukan hanya harus menghadapi birokrasi yang bandel, tetapi juga dinamika DPRD yang penuh tarik ulur kepentingan. Banyak program bagus yang akhirnya mandek karena kepentingan politik yang lebih dominan daripada kesejahteraan publik.

Farhan, sebagai sosok yang sebelumnya lebih dikenal di dunia media dan hiburan, perlu menunjukkan bahwa dirinya bukan sekadar pemimpin populis yang hanya pintar bicara. Ia harus membuktikan bahwa ia bisa berdiri di atas semua kepentingan politik dan memprioritaskan warga Bandung di atas segalanya.

Baca juga:   Piala Eropa 2024: Timnas Inggris yang Telat Panas Sempat Menuai Kritikan

Tantangan lainnya adalah godaan kekuasaan itu sendiri. Banyak kepala daerah yang memulai dengan niat baik, tetapi di tengah jalan tergoda oleh kenyamanan jabatan, transaksi politik, atau iming-iming proyek besar. Jika Farhan ingin mengukir sejarah sebagai wali kota yang berbeda, ia harus berani menolak segala bentuk kompromi yang mengorbankan kepentingan rakyat.

Tindakan Bukan Sekadar Janji

Warga Bandung sudah terlalu sering mendengar janji perubahan dari pemimpin sebelumnya. Yang mereka butuhkan saat ini bukan sekadar narasi optimistis atau tagline kampanye, melainkan tindakan konkret yang bisa dirasakan.

Farhan punya modal awal yang cukup baik: citra sebagai orang luar yang tidak terlalu lekat dengan jaringan oligarki lokal, pengalaman di dunia politik nasional, serta kemampuan komunikasi yang kuat. Tapi tanpa keberanian untuk mengguncang status quo, ia bisa saja berakhir sebagai wali kota yang hanya numpang lewat dalam sejarah Bandung.

Bandung berada di persimpangan. Apakah kota ini akan tetap tenggelam dalam dosa lama ataukah benar-benar berubah? Jawabannya ada di tangan Farhan dan sejauh mana ia bisa bertahan dari jebakan politik lokal yang penuh godaan.

Sejarah akan mencatat. Apakah Farhan sekadar nama di deretan wali kota yang datang dan pergi, ataukah ia akan menjadi sosok yang benar-benar mengubah wajah Bandung? Warga Bandung menunggu jawabannya. (han)

Print Friendly, PDF & Email
Editor:
Tags: Muhammad Farhanwali kota bandung


Related Posts

WFH ASN Bandung
HEADLINE

WFH ASN Bandung Dikunci Ketat, Telat Balas WA Bisa Kena Sanksi!

2 April 2026
jelekong PSEL
PASBANDUNG

Jelekong Berpotensi Jadi Lokasi PSEL, Pemkot Bandung Siapkan Kajian Lanjutan

1 April 2026
Wakil Ketua DPRD Jawa Barat, Ono Surono. (Uby/pasjabar)
HEADLINE

Ono Surono Panggil BKSDA dan Dinas Kehutanan Buntut Kematian Anak Harimau di Bandung Zoo

27 Maret 2026

Categories

  • CAHAYA PASUNDAN
  • HEADLINE
  • PASBANDUNG
  • PASBISNIS
  • PASBUDAYA
  • PASDUNIA
  • PASFINANSIAL
  • PASGALERI
  • PASHIBURAN
  • PASJABAR
  • PASKESEHATAN
  • PASKREATIF
  • PASNUSANTARA
  • PASOLAHRAGA
  • PASPENDIDIKAN
  • PASTV
  • PASVIRAL
  • RUANG OPINI
  • TOKOH
  • Uncategorized
No Result
View All Result

Trending

instagram/@zonanaetral5
HEADLINE

Hasil Piala AFF U-17 2026: Indonesia Takluk 0-1 dari Malaysia, Langkah ke Semifinal Terancam!

16 April 2026

GRESIK, WWW.PASJABAR.COM – Sebagai tuan rumah ajang ASEAN U-17 Boys' Championship 2026, Timnas Indonesia harus menelan pil...

pasundan law fair 2026

Pasundan Law Fair 2026 Sukses Digelar, Ajang Nasional Adu Gagasan dan Kompetensi Mahasiswa Hukum

16 April 2026
harga plastik

Kenaikan Harga Plastik Picu Penurunan Sampah di Kota Cimahi

16 April 2026
Agus Sutisna

Agus Sutisna Ditemukan Tewas Setelah Terjun Selamatkan Siswi Hanyut

16 April 2026
remaja hanyut

Remaja Tewas Hanyut di Sungai Cibanjaran, Penolong Masih Hilang

16 April 2026

Highlights

Agus Sutisna Ditemukan Tewas Setelah Terjun Selamatkan Siswi Hanyut

Remaja Tewas Hanyut di Sungai Cibanjaran, Penolong Masih Hilang

BMKG Ingatkan Potensi Cuaca Ekstrem di Sumatra hingga Jawa

Rektorat Unpad Nonaktifkan Dosen Diduga Terlibat Kekerasan Seksual, Dan Lakukan Investigasi

Transformasi RS Rajawali, Primaya Perkuat Layanan Medis Modern di Bandung

Kenalan Lewat Game Online Siswi SMP di Bandung Barat Diculik Remaja

PASJABAR

© 2018 www.pasjabar.com

Navigate Site

  • REDAKSI
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Alamat Redaksi & Iklan

Follow Us

No Result
View All Result
  • PASJABAR
  • PASBANDUNG
  • PASPENDIDIKAN
  • PASKREATIF
  • PASNUSANTARA
  • PASBISNIS
  • PASHIBURAN
  • PASOLAHRAGA
  • CAHAYA PASUNDAN
  • RUANG OPINI

© 2018 www.pasjabar.com

This website uses cookies. By continuing to use this website you are giving consent to cookies being used. Visit our Privacy and Cookie Policy.