CLOSE ADS
CLOSE ADS
PASJABAR
Kamis, 8 Januari 2026
  • PASJABAR
  • PASBANDUNG
  • PASPENDIDIKAN
  • PASKREATIF
  • PASNUSANTARA
  • PASBISNIS
  • PASHIBURAN
  • PASOLAHRAGA
  • CAHAYA PASUNDAN
  • RUANG OPINI
  • PASJABAR
  • PASBANDUNG
  • PASPENDIDIKAN
  • PASKREATIF
  • PASNUSANTARA
  • PASBISNIS
  • PASHIBURAN
  • PASOLAHRAGA
  • CAHAYA PASUNDAN
  • RUANG OPINI
No Result
View All Result
PASJABAR
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home HEADLINE

Sungai sebagai Penyangga Kehidupan: Saatnya Bertindak Lawan Sampah Plastik dan Krisis Ekologi

Hanna Hanifah
29 Juli 2025
Krisis Sungai

ilustrasi. (foto: istockphoto)

Share on FacebookShare on Twitter
ADVERTISEMENT
Dolly Priatna, Pengajar Program Studi Manajemen Lingkungan Universitas Pakuan / Anggota IUCN Commission on Ecosystem Management / Direktur Eksekutif Belantara Foundation

Oleh:  Dolly Priatna, Pengajar Program Studi Manajemen Lingkungan Universitas Pakuan / Anggota IUCN Commission on Ecosystem Management / Direktur Eksekutif Belantara Foundation (Sungai sebagai Penyangga Kehidupan: Lawan Sampah Plastik dan Krisis Ekologi)

WWW.PASJABAR.COM – Sungai-sungai di Indonesia lebih dari sekadar air yang mengalir; sungai adalah urat nadi kehidupan. Yang menopang tatanan sosial-ekonomi dan ekologi masyarakat perkotaan maupun pedesaan. Fungsinya lebih dari sekadar irigasi dan transportasi—sungai menyediakan mata pencaharian. Memperkuat ikatan sosial, serta mendukung keanekaragaman hayati yang kaya. Namun saat ini, jalur kehidupan ini terancam oleh krisis polusi plastik yang semakin meningkat. Dan degradasi lingkungan yang lebih luas.

Di seluruh Indonesia, sungai-sungai seperti Citarum di Jawa Barat dan Musi di Sumatera Selatan mengalami pencemaran akibat campuran limbah beracun. Data dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Indonesia (2023) mengungkapkan bahwa 80% pencemaran plastik laut berasal dari sumber di daratan. Dengan sungai berperan sebagai saluran yang membawa sekitar 0,27–0,59 juta ton sampah plastik setiap tahunnya ke laut. Sungai Brantas, misalnya, telah mencatat konsentrasi mikroplastik setinggi 30 partikel per liter, yang tidak hanya mengancam kehidupan akuatik. Tetapi juga kesehatan manusia melalui sumber air yang terkontaminasi.

Krisis ini tidak berhenti pada polusi. Ekosistem sungai di Indonesia—terutama daerah riparian dan lahan basah—kehilangan keanekaragaman hayati pada tingkat yang mengkhawatirkan. IUCN (2022) menggolongkan beberapa spesies yang bergantung pada air tawar di Indonesia sebagai terancam. Termasuk kukang jawa (Nycticebus javanicus) dan berbagai spesies ikan endemik. Fragmentasi habitat, konversi lahan, dan polusi air merupakan penyebab utama. Di Sumatra, alih fungsi lahan gambut menjadi perkebunan telah sangat mengurangi kadar oksigen terlarut di sungai. Sehingga membahayakan organisme akuatik. Di Sulawesi, penambangan emas yang tidak diatur telah menyuntikkan logam berat ke dalam sistem sungai. Membahayakan keanekaragaman hayati dan masyarakat yang bergantung pada perairan tersebut. (Krisis Sungai)

Baca juga:   Djanur Sering Jadi Mimpi Buruk Persib, Begini Respon Robert Alberts

Kerusakan Ekologi Ancam Ekonomi

Kerusakan ekologi ini juga menimbulkan ancaman ekonomi. Sungai memainkan peran penting dalam mendukung perekonomian lokal. Melalui perikanan, pertanian, dan pariwisata berbasis sungai. Di tempat-tempat seperti Desa Temulus, Jawa Timur, pariwisata sungai berkelanjutan telah muncul sebagai penggerak pembangunan ekonomi berbasis masyarakat. Sungai-sungai perkotaan mendukung perikanan dan pertanian skala kecil, yang seringkali menyediakan jaring pengaman penting bagi masyarakat miskin. Namun, seiring menurunnya kualitas sungai, peluang-peluang ini pun ikut menurun. Yang memperkuat siklus kemiskinan dan kerusakan ekologi.

Secara budaya, sungai lebih dari sekadar fungsional—mereka adalah fondasi. Bantaran sungai di kota-kota seperti Yogyakarta berfungsi sebagai ruang komunal untuk rekreasi, festival, dan aktivisme lingkungan. Upaya restorasi sungai berbasis masyarakat di Jawa telah menunjukkan bahwa keterlibatan lokal dapat mengurangi kemiskinan dan memperkuat ikatan sosial. Namun, gerakan akar rumput ini membutuhkan dukungan kebijakan, pendanaan, dan partisipasi publik yang lebih luas agar dapat berkembang.

Baca juga:   Sejak Pandemi Partisipasi Anak Mengikuti PAUD Turun

Secara ekologis, sungai dan lahan basahnya mengatur kualitas air, menyaring polutan, dan mengendalikan banjir. Vegetasi riparian berperan sebagai penyangga, memerangkap sedimen, dan menstabilkan bantaran sungai. Layanan ini sangat penting dalam mitigasi dampak perubahan iklim, terutama di negara yang rentan terhadap kekeringan dan banjir.

Tekanan Semakin Meningkat

Namun, tekanan terhadap sungai-sungai di Indonesia semakin meningkat. Faktor-faktor antropogenik—seperti alih fungsi lahan, pembangunan bendungan, deforestasi, limbah industri, dan pertanian yang tidak berkelanjutan—terus menurunkan kesehatan sungai. Urbanisasi di Jawa, misalnya, telah mengganggu beban sedimen alami dan mengubah aliran sungai. Di banyak daerah, plastik kini menjadi bagian pemandangan yang umum terlihat di sepanjang aliran sungai. Misalnya Sungai Brantas di Jawa Timur. Menurut laporan ECOTON tahun 2022 diperkirakan membawa hampir 400.000 potong sampah plastik setiap hari.

Untuk membalikkan arah ini, Indonesia harus segera mengadopsi strategi pengelolaan daerah aliran sungai terpadu. Strategi ini harus menggabungkan kerja sama hulu-hilir, partisipasi masyarakat. Dan penegakan hukum pembuangan limbah yang lebih ketat. Yang tak kalah pentingnya adalah memperkuat inisiatif ekonomi sirkular—seperti program pembelian kembali plastik dan skema tanggung jawab produsen yang diperluas (EPR)— yang dapat mengurangi volume sampah plastik yang masuk ke sistem sungai sejak awal.

Baca juga:   Belantara Learning Series: Sampah Harus Dikelola, Bukan Dibuang

Lebih lanjut, mengurangi tekanan pada sungai membutuhkan penataan ulang pembangunan perkotaan dan pedesaan. Hal ini mencakup pembuatan zona penyangga riparian, pemulihan lahan basah yang terdegradasi, serta dukungan terhadap mata pencaharian alternatif yang bergantung pada sungai yang sehat—seperti ekowisata, akuakultur berbasis masyarakat, dan agroforestri di tepi sungai. (Krisis Sungai)

Sungai Sebagai Penopang Kehidupan

Sungai-sungai di Indonesia telah lama menopang kehidupan, mata pencaharian, dan identitas lokal. Semoga Hari Sungai Nasional tahun ini, yang diperingat setiap tanggal 27 Juli tidak hanya menjadi peringatan. Tetapi juga sebagai seruan untuk bertindak. Sejalan dengan tema Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2025, “Mengakhiri Polusi Plastik”, sekaranglah saatnya untuk berkomitmen pada solusi nyata. Dengan demikian, kita turut memastikan bahwa sungai terus berfungsi sebagai penyangga kehidupan—bukan simbol kelalaian kita. (han)

Print Friendly, PDF & Email
Editor: Hanna Hanifah
Tags: Belantara FoundationDegradasi LingkunganHari Sungai NasionalKrisis EkologiKrisis SungaiPolusi Sampahsungai


Related Posts

Biodiversity Class
HEADLINE

Belantara Foundation Gelar Biodiversity Class Dorong Pelestarian Satwa Perkotaan

23 Desember 2025
Belantara Foundation
PASNUSANTARA

Belantara Foundation Gelar Seminar Internasional tentang Mangrove dan Karbon Biru

25 November 2025
gajah sumatra
HEADLINE

Belantara Foundation dan Universitas Pakuan Dorong Koeksistensi Manusia-Gajah Sumatra

21 Oktober 2025

Categories

  • CAHAYA PASUNDAN
  • HEADLINE
  • PASBANDUNG
  • PASBISNIS
  • PASBUDAYA
  • PASDUNIA
  • PASFINANSIAL
  • PASGALERI
  • PASHIBURAN
  • PASJABAR
  • PASKESEHATAN
  • PASKREATIF
  • PASNUSANTARA
  • PASOLAHRAGA
  • PASPENDIDIKAN
  • PASTV
  • PASVIRAL
  • RUANG OPINI
  • TOKOH
  • Uncategorized
No Result
View All Result

Trending

Ilustrasi Arsenal vs Liverpool. Foto: AFP/Darren Staples.
HEADLINE

Prediksi Arsenal vs Liverpool: Misi Balas Dendam Meriam London di Benteng Emirates

8 Januari 2026

LONDON, WWW.PASJABAR.COM – Panggung Premier League tengah pekan ini akan menyajikan duel panas antara pemuncak klasemen, Arsenal,...

Benjamin Sesko akhiri puasa gol, langsung cetak brace. (Action Images via Reuters/Craig Brough)

Debut Darren Fletcher Diwarnai Drama 4 Gol: Benjamin Sesko Gemilang, Tiang Gawang Gagalkan Kemenangan MU atas Burnley

8 Januari 2026
Barcelona bantai Athletic Club 5-0 di semifinal Piala Super Spanyol 2026. (Getty Images Sport)

Mengamuk di Jeddah: Barcelona Bantai Athletic Club 5-0, Amankan Tiket Final Piala Super Spanyol

8 Januari 2026
Pelatih Como 1907, Cesc Fabregas, saat menangani kubu milik Grup Djarum asal Indonesia tersebut di ajang Liga Italia 2025-2026.(AFP/PIERO CRUCIATTI)

Hattrick Kemenangan di Serie A: Fabregas Ingatkan Como 1907 Jangan Lengah Meski Tembus Papan Atas

8 Januari 2026
baznas jawa barat

Resmi Dibubarkan di Paguyuban Pasundan, Pansel Tuntaskan Pemilihan Pimpinan Baznas Jabar

8 Januari 2026

Highlights

Hattrick Kemenangan di Serie A: Fabregas Ingatkan Como 1907 Jangan Lengah Meski Tembus Papan Atas

Resmi Dibubarkan di Paguyuban Pasundan, Pansel Tuntaskan Pemilihan Pimpinan Baznas Jabar

Pekan Ke-17 Super League Sajikan Duel Panas Persib Kontra Persija

Disney Umumkan Pemeran Utama Live Action “Tangled”

Wali Kota Bandung Tanggapi Keluhan Warga soal Akses Flyover Nurtanio

Kapolda Jabar Pastikan Keamanan Ketat Laga Panas Persib Persija

PASJABAR

© 2018 www.pasjabar.com

Navigate Site

  • REDAKSI
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Alamat Redaksi & Iklan

Follow Us

No Result
View All Result
  • PASJABAR
  • PASBANDUNG
  • PASPENDIDIKAN
  • PASKREATIF
  • PASNUSANTARA
  • PASBISNIS
  • PASHIBURAN
  • PASOLAHRAGA
  • CAHAYA PASUNDAN
  • RUANG OPINI

© 2018 www.pasjabar.com

This website uses cookies. By continuing to use this website you are giving consent to cookies being used. Visit our Privacy and Cookie Policy.