BANDUNG, WWW.PASJABAR.COM— Percakapan tentang makhluk luar angkasa selalu mengundang rasa penasaran. Dalam edisi Buku Kehidupan #6 KamSara bertajuk “UFO sebagai Bagian dari Fenomenologi: Apakah Anda Pernah Diculik Alien?” yang digelar Kamis, (16/10/2025) dua narasumber, M. Reza Wardhana dan Aip (Nebulakidz), mencoba menjelajahi misteri itu lewat sudut pandang ilmiah dan eksistensial. Acara ini dipandu oleh Nadya Gadzali.
Percakapan berawal dari hal sederhana: rasa ingin tahu manusia terhadap sesuatu yang sering dianggap mustahil. Namun bagaimana jika “pengalaman aneh di langit” itu nyata bagi sebagian orang?
Bagi Reza, ketertarikan pada UFO bermula dari kesehariannya sebagai pekerja malam. Sambil bekerja sebagai virtual assistant, ia sering menelusuri laporan-laporan penampakan UFO dan bahkan rutin melakukan “sidak langit” ketika ada indikasi kemunculan benda asing.
Sementara itu, Aip (Nebulakidz) mengenang pengalamannya di masa kecil. Ia pernah menyaksikan sesuatu yang tak bisa dijelaskan dengan logika. Dari sanalah rasa ingin tahunya tumbuh, mendorongnya menekuni dunia astronomi dan fenomena UFO. “Terjun di dunia astronomi dan UFO itu seperti tersesat dengan indah,” ujarnya.
Bagi Reza, menulis adalah cara menyeimbangkan antara imajinasi dan logika. Melalui tulisan, ia belajar memahami pola, keterhubungan peristiwa, serta cara berpikir yang membantunya menelaah fenomena UFO dari perspektif fenomenologis—yakni melihat makna dari pengalaman subjektif manusia.
Namun, mempelajari UFO bukan tanpa tantangan. Reza mengakui, pandangan negatif sering muncul dari mereka yang skeptis. “Yang penting adalah pengalaman itu nyata bagi seseorang,” katanya. “Itu bukan soal pembuktian cepat, tapi soal memahami pengalaman manusia.”
Aip menambahkan, rasa penasaran terhadap hal-hal tak terjelaskan justru menunjukkan kodrat manusia yang selalu ingin tahu.
“Dorongan kognitif itu tertanam dalam diri kita. Itulah yang membuat manusia terus bertahan dan berkembang,” ujarnya.
Istilah “UFO” sendiri kini mulai bergeser menjadi UAP (Unidentified Aerial Phenomena)—sebuah tanda bahwa sains mulai membuka ruang diskusi yang lebih serius. Skeptisisme perlahan bergeser menjadi keingintahuan. Bukti dan validitas kini lebih dihargai dibanding sekadar sensasi.
Setiap kali ada laporan penampakan, baik Reza maupun Nebulakidz selalu meminta video asli untuk verifikasi. “Kami tidak mencari sensasi,” tegas Reza. “Kami ingin memastikan apa yang terlihat benar-benar nyata.”
Pada akhirnya, pembahasan tentang UFO bukan semata tentang siapa yang ada di luar sana. Pertanyaan itu justru berbalik: siapa kita, manusia yang tak pernah berhenti mencari jawaban.
Antara langit dan bumi, manusia selalu berdiri di tengah-tengah—antara logika dan rasa ingin tahu yang tak pernah padam. (tiwi)












