BANDUNG, WWW.PASJABAR.COM— Temu Sejarah kembali menggelar Diskusi Buku #97 dengan membedah novel Cakra Manggilingan: Sandhyakalaning Kahuripan karya Shenawangtri, Kamis (8/1/2026), melalui Zoom. Diskusi ini dimoderatori oleh Lisa Nurjanah dan diikuti peserta dari berbagai daerah.
Novel Cakra Manggilingan mengangkat latar runtuhnya Kerajaan Medang hingga bangkitnya Kerajaan Kahuripan di bawah kepemimpinan Sri Maharaja Rakai Halu Sri Lokeswara Dharmawangsa Airlangga Anantawikramatunggadewa. Dalam diskusi, sejarah tidak hanya dipahami sebagai peristiwa politik, tetapi juga sebagai ruang pergulatan manusia, antara cinta, kekuasaan, dan pilihan hidup.
Melalui tokoh Mahesa, Wira, dan Kirana, novel ini menghadirkan konflik cinta segitiga di tengah perang dan perebutan tahta. Dua saudara harus berdiri di panji kekuasaan yang berbeda, sementara Kirana terjebak di antara darah, batas wilayah, dan ambisi politik.
“Saya ingin menunjukkan bahwa sejarah tidak pernah hitam putih. Di balik perebutan tahta, selalu ada manusia dengan luka, cinta, dan dilema yang tidak sederhana,” ujar Shenawangtri dalam diskusi tersebut.
Ia juga menjelaskan filosofi judul Cakra Manggilingan yang berarti roda kehidupan yang terus berputar. Konsep ini merujuk pada pandangan masyarakat Jawa Kuno tentang waktu sebagai siklus.
“Dalam kepercayaan Jawa Kuno, hidup itu berputar. Ada masa jatuh, ada masa bangkit. Airlangga adalah contoh bagaimana kehancuran bukan akhir, tapi bagian dari perjalanan,” tambahnya.
Moderator diskusi, Lisa Nurjanah, menekankan bahwa kekuatan novel ini terletak pada kemampuannya menjembatani sejarah dan sastra.
“Fiksi di sini tidak mengaburkan fakta, justru membantu pembaca merasakan emosi dan kompleksitas zamannya,” ungkap Lisa.
Diskusi juga membahas struktur novel, mulai dari alur maju, penokohan, setting waktu dan lokasi, hingga makna simbolik setiap bab, dari Mahapralaya hingga Lembayung. Fakta sejarah tentang pembagian Kerajaan Kahuripan menjadi Janggala dan Panjalu turut menjadi perhatian peserta sebagai konteks penting konflik cerita.
Sejumlah nilai reflektif turut disoroti, di antaranya pentingnya keteguhan dalam menghadapi perubahan, peran support system, kesadaran bahwa kekuasaan tidak abadi, serta nilai spiritual dalam menghadapi masa sulit.
“Tanpa fiksi, sejarah hanya akan menjadi deretan fakta. Sastra memberi rasa, makna, dan membuat sejarah lebih dekat dengan manusia hari ini,” tutup Shenawangtri.
Melalui Diskusi Buku #97 ini, Temu Sejarah berupaya menghadirkan ruang dialog antara sejarah, sastra, dan refleksi kemanusiaan. Informasi kegiatan diskusi selanjutnya dapat diikuti melalui akun instagram @temusejarah. (tiwi)












