WWW.PASJABAR.COM – Sutradara Joko Anwar menyebut penjara dalam film terbarunya, Ghost in the Cell, sebagai gambaran kecil dari sistem yang berlaku di masyarakat. Film tersebut diputar dalam program Berlinale Forum, Festival Film Internasional Berlin, Jerman.
Menurut Joko, penjara dalam film itu ibarat ruang sempit yang memadatkan berbagai sistem sosial, mulai dari hierarki kekuasaan, ketakutan, kekerasan, hingga persoalan moralitas. Ia menekankan bahwa meskipun semua orang berada dalam sistem yang sama, tidak semua menghadapi konsekuensi yang setara.
“Meski semua orang terjebak dalam sistem yang sama, tidak semua orang menghadapi konsekuensi yang sama, begitu juga dengan dipenjara,” ujar Joko.
Ia menjelaskan, isu kerusakan lingkungan dan kesenjangan peradilan menjadi bagian penting dalam struktur cerita, bukan sekadar latar belakang. Menurutnya, kengerian yang nyata dalam film justru berasal dari realitas tersebut, bukan hanya dari sosok hantu.
Hantu dan Ketidaknyamanan Moral
Joko menuturkan bahwa karakter hantu dalam film itu tidak dimaksudkan sebagai simbol ide tertentu. Hantu digambarkan sebagai sosok yang memiliki niat, kecerdasan, serta batasan sendiri.
“Hantu tidak pernah dimaksudkan untuk mewakili sebuah ide. Ia memiliki niat, kecerdasan, dan batasan sendiri. Ia memilih korbannya,” kata Joko.
Untuk membangun suasana penjara yang kacau, Joko menyiapkan latar cerita detail bagi setiap karakter, termasuk pemain harian. Para aktor juga diminta berlatih dalam kelompok masing-masing, tanpa mengetahui detail karakter dari kelompok lain, agar muncul rasa curiga dan ketegangan yang nyata.
Ia juga menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara kekerasan, satire, dan komedi dalam film. Menurutnya, komedi justru memperkuat ketegangan, bukan menguranginya.
“Jika penonton tertawa lalu mempertanyakan mengapa mereka tertawa, berarti filmnya berhasil,” ujarnya.
Film Ghost in the Cell diproduksi Come and See Pictures bersama Rapi Films, Barunson E&A, dan Legacy Pictures, serta dibintangi sejumlah aktor ternama seperti Abimana Aryasatya, Lukman Sardi, dan Tora Sudiro. (han)










