CIMAHI, WWW.PASJABAR.COM – Komando Pasukan Khusus (Kopassus) memberikan penghormatan terakhir bagi salah satu putra terbaiknya, Mayor Anumerta Infanteri Zulmi Aditya Iskandar. Prajurit tangguh ini gugur dalam menjalankan tugas mulia sebagai bagian dari misi perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Lebanon Selatan, meninggalkan jejak pengabdian yang mendalam bagi bangsa dan negara.
Kepergian Mayor Zulmi tidak hanya meninggalkan lubang di hati keluarga, tetapi juga di satuan tempatnya bernaung, yakni Batalyon 22 Grup 2 Kopassus. Di mata rekan sejawat dan pimpinannya, almarhum bukan sekadar prajurit biasa, melainkan sosok yang merepresentasikan nilai-nilai luhur seorang komando: disiplin, berani, dan religius.
Sosok Pemimpin yang Melibatkan Tuhan dalam Setiap Langkah
Komandan Batalyon 22 Grup 2 Kopassus, Letkol Infanteri Heri Ismoyo, mengungkapkan rasa kehilangan yang teramat besar atas gugurnya Mayor Zulmi. Menurutnya, almarhum adalah anomali positif di kesatuan karena mampu menyeimbangkan ketegasan militer dengan ketaatan spiritual yang luar biasa. Kualitas inilah yang membuat Zulmi disegani oleh bawahan dan dikagumi oleh para atasan.
Letkol Heri Ismoyo menekankan bahwa setiap tugas yang diamanatkan kepada almarhum, seberat apa pun medannya, selalu diselesaikan dengan hasil yang maksimal. Rahasia di balik keberhasilan tersebut adalah prinsip hidup almarhum yang tidak pernah lepas dari doa. Hal ini menjadi cerminan bahwa kekuatan fisik dan strategi militer tetap harus berjalan beriringan dengan nilai-nilai ketuhanan.
“Sosok almarhum bagi kami adalah sosok terbaik, baik bagi anggotanya bahkan bagi saya selaku komandannya. Beliau adalah prajurit terbaik yang pernah kami punya di Kopassus saat ini. Setiap tugas yang dilakukan selalu berhasil, karena beliau pasti selalu melibatkan Tuhan dalam setiap kegiatan,” ujar Letkol Infanteri Heri Ismoyo dengan nada bangga sekaligus haru, Sabtu (4/4/2026).
Harapan bagi Generasi Penerus Baret Merah
Karier Mayor Zulmi di Grup 2 Kopassus tercatat dengan tinta emas. Dedikasinya dalam misi internasional di Lebanon menjadi bukti bahwa kualitas prajurit TNI, khususnya Kopassus, diakui di level dunia. Keberaniannya berada di garis depan daerah konflik demi menjaga perdamaian dunia merupakan bentuk pengorbanan tertinggi yang bisa diberikan oleh seorang prajurit.
Kini, Mayor Anumerta Zulmi Aditya Iskandar telah beristirahat dengan tenang. Namun, semangat dan integritas yang ia tunjukkan selama 33 tahun usianya diharapkan tidak ikut terkubur. Pihak kesatuan berharap nilai-nilai yang ditinggalkan almarhum dapat diserap oleh para perwira muda lainnya untuk terus menjaga kedaulatan serta nama baik Indonesia di mata internasional.
“Kami di Kopassus sangat merasa kehilangan. Beliau selain terbaik juga rajin ibadah. Saya berharap ke depan akan banyak bermunculan ‘Mayor-Mayor Zulmi’ yang baru di institusi ini,” pungkas Letkol Heri Ismoyo.
Kepergian sang mayor menjadi pengingat bagi seluruh bangsa akan harga sebuah perdamaian yang sering kali harus dibayar dengan nyawa prajurit-prajurit terbaik di medan laga. (fal)












