* bahan baku plastik
BANDUNG, WWW.PASJABAR.COM – Ketegangan geopolitik yang terus memanas antara Iran dan Amerika Serikat kini mulai dirasakan dampaknya secara nyata oleh para pelaku industri di tanah air.
Tak hanya sektor energi, dampak konflik tersebut merembet ke sektor manufaktur, khususnya industri pengolahan plastik di Kota Bandung. Para pengusaha kini mulai menjerit akibat lonjakan harga biji plastik impor yang naik drastis hingga seratus persen dari harga normal.
Kondisi ini terpantau di salah satu sentra industri plastik di kawasan Cibuntu, Kota Bandung.
Konflik yang terjadi di Timur Tengah tersebut telah memicu gangguan pada rantai pasok global dan stabilitas nilai tukar. Yang secara langsung memukul para perajin dan pemilik pabrik plastik lokal yang masih sangat bergantung pada bahan baku impor.
Lonjakan Biaya Operasional dan Harga Jual
Kenaikan harga ini terjadi dalam waktu yang relatif singkat namun dengan skala yang sangat masif. Berdasarkan data di lapangan, harga biji plastik yang sebelumnya berkisar di angka Rp30.000 hingga Rp40.000 per kilogram, saat ini telah menembus angka Rp60.000 per kilogram. Kenaikan sebesar dua kali lipat ini membuat skema pembiayaan operasional pabrik menjadi tidak stabil.
Pihak pengelola pabrik menjelaskan bahwa biaya belanja bahan baku mingguan membengkak luar biasa. Jika biasanya perusahaan cukup merogoh kocek sebesar Rp40 juta untuk mendapatkan dua ton biji plastik. Guna memenuhi kebutuhan produksi selama satu pekan, kini mereka harus menyiapkan dana hingga Rp80 juta untuk jumlah barang yang sama.
Kondisi “tercekik” ini memaksa para pemilik pabrik mengambil langkah pahit dengan menaikkan harga jual produk plastik di tingkat konsumen.
Meski langkah ini berisiko mengurangi volume penjualan, pihak pabrik mengaku tidak memiliki pilihan lain demi menjaga kelangsungan operasional dan menghindari kebangkrutan di tengah tingginya biaya produksi.
Keluhan Pelaku Usaha dan Harapan Intervensi Pemerintah
Dampak dari kebijakan kenaikan harga jual ini pun mulai terasa pada daya beli pelanggan. Banyak konsumen yang mulai mengeluh dan secara drastis mengurangi kuantitas pembelian mereka. Hal ini menciptakan dilema bagi industri manufaktur plastik; di satu sisi biaya produksi melambung, di sisi lain pasar mulai lesu.
Riska, salah seorang pegawai di pabrik plastik kawasan Cibuntu, mengungkapkan bahwa situasi ini merupakan salah satu yang terberat bagi industri tempatnya bekerja. Ia menyebutkan bahwa faktor eksternal seperti perang di luar negeri seharusnya bisa diantisipasi dampaknya oleh pemangku kebijakan di dalam negeri.
“Dampak konflik perang antara Iran dan Amerika Serikat ini ternyata berdampak besar sekali kepada seluruh sektor, termasuk kami di produksi plastik. Kami sangat merasakan kenaikan biaya bahan baku yang tidak masuk akal ini,” ujar Riska saat ditemui di lokasi produksi.
Lebih lanjut, Riska mewakili rekan sejawat dan para pelaku usaha berharap agar pemerintah tidak tinggal diam melihat kondisi ini.
Masyarakat industri berharap ada tindakan nyata. Baik melalui kebijakan impor maupun subsidi tertentu, untuk menekan harga bahan baku produksi yang kian tidak terkendali. Tanpa adanya intervensi dari pemerintah, dikhawatirkan akan banyak pabrik plastik skala kecil dan menengah. Yang terpaksa gulung tikar akibat kehilangan margin keuntungan dan ditinggalkan oleh konsumen mereka. (uby)









