BANDUNG, WWW.PASJABAR.COM— Pemerintah Kota Bandung melalui Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPKP) meningkatkan upaya mitigasi risiko pohon tumbang seiring datangnya musim pancaroba. Langkah ini dilakukan menyusul tingginya potensi angin kencang yang dapat memicu kejadian serupa di berbagai titik kota.
Kepala DPKP Kota Bandung, Luthfi Firdaus, mengatakan bahwa periode Maret hingga April memang menjadi fase rawan terjadinya pohon tumbang. Perubahan suhu dan cuaca ekstrem pada masa peralihan musim kerap memicu angin kencang yang berisiko merobohkan pepohonan.
“Secara pola, setiap tahun di bulan-bulan pancaroba seperti ini memang sering terjadi kejadian pohon tumbang akibat angin,” ujar Luthfi dalam siaran kolaborasi Radio Sonata dan PR FM, Kamis (9/4/2026).
Menurut dia, DPKP sebenarnya telah melakukan langkah mitigasi sejak awal, di antaranya pemangkasan atau trimming terhadap pohon-pohon yang dinilai berisiko. Kegiatan ini dilakukan secara kolaboratif bersama sejumlah perangkat daerah, seperti BPBD, Dinas Sumber Daya Air dan Bina Marga (DSDABM), serta Dinas Perhubungan.
Berdasarkan pendataan, terdapat sekitar 65 ribu pohon yang tersebar di 400 ruas jalan di Kota Bandung. Dari jumlah tersebut, tidak semua pohon dalam kondisi rentan. Bahkan, Luthfi mengungkapkan bahwa sebagian besar pohon yang tumbang saat kejadian angin kencang beberapa waktu lalu justru berada dalam kondisi sehat.
“Sekitar 60 sampai 70 persen pohon yang tumbang itu sebenarnya dalam kondisi sehat. Ini menunjukkan bahwa faktor alam, terutama angin kencang, sangat berpengaruh,” katanya.
Ia menambahkan, berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), kecepatan angin saat kejadian pada awal April mencapai 60 hingga 75 kilometer per jam. Kondisi tersebut dinilai cukup ekstrem dan mampu merobohkan pohon, bahkan yang memiliki struktur kuat sekalipun.
Lebih lanjut, Luthfi menjelaskan bahwa penyebab pohon tumbang tidak hanya berasal dari faktor usia atau kesehatan pohon. Faktor lain seperti kondisi perakaran, keterbatasan ruang tumbuh akibat infrastruktur trotoar, hingga tekanan lingkungan juga turut memengaruhi stabilitas pohon.
Untuk memperkuat mitigasi, DPKP menambah jumlah tim pemantau di lapangan. Pada 2026, jumlah tim ditingkatkan dari empat menjadi lima kelompok, dengan total sekitar 50 personel. Tim ini bertugas melakukan monitoring rutin terhadap kondisi pohon di berbagai wilayah.
Selain itu, Pemkot Bandung juga berencana membentuk satuan tugas (satgas) khusus yang melibatkan lintas dinas guna mempercepat penanganan dan pencegahan pohon tumbang.
“Kolaborasi ini penting karena kami tidak bisa bekerja sendiri. Dengan dukungan berbagai pihak, penanganan di lapangan bisa lebih cepat dan efektif,” ujar Luthfi.
Ke depan, DPKP juga akan mengembangkan basis data pohon yang lebih komprehensif untuk memantau kondisi sekitar 66 ribu pohon di seluruh ruas jalan kota. Data tersebut diharapkan dapat menjadi dasar dalam pengambilan kebijakan penanganan pohon secara lebih tepat.
Di sisi lain, masyarakat diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama saat terjadi hujan deras disertai angin kencang. Warga disarankan menghindari berteduh di bawah pohon besar dan mencari tempat yang lebih aman.
“Kesadaran masyarakat juga penting. Saat cuaca ekstrem, sebaiknya hindari area terbuka yang dekat dengan pohon besar,” katanya.
Dengan kombinasi mitigasi teknis dan partisipasi masyarakat, Pemerintah Kota Bandung berharap risiko pohon tumbang dapat ditekan, sekaligus menjaga keseimbangan antara keberadaan ruang hijau dan keselamatan warga. (tiwi)












