• Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber
  • Alamat Redaksi & Iklan
Minggu, Mei 10, 2026
  • Login
PASJABAR
  • BERANDA
  • PASBANDUNG
  • PASJABAR
  • PASNUSANTARA
  • PASDUNIA
  • PASPENDIDIKAN
  • PASKESEHATAN
  • PASFINANSIAL
  • PASOLAHRAGA
  • PASHIBURAN
  • PASVIRAL
  • RUANG OPINI
No Result
View All Result
  • BERANDA
  • PASBANDUNG
  • PASJABAR
  • PASNUSANTARA
  • PASDUNIA
  • PASPENDIDIKAN
  • PASKESEHATAN
  • PASFINANSIAL
  • PASOLAHRAGA
  • PASHIBURAN
  • PASVIRAL
  • RUANG OPINI
No Result
View All Result
PASJABAR
No Result
View All Result
Home HEADLINE

Negeri Segudang Seruan

Reading Time: 4 mins read
A A
Negeri Segudang Seruan

ilustrasi. (foto: istockphoto)

Share on FacebookShare on Twitter
Penulis: admin
Dipublikasikan: Selasa. 14 April 2026 - 09:00 WIB
OPini Firdaus Arifin Berburu Kursi
Dosen Yayasan Pendidikan Tinggi Pasundan Dpk FH UNPAS, Firdaus Arifin. (foto: pasjabar)

Oleh: Firdaus Arifin, Dosen FH Unpas & Sekretaris APHTN HAN Jawa Barat (Negeri Segudang Seruan)

WWW.PASJABAR.COM – Pada suatu pagi yang tak benar-benar sunyi, kita mendengar lagi suara-suara itu. Ia datang dari layar yang kita genggam, dari mimbar yang ditinggikan, dari ruang-ruang yang dipenuhi tepuk tangan. Seruan demi seruan dilontarkan—tentang moral, tentang bangsa, tentang apa yang seharusnya dilakukan oleh orang lain. Kita hidup dalam banjir kata-kata. Kata yang mendesak, kata yang menghakimi, kata yang mengajak, bahkan kata yang mengutuk.

Namun, di tengah keramaian itu, ada sesuatu yang terasa absen. Ia tidak berteriak, tidak memaksa, tidak meminta panggung. Ia berjalan pelan, hampir tak terdengar. Itulah teladan.

Barangkali kita sedang berada di sebuah negeri yang terlalu percaya pada suara, tetapi mulai kehilangan kepercayaan pada laku. Kita terpesona pada retorika, tetapi ragu pada praktik. Kita memuja kata-kata yang indah, tetapi abai pada tindakan yang sederhana.

Seruan memiliki kekuatan. Ia bisa menggerakkan massa, membentuk opini, bahkan menjatuhkan kekuasaan. Dalam sejarah, kita menemukan banyak momen ketika seruan menjadi titik balik: pekik kemerdekaan, tuntutan reformasi, panggilan untuk perubahan. Seruan adalah energi.

Tetapi energi, tanpa arah yang jelas, bisa menjadi kebisingan.

Di negeri ini, seruan tampaknya tidak pernah berhenti. Setiap peristiwa melahirkan reaksi. Setiap kebijakan memantik komentar. Setiap kesalahan segera dibalas dengan tuntutan. Kita seperti hidup dalam sebuah ruang gema—di mana suara berulang, membesar, dan sering kali kehilangan asalnya.

Dalam ruang seperti itu, kita jarang bertanya: setelah seruan itu dilontarkan, apa yang berubah?

Teladan bekerja dengan cara yang berbeda. Ia tidak datang sebagai perintah, melainkan sebagai kemungkinan. Ia tidak memaksa, tetapi mengundang. Ia tidak memerlukan pengeras suara, sebab ia berbicara melalui konsistensi.

Namun justru karena itu, teladan sering kali kalah cepat.

Dalam dunia yang bergerak serba instan, kita lebih mudah tergerak oleh yang segera tampak. Seruan menawarkan kepuasan cepat—kita merasa telah berbuat sesuatu hanya dengan menyatakan sikap. Teladan, sebaliknya, menuntut kesabaran. Ia memerlukan waktu, bahkan sering kali tidak memberikan hasil yang langsung terlihat. (Negeri Segudang Seruan)

Maka tak heran jika kita lebih memilih berseru daripada menjadi contoh.

Di ruang publik kita, moralitas sering hadir sebagai kata. Ia diucapkan dengan lantang, dipajang dalam slogan, diulang dalam berbagai kesempatan. Tetapi ketika kita melihat lebih dekat, kita menemukan jarak yang menganga antara kata dan tindakan.

Kita mendengar seruan tentang kejujuran, tetapi menyaksikan praktik yang tak sepenuhnya jujur. Kita mendengar ajakan untuk sederhana, tetapi melihat gaya hidup yang berlebihan. Kita mendengar pentingnya tanggung jawab, tetapi jarang melihatnya diwujudkan secara utuh.

Di sinilah paradoks itu muncul: semakin sering moral diucapkan, semakin terasa ia tidak hadir.

Barangkali ini bukan soal kemunafikan semata, melainkan gejala yang lebih dalam. Kita telah terbiasa memisahkan kata dari laku. Kita menganggap bahwa mengatakan sesuatu sudah cukup, tanpa perlu benar-benar menjalaninya.

Seorang pemikir pernah mengatakan bahwa manusia belajar bukan hanya dari apa yang dia dengar, tetapi dari apa yang dia lihat. Dalam pengertian ini, teladan adalah pendidikan yang paling efektif. Ia tidak membutuhkan argumentasi panjang. Ia cukup hadir.

Namun, teladan juga menuntut sesuatu yang tidak mudah: integritas.

Integritas bukan sekadar kesesuaian antara kata dan tindakan, tetapi juga kesediaan untuk mempertahankan kesesuaian itu dalam berbagai situasi. Ia diuji ketika tidak ada yang melihat, ketika tidak ada yang memberi penghargaan, ketika ada godaan untuk menyimpang.

Dan di sinilah banyak orang goyah. Sebab integritas tidak menawarkan keuntungan instan. Ia bahkan sering kali menuntut pengorbanan.

Kita hidup dalam zaman di mana pengakuan menjadi sesuatu yang penting. Apa yang tidak terlihat, seolah tidak ada. Apa yang tidak dibicarakan, seolah tidak berarti. Dalam logika seperti ini, teladan yang bekerja dalam diam menjadi tidak menarik.

Media, dengan segala kecepatannya, memperkuat kecenderungan ini. Ia memilih yang dramatis, yang kontroversial, yang memancing emosi. Seruan, dengan sifatnya yang tegas dan sering kali provokatif, lebih mudah memenuhi kriteria itu. Teladan, yang sunyi dan berulang, sulit bersaing.

Akibatnya, ruang publik kita dipenuhi oleh suara, tetapi miskin contoh. (Negeri Segudang Seruan)

⸻

Namun, kita tidak sepenuhnya kehilangan teladan. Ia masih ada—meski tidak selalu terlihat.

Ia ada dalam sosok yang memilih jujur ketika berbohong lebih menguntungkan. Ia ada dalam mereka yang tetap bekerja dengan baik meski tidak diawasi. Ia ada dalam keputusan-keputusan kecil yang tidak pernah menjadi berita, tetapi menentukan arah hidup seseorang.

Teladan seperti ini tidak spektakuler. Ia tidak mengundang tepuk tangan. Tetapi justru di situlah letak kekuatannya. Ia tidak bergantung pada pengakuan.

Dalam diamnya, ia membentuk.

Barangkali masalah kita bukan karena terlalu banyak orang yang berseru, tetapi karena terlalu sedikit yang bersedia menjadi contoh. Kita lebih nyaman berada di posisi pengamat—mengomentari, mengkritik, menilai—daripada mengambil risiko untuk menjalani apa yang kita katakan.

Padahal, perubahan tidak selalu dimulai dari seruan besar. Ia sering kali dimulai dari tindakan kecil yang konsisten.

Seorang yang memilih untuk tidak korupsi, meski ada kesempatan. Seorang yang menolak menyalahgunakan wewenang, meski tidak ada yang mengawasi. Seorang yang tetap memegang prinsip, meski harus menanggung konsekuensi.

Tindakan-tindakan seperti itu mungkin tidak mengubah dunia dalam sekejap. Tetapi ia menciptakan kemungkinan—bahwa hal yang benar masih bisa dilakukan.

Di negeri segudang seruan ini, kita mungkin perlu belajar kembali tentang arti keheningan. Bukan keheningan yang pasif, tetapi keheningan yang reflektif. Keheningan yang memberi ruang bagi kita untuk bertanya: apakah yang kita katakan sudah kita jalani?

Pertanyaan itu sederhana, tetapi tidak selalu nyaman. Ia menuntut kejujuran pada diri sendiri. Ia membuka kemungkinan bahwa kita belum sepenuhnya konsisten. (Negeri Segudang Seruan)

Namun justru dari sanalah teladan bisa lahir.

Teladan tidak dimulai dari kesempurnaan, melainkan dari kesadaran. Kesadaran bahwa kata-kata memiliki konsekuensi, bahwa setiap seruan membawa tanggung jawab.

Akhirnya, kita sampai pada sebuah pilihan.

Kita bisa terus hidup dalam kebisingan seruan—menambah suara, memperkuat gema, dan berharap sesuatu akan berubah. Atau kita bisa memilih jalan yang lebih sunyi: menjadi teladan, meski kecil, meski tak terlihat.

Pilihan kedua mungkin tidak menarik. Ia tidak memberi sensasi. Ia tidak menjanjikan popularitas. Tetapi ia memiliki sesuatu yang lebih dalam: kejujuran.

Dan mungkin, dalam jangka panjang, kejujuran itulah yang dibutuhkan oleh negeri ini.

Seruan akan selalu ada. Ia bagian dari kehidupan publik. Ia tidak perlu dihilangkan.

Tetapi tanpa teladan, seruan akan kehilangan makna. Ia menjadi sekadar suara—datang dan pergi, tanpa jejak yang berarti.

Teladan, sebaliknya, meninggalkan sesuatu yang lebih tahan lama. Ia tidak hanya didengar, tetapi diingat. Ia tidak hanya menggerakkan, tetapi membentuk.

Di antara keduanya, kita mungkin perlu memilih keseimbangan. Berseru ketika perlu, tetapi lebih dari itu, menjadi.

Sebab pada akhirnya, negeri ini tidak hanya membutuhkan suara yang lantang, tetapi juga langkah yang jujur. Dan dari langkah-langkah itulah, mungkin, kita bisa perlahan keluar dari kebisingan—menuju sesuatu yang lebih bermakna. (han)

Disclaimer

Informasi dalam artikel ini disajikan untuk tujuan informasi umum. Redaksi Pasjabar berupaya menyajikan data yang akurat dan terkini, namun tidak menjamin kelengkapan dan keakuratan sepenuhnya.

Pembaca diharapkan melakukan verifikasi tambahan sebelum mengambil keputusan berdasarkan informasi ini. Segala risiko yang timbul dari penggunaan informasi menjadi tanggung jawab pembaca.

Jika terdapat kekeliruan atau ingin mengajukan hak jawab, silakan kunjungi halaman: Disclaimer .

Tags: NegeriNegeri Segudang SeruanOpinipasundan
admin

admin

Related Posts

Raudhah Madinah
HEADLINE

Saat Hati Bertamu ke Raudhah

Sabtu. 9 Mei 2026 - 19:12
Penutupan Prodi Keguruan
HEADLINE

LLDIKTI IV Warning Kampus, Unpas Pastikan Prodi Tetap Aman

Sabtu. 9 Mei 2026 - 17:44
PAD Kota Bandung
HEADLINE

Dorong Kreativitas PAD, DPRD Minta Rekomendasi LKPJ Masuk RKPD 2027

Sabtu. 9 Mei 2026 - 17:20
Next Post
Pascasarjana Unpas

Anthon Fathanudien Raih Gelar Doktor Ilmu Hukum Pascasarjana Unpas, Bahas Hak Cipta Batik

Pascasarjana Unpas

Didi Tasidi Raih Gelar Doktor Ilmu Hukum Pascasarjana Unpas, Bahas Penipuan Investasi

penculikan anak

Viral Dugaan Penculikan Anak di Bandung Barat, Pelaku Ditangkap

Recommended

Surat Perintah Baru untuk Menangkap Presiden Korsel

Surat Perintah Baru untuk Menangkap Presiden Korsel

1 tahun ago
persib bandung

Hanya Butuh 3 Poin untuk Persib Bandung Juara Lagi

1 tahun ago
Persib Bandung

Momentum Persib Bandung Menciptakan Keajaiban di GBLA

3 bulan ago

OpenAI Rilis GPT-5.5 Instant, Fokus pada Akurasi dan Konteks

4 hari ago

Instagram

    Please install/update and activate JNews Instagram plugin.

Categories

  • CAHAYA PASUNDAN
  • HEADLINE
  • PASBANDUNG
  • PASBISNIS
  • PASBUDAYA
  • PASDUNIA
  • PASFINANSIAL
  • PASGALERI
  • PASHIBURAN
  • PASJABAR
  • PASKESEHATAN
  • PASKREATIF
  • PASNUSANTARA
  • PASOLAHRAGA
  • PASPENDIDIKAN
  • PASVIRAL
  • RUANG OPINI
  • TOKOH
  • Uncategorized

Topics

2026 AC Milan Arne Slot arsenal bandung barcelona berita bola BMKG bobotoh bojan hodak bursa transfer Dedi Mulyadi gubernur jawa barat Hasil Bola Hasil Pertandingan inter milan jawa barat KAI Daop 2 Bandung Kualifikasi Piala Dunia 2026 liga champions liga inggris liga italia liverpool Manchester City manchester united Mikel Arteta Opini paguyuban pasundan Pascasarjana Universitas Pasundan pascasarjana unpas Patrick Kluivert pemkot bandung persib persib bandung Piala Dunia 2026 premier League pssi Real Madrid Ruben Amorim sepak bola indonesia Serie A Super League 2025/2026 timnas indonesia universitas pasundan unpas
No Result
View All Result

Highlights

Unpas Tambah 9 Guru Besar, Perkuat Tradisi Akademik Kampus

Sidang Doktor Ade Yusuf Bahas Pengaruh Faktor Teknologi terhadap Penggunaan Bukalapak

Sidang Terbuka Doktor Unpas: Raden Khemal Youwangka Raih Gelar Doktor Ilmu Manajemen

Evaluasi LKPJ Disorot, DPRD Tekankan Rekomendasi untuk Perbaikan RKPD 2027

19 Sekolah di Jawa Barat Resmi Jadi Sekolah Maung 2026, Diterapkan di Tahun Ajaran Baru

Pemkot Bandung Fokuskan PHBS pada Sekolah dan Pola Makan

Trending

Raudhah Madinah
HEADLINE

Saat Hati Bertamu ke Raudhah

by Yatti Chahyati
Sabtu. 9 Mei 2026 - 19:12
0

# Raudhah Madinah Oleh: Firdaus Arifin Dosen FH Unpas, Sekretaris APHTN HAN & Anggota Komisi Ukhwah Islamiyah...

Penutupan Prodi Keguruan

LLDIKTI IV Warning Kampus, Unpas Pastikan Prodi Tetap Aman

Sabtu. 9 Mei 2026 - 17:44
PAD Kota Bandung

Dorong Kreativitas PAD, DPRD Minta Rekomendasi LKPJ Masuk RKPD 2027

Sabtu. 9 Mei 2026 - 17:20
unpas guru besar

Unpas Tambah 9 Guru Besar, Perkuat Tradisi Akademik Kampus

Sabtu. 9 Mei 2026 - 16:41
Sidang Doktor Ade Yusuf

Sidang Doktor Ade Yusuf Bahas Pengaruh Faktor Teknologi terhadap Penggunaan Bukalapak

Sabtu. 9 Mei 2026 - 13:49
PASJABAR

ww.pasjabar.com adalah media berita online yang menyajikan beragam informasi penting dan menarik di skala lokal, regional, nasional dan internasional. www.pasjabar.com juga hadir melalui tayangan berita video yang dapat disaksikan di channel youtube pastv. Pas Jabar - Pas untuk kita semua.

Recent News

  • Saat Hati Bertamu ke Raudhah Sabtu. 9 Mei 2026 - 19:12
  • LLDIKTI IV Warning Kampus, Unpas Pastikan Prodi Tetap Aman Sabtu. 9 Mei 2026 - 17:44
  • Dorong Kreativitas PAD, DPRD Minta Rekomendasi LKPJ Masuk RKPD 2027 Sabtu. 9 Mei 2026 - 17:20

Kategori

  • CAHAYA PASUNDAN
  • HEADLINE
  • PASBANDUNG
  • PASBISNIS
  • PASBUDAYA
  • PASDUNIA
  • PASFINANSIAL
  • PASGALERI
  • PASHIBURAN
  • PASJABAR
  • PASKESEHATAN
  • PASKREATIF
  • PASNUSANTARA
  • PASOLAHRAGA
  • PASPENDIDIKAN
  • PASVIRAL
  • RUANG OPINI
  • TOKOH
  • Uncategorized

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Powered by
►
Necessary cookies enable essential site features like secure log-ins and consent preference adjustments. They do not store personal data.
None
►
Functional cookies support features like content sharing on social media, collecting feedback, and enabling third-party tools.
None
►
Analytical cookies track visitor interactions, providing insights on metrics like visitor count, bounce rate, and traffic sources.
None
►
Advertisement cookies deliver personalized ads based on your previous visits and analyze the effectiveness of ad campaigns.
None
►
Unclassified cookies are cookies that we are in the process of classifying, together with the providers of individual cookies.
None
Powered by
No Result
View All Result
  • BERANDA
  • PASBANDUNG
  • PASJABAR
  • PASNUSANTARA
  • PASDUNIA
  • PASPENDIDIKAN
  • PASKESEHATAN
  • PASFINANSIAL
  • PASOLAHRAGA
  • PASHIBURAN
  • PASVIRAL
  • RUANG OPINI

© 2026 PASJABAR