
Oleh: Prof. Dr. H. Yaya Mulyana Abdul Azis, M.Si, Wakil Direktur I Bidang Akademik Pascasarjana Unpas (Pesan Moral dan Sosial Ibadah Puasa)
WWW.PASJABAR.COM – Sangat jelas bahwa puasa Ramadhan tidak hanya dimaksudkan untuk meningkatkan ritual ibadah semata. Salah satu bukti kuatnya adalah peringatan Rasulullah tentang seseorang yang masih terus berkata dusta, mengucapkan perkataan bohong. Serta melakukan perbuatan yang menyakiti sesama, maka puasanya tidak bernilai di hadapan Allah. Dalam salah satu hadisnya, Nabi bersabda:
Artinya, “Barang siapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta, mengamalkannya, dan perbuatan bodoh (yang menyakiti), maka Allah tidak membutuhkan ia meninggalkan makan dan minumnya (puasanya).” (HR. Bukhari).
Oleh karena itu, puasa di bulan Ramadhan tidak hanya tentang peningkatan ibadah spiritual semata. Tetapi juga tentang peningkatan kesalehan sosial. Kita tidak hanya dituntut untuk rajin shalat, membaca Al-Qur’an, dan berzikir. Tetapi juga dituntut untuk peduli terhadap sesama, membantu orang yang kesusahan, menyantuni anak yatim, menjenguk orang sakit, dan berbuat baik kepada tetangga.
Spirit kesalehan sosial ini pada hakikatnya telah ditegaskan dalam Al-Qur’an bahwa Allah tidak menjadikan ukuran kebaikan dan ketakwaan hanya pada simbol-simbol ritual semata. Tetapi juga pada sejauh mana ketakwaan itu melahirkan kepedulian sosial yang nyata. Allah berfirman:
(Pesan Moral dan Sosial Ibadah Puasa)
Artinya, “Kebajikan itu bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat, melainkan kebajikan itu ialah (kebajikan) orang yang beriman kepada Allah, hari Akhir, malaikat-malaikat, kitab suci, dan nabi-nabi; memberikan harta yang dicintainya kepada kerabat, anak yatim, orang miskin, musafir, peminta-minta, dan (memerdekakan) hamba sahaya; melaksanakan salat; menunaikan zakat; menepati janji apabila berjanji; sabar dalam kemelaratan, penderitaan, dan pada masa peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 177).
Selain itu, puasa juga merupakan madrasah kehidupan yang menumbuhkan kepekaan sosial. Rasa lapar yang kita rasakan hendaknya menyadarkan kita betapa beratnya perjuangan saudara-saudara yang hidup dalam kekurangan setiap hari. Dari kesadaran itu, lahirlah kepedulian nyata, misalnya dengan berbagi takjil atau membantu mereka yang membutuhkan.
Oleh karena itu, setelah kita merasakan lapar dan dahaga di siang hari Ramadhan, jangan biarkan rasa itu berlalu begitu saja. Jadikan ia sebagai pengingat akan saudara-saudara kita yang kurang beruntung, yang setiap hari harus berjuang untuk mendapatkan sesuap nasi, lalu wujudkan kepedulian itu dalam tindakan nyata.
Pesan Moral dan Sosial
Dengan demikian, puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga dari terbit fajar hingga terbenam matahari. Di baliknya terdapat filosofi mendalam yang mencakup transformasi spiritual (moral) dan penguatan ikatan kemanusiaan (sosial).
Pesan moral dari ibadah puasa di antaranya adalah pengendalian diri dan ketakwaan. Pesan moral utama dari puasa adalah tazkiyatun nafs (penyucian jiwa). Puasa melatih seseorang untuk menguasai nafsunya, bukan dikuasai oleh nafsu. Puncak moralitas adalah takwa. Tujuan akhir puasa secara eksplisit disebutkan dalam Al-Qur’an untuk membentuk karakter yang bertakwa: “Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183).
Di samping itu, ibadah puasa adalah ibadah “rahasia” yang menuntut pelakunya bersikap jujur dan penuh integritas. Seseorang bisa saja makan sembunyi-sembunyi, tetapi ia tidak melakukannya karena merasa diawasi oleh Allah (muraqabah). Rasulullah SAW menekankan bahwa puasa kehilangan esensinya jika tidak disertai perbaikan akhlak: “Barang siapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan malah melakukannya, maka Allah tidak butuh dari rasa lapar dan haus yang dia tahan.” (HR. Bukhari).
(Pesan Moral dan Sosial Ibadah Puasa)
Selanjutnya, ibadah puasa juga mengandung pesan sosial seperti empati dan solidaritas. Secara sosial, puasa meruntuhkan sekat antara si kaya dan si miskin. Ibadah ini adalah latihan kolektif untuk merasakan penderitaan sesama.
Puasa berperan membangun rasa empati. Dengan merasakan lapar, seorang muslim diajak memahami secara fisik penderitaan mereka yang kurang beruntung. Ini mengubah simpati (sekadar kasihan) menjadi empati (ikut merasakan).
Kedermawanan pun berlipat ganda. Nabi Muhammad SAW adalah orang yang paling dermawan, dan kedermawanannya mencapai puncaknya di bulan Ramadhan. “Rasulullah SAW adalah orang yang paling dermawan, dan beliau lebih dermawan lagi di bulan Ramadhan…” (HR. Bukhari dan Muslim).
Puasa juga mempererat tali persaudaraan. Tradisi memberi makan orang yang berbuka (iftar) menjadi instrumen sosial untuk memperkuat kohesi masyarakat. “Siapa yang memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun.” (HR. Tirmidzi).
Pesan Moral untuk Oligarki
Pesan moral puasa bagi kelompok yang memegang kekuasaan besar—seperti koruptor, oligarki, atau penjarah kekayaan alam—sangat tajam dan relevan. Dalam Islam, puasa bukan sekadar ritual individu, melainkan juga latihan pengendalian syahwat kekuasaan dan ketamakan.
Pesan moral paling mendasar dalam puasa adalah menahan diri dari yang halal (makan dan minum) demi ketaatan. Logikanya, jika yang halal saja harus ditinggalkan demi Allah, apalagi yang haram seperti hasil korupsi atau penjarahan alam. Al-Qur’an secara tegas melarang memakan harta orang lain secara batil: “Dan janganlah kamu makan harta di antara kamu dengan jalan yang batil…” (QS. Al-Baqarah: 188).
Puasa juga mendidik manusia agar memiliki sifat qana’ah (merasa cukup) dan menghancurkan sifat rakus (thama’). Sebagaimana hadis menyebutkan: “Seandainya manusia diberi satu lembah penuh emas, ia tentu ingin memiliki lembah kedua…” (HR. Bukhari).
Para penjarah kekayaan alam sering melupakan bahwa bumi adalah titipan untuk semua makhluk, bukan milik segelintir orang. Dalam Islam, merusak alam demi keuntungan pribadi termasuk bentuk kerusakan di muka bumi (fasad).
(Pesan Moral dan Sosial Ibadah Puasa)
Puasa diakhiri dengan zakat fitrah sebagai pesan bahwa harta harus mengalir ke bawah, bukan menumpuk di atas. Puasa melatih rasa haus dan lapar agar manusia sadar bahwa sumber daya alam seperti air, tanah, dan hutan adalah hak bersama. Mengambilnya secara rakus berarti merampas hak hidup orang miskin dan generasi mendatang.
Puasa juga melatih muraqabah, kesadaran bahwa Allah senantiasa mengawasi. “Dia (Allah) mengetahui pengkhianatan mata dan apa yang disembunyikan oleh hati.” (QS. Ghafir: 19).
Dengan demikian, jika seseorang mampu menahan diri untuk tidak minum saat haus karena takut kepada Allah dalam puasa Ramadhan, seharusnya ia lebih takut untuk mengambil uang rakyat yang pertanggungjawabannya jauh lebih berat di akhirat kelak.
Namun, dalam kenyataannya, tidak semua orang merasa gentar terhadap peringatan tersebut hingga ajal menjemputnya. Wallahu a’lam bish-shawab. (han)












