# SJR jurnal dosen

Oleh: Firdaus Arifin
Di ruang-ruang dosen, di rapat senat, hingga di layar SISTER yang dingin, satu singkatan makin sering disebut dengan nada yang hampir sakral: SJR. Ia hadir bukan sekadar indikator, melainkan seperti mantra. Sebuah angka yang diyakini mampu merangkum reputasi, prestise, bahkan martabat akademik seseorang. Dalam praktiknya, SJR tidak lagi sekadar alat ukur, melainkan telah menjelma menjadi tujuan.
Dalam literatur bibliometrik, SCImago Journal Rank memang dirancang sebagai indikator prestise jurnal berbasis sitasi berbobot—bukan sekadar jumlah kutipan, melainkan kualitas sumber yang mengutip. Data ini bersumber dari Scopus yang menjadi rujukan global dalam pemetaan publikasi ilmiah. Dengan pendekatan itu, SJR memberikan standar yang relatif objektif dalam menilai posisi jurnal dalam ekosistem pengetahuan dunia.
Namun, di balik janji objektivitas itu, tersimpan kegelisahan. Apakah benar ilmu bisa direduksi menjadi skor? Ataukah kita sedang menyederhanakan sesuatu yang sejatinya kompleks dan tak terhingga? Pertanyaan ini menjadi penting ketika angka tidak lagi sekadar alat bantu, melainkan berubah menjadi orientasi utama.
Di titik ini, kita mulai melihat pergeseran. Riset tidak selalu dimulai dari rasa ingin tahu, tetapi dari peluang publikasi. Pertanyaan ilmiah tidak lagi lahir dari kegelisahan intelektual, melainkan dari kalkulasi sitasi. SJR tidak lagi sekadar mengukur arah ilmu, tetapi perlahan mengarahkan ilmu itu sendiri.
Prestise
Tidak dapat disangkal, SJR membawa manfaat. Ia memberi standar global, membuka ruang perbandingan, dan mendorong kampus untuk meningkatkan kualitas publikasi. Dalam sistem pendidikan tinggi yang semakin terhubung secara internasional, indikator seperti ini menjadi penting untuk memastikan bahwa penelitian kita tidak terisolasi.
Namun, persoalan muncul ketika prestise menjadi satu-satunya orientasi. Jurnal Q1 dipuja, Q2 ditoleransi, Q3 dianggap sekadar pelengkap, dan Q4 nyaris diabaikan. Hierarki ini bukan sekadar klasifikasi teknis, tetapi telah membentuk cara pandang akademik kita. Seolah-olah kualitas pengetahuan ditentukan oleh tempat ia dipublikasikan, bukan oleh isi yang dikandungnya.
Padahal, dalam banyak kajian bibliometrik, termasuk yang mengembangkan SJR sejak awal 2010-an, telah diingatkan bahwa metrik jurnal tidak selalu mencerminkan kualitas artikel individual. Artikel bermutu bisa saja terbit di jurnal menengah, sementara artikel biasa saja bisa menumpang pada jurnal bereputasi. Artinya, ada batas yang tidak boleh dilampaui: metrik tidak boleh menggantikan penilaian substansi.
Jika batas ini dilanggar, maka kita tidak lagi berbicara tentang ilmu, melainkan tentang simbol prestise.
Tekanan
Di balik euforia angka, ada tekanan yang nyata. Dalam konteks Indonesia, tuntutan publikasi internasional bereputasi bukan sekadar pilihan, melainkan kewajiban. Berbagai regulasi pendidikan tinggi, termasuk kebijakan kenaikan jabatan akademik dosen dan standar kelulusan program doktor, secara eksplisit mensyaratkan publikasi pada jurnal terindeks Scopus.
Tekanan ini melahirkan fenomena yang kompleks. Riset menjadi proyek jangka pendek. Kolaborasi dibangun untuk memenuhi target publikasi. Topik penelitian dipilih bukan semata karena urgensi ilmiah atau sosial, tetapi karena peluang diterima di jurnal bereputasi.
Dalam sejumlah studi tentang budaya “publish or perish”, tekanan semacam ini bahkan dikaitkan dengan meningkatnya praktik sitasi strategis, fragmentasi publikasi, hingga penurunan kualitas kedalaman riset. Ini bukan sekadar persoalan etika individu, melainkan konsekuensi dari sistem yang terlalu menekankan output kuantitatif.
Dalam situasi seperti ini, akademisi berada dalam dilema. Mereka dituntut produktif secara angka, tetapi tetap diharapkan menjaga integritas ilmiah. Pilihan menjadi tidak sederhana. Dan sering kali, yang dikorbankan adalah kedalaman.
Paradoks
Ironinya, ketika kita semakin sibuk mengejar reputasi global, kita justru berisiko menjauh dari realitas lokal. Banyak riset yang ditulis dalam bahasa global, tetapi kehilangan konteks kebangsaan. Banyak artikel yang kaya referensi internasional, tetapi miskin relevansi bagi masyarakat sekitar.
Padahal, mandat pendidikan tinggi tidak hanya menghasilkan publikasi, tetapi juga menyelesaikan persoalan bangsa. Ketika indikator global seperti SJR menjadi dominan, keseimbangan antara keduanya terganggu. Kita menjadi lebih fasih berbicara kepada komunitas ilmiah global, tetapi semakin gagap menjawab kebutuhan lokal.
Data publikasi Indonesia dalam basis Scopus memang menunjukkan peningkatan signifikan dalam satu dekade terakhir. Namun, pertanyaan yang lebih penting adalah: sejauh mana peningkatan itu berbanding lurus dengan dampak nyata bagi masyarakat? Tanpa refleksi kritis, kita bisa terjebak pada ilusi kemajuan—tampak maju secara statistik, tetapi belum tentu bermakna secara substantif.
Etika
Dalam situasi yang penuh tekanan, etika menjadi penyangga utama. Tanpa etika, sistem apa pun akan mudah diselewengkan. SJR bisa menjadi alat yang baik, tetapi juga bisa menjadi legitimasi bagi praktik yang menyimpang.
Kita mulai melihat gejala yang mengkhawatirkan. Artikel ditulis dengan tujuan utama untuk diterima, bukan untuk dipahami. Sitasi digunakan sebagai strategi, bukan sebagai penghargaan intelektual. Bahkan, dalam beberapa kasus global, praktik manipulasi sitasi dan kartel sitasi telah menjadi perhatian serius dalam komunitas ilmiah.
Fenomena ini menunjukkan satu hal: indikator yang baik pun bisa disalahgunakan jika tidak diimbangi dengan kesadaran etis. Karena itu, pendidikan tinggi tidak cukup hanya membangun sistem evaluasi, tetapi juga harus menanamkan integritas sebagai fondasi.
Ilmu bukan sekadar produk. Ia adalah proses pencarian kebenaran. Dan dalam proses itu, kejujuran adalah syarat mutlak.
Refleksi
Sudah saatnya kita berhenti sejenak. Menarik napas dari hiruk-pikuk publikasi. Bertanya pada diri sendiri: untuk apa kita meneliti? Untuk siapa kita menulis?
SJR tidak perlu ditolak. Ia tetap penting sebagai alat ukur. Namun, ia tidak boleh menjadi satu-satunya kompas. Kita membutuhkan keseimbangan. Antara global dan lokal. Antara kuantitas dan kualitas. Antara reputasi dan relevansi.
Pendidikan tinggi harus kembali pada jati dirinya sebagai ruang kebebasan berpikir. Ruang di mana pertanyaan dihargai, di mana kegagalan tidak ditakuti, dan di mana pencarian makna menjadi tujuan utama.
Tanpa itu, kita hanya akan melahirkan generasi akademisi yang produktif secara angka, tetapi miskin secara gagasan.
Arah
Ke depan, kita membutuhkan keberanian untuk merumuskan ulang orientasi. Bukan dengan menolak indikator global, tetapi dengan menempatkannya secara proporsional. SJR harus kembali menjadi alat, bukan tujuan.
Kebijakan pendidikan tinggi perlu memberi ruang bagi riset yang berdampak sosial, meski tidak selalu menghasilkan sitasi tinggi. Kampus perlu menghargai kontribusi yang relevan bagi masyarakat, bukan hanya yang terindeks. Dan akademisi perlu menjaga integritas, meski berada dalam tekanan sistem.
Reputasi sejati tidak dibangun dari angka semata. Ia lahir dari kejujuran intelektual, dari kedalaman analisis, dan dari keberanian untuk menjawab persoalan nyata. SJR mungkin bisa mencatatnya, tetapi tidak pernah bisa menggantikannya. (*)
# SJR jurnal dosen
# SJR jurnal dosen












