
Oleh: Firdaus Arifin, Dosen Ypt Pasundan dpk. FH Unpas (Pongah dan Ilusi Ketinggian Diri)
WWW.PASJABAR.COM – Dalam sebuah sore yang hampir tak berniat menjadi senja, saya melihat seseorang berdiri lebih tinggi dari bayangannya sendiri. Ia tidak benar-benar tinggi. Hanya saja, ia menolak untuk menunduk. Dunia di sekitarnya menjadi lebih rendah bukan karena dunia mengecil, melainkan karena ia membesar dalam pikirannya sendiri. Di situlah pongah lahir—bukan dari kekuatan, melainkan dari ilusi tentang ketinggian diri.
Pongah bukan sekadar kesombongan. Ia lebih halus, lebih licin. Ia tidak selalu berteriak; kadang ia berbisik. Ia menyelinap dalam cara seseorang menyebut dirinya, dalam cara ia menilai orang lain, dalam cara ia memandang dunia sebagai panggung kecil bagi kebesarannya sendiri. Pongah adalah bahasa diam dari ego yang tak pernah selesai dengan dirinya.
Bayang
Ketinggian diri sering kali bukan sesuatu yang nyata. Ia seperti bayang-bayang yang memanjang saat matahari merendah. Semakin dekat pada gelap, semakin panjang bayang itu tampak. Begitu pula dengan manusia yang pongah: ketika cahaya kesadaran meredup, ia justru merasa semakin besar.
Kita hidup dalam zaman di mana bayang bisa dipoles. Media sosial, gelar, jabatan, bahkan pujian yang dangkal—semuanya menjadi cermin yang memperbesar diri. Kita melihat pantulan itu dan percaya. Kita lupa bahwa cermin tidak pernah jujur sepenuhnya; ia hanya memantulkan apa yang kita ingin lihat.
Di sinilah ilusi bekerja. Ia membangun ketinggian tanpa fondasi. Ia memberi rasa agung tanpa kedalaman. Dan manusia yang terjebak di dalamnya akan berdiri di atas sesuatu yang rapuh, tanpa pernah menyadari bahwa ia sedang berdiri di udara.
Diri
Apa yang disebut “diri” sering kali adalah konstruksi. Kita menyusunnya dari pengalaman, dari pengakuan orang lain, dari cerita yang kita ulang tentang siapa kita. Tapi dalam proses itu, kita juga menyelipkan harapan—dan kadang, ketakutan.
Pongah lahir dari ketakutan yang tidak diakui. Ketakutan untuk dianggap kecil. Ketakutan untuk dilupakan. Ketakutan bahwa tanpa pengakuan, kita tak berarti. Maka kita membangun versi diri yang lebih tinggi, lebih kuat, lebih penting. Kita memolesnya, memamerkannya, dan perlahan mempercayainya.
Namun diri yang dibangun dari ketakutan tidak pernah stabil. Ia selalu membutuhkan pembenaran. Ia selalu haus akan pengakuan baru. Dan di situlah pongah menjadi siklus: semakin tinggi kita merasa, semakin dalam kita takut jatuh.
Cermin
Ada momen ketika seseorang melihat dirinya sendiri—benar-benar melihat, bukan sekadar memandang. Momen itu jarang. Ia datang tanpa undangan, sering kali dalam kesunyian atau dalam kegagalan.
Cermin yang jujur tidak selalu menyenangkan. Ia menunjukkan keretakan, menunjukkan keterbatasan, menunjukkan bahwa kita tidak setinggi yang kita kira. Tapi justru di sanalah kemungkinan untuk menjadi manusia yang utuh.
Pongah menghindari cermin semacam itu. Ia memilih cermin yang memuji, yang memperindah, yang meneguhkan ilusi. Ia menolak segala sesuatu yang mengganggu gambaran besar tentang diri. Ia menolak kritik, menolak keraguan, menolak kesadaran bahwa manusia selalu berada dalam proses—tidak pernah selesai.
Kuasa
Pongah menemukan rumah yang nyaman dalam kekuasaan. Ketika seseorang memiliki kuasa, ilusi tentang ketinggian diri menjadi lebih mudah dipercaya—oleh dirinya sendiri dan oleh orang lain.
Kuasa memberi jarak. Ia menciptakan ruang di mana orang lain harus menunduk, harus mendengar, harus setuju. Dalam ruang itu, pongah tumbuh subur. Ia tidak lagi perlu membuktikan dirinya; cukup dengan posisi, dengan simbol, dengan struktur yang menopangnya.
Namun kuasa juga rapuh. Ia bergantung pada legitimasi, pada kepercayaan, pada waktu. Dan ketika semua itu berubah, pongah yang berdiri di atasnya akan goyah. Yang tersisa hanyalah manusia—tanpa atribut, tanpa panggung, tanpa bayang yang memanjang.
Di situlah sering kali kita melihat kerapuhan yang selama ini disembunyikan.
Sunyi
Tidak ada yang lebih menakutkan bagi orang pongah selain kesunyian. Dalam sunyi, tidak ada penonton. Tidak ada pujian. Tidak ada perbandingan. Hanya ada diri sendiri—dan itu sering kali terlalu berat.
Kesunyian memaksa kita untuk menghadapi kenyataan bahwa kita tidak sebesar yang kita kira. Ia membuka ruang bagi keraguan, bagi refleksi, bagi pertanyaan-pertanyaan yang selama ini kita hindari.
Namun justru di situlah kemungkinan untuk bebas dari pongah. Dalam sunyi, kita bisa mulai melihat diri tanpa distorsi. Kita bisa mulai menerima bahwa menjadi manusia tidak berarti harus selalu tinggi, selalu benar, selalu unggul.
Ada kerendahan yang membebaskan. Ada kejujuran yang menenangkan.
Jatuh
Setiap ilusi pada akhirnya akan runtuh. Tidak selalu dengan suara keras. Kadang ia jatuh perlahan, seperti daun yang lepas dari ranting. Tapi jatuh tetaplah jatuh.
Bagi orang pongah, jatuh adalah tragedi. Ia menghancurkan narasi tentang diri. Ia merobek gambaran yang selama ini dipertahankan. Ia membuka luka yang selama ini disembunyikan.
Namun jatuh juga bisa menjadi awal. Ia memberi kesempatan untuk melihat dunia dari posisi yang berbeda. Ia mengingatkan bahwa ketinggian bukanlah keadaan permanen, dan bahwa nilai seseorang tidak ditentukan oleh seberapa tinggi ia berdiri, melainkan oleh bagaimana ia berdiri—dan bagaimana ia bangkit.
Tidak semua orang mampu belajar dari jatuh. Tapi bagi yang mampu, jatuh adalah guru yang jujur.
Makna
Pada akhirnya, pertanyaan tentang pongah adalah pertanyaan tentang makna. Apa arti menjadi manusia? Apakah kita harus selalu lebih tinggi dari orang lain untuk merasa berarti?
Mungkin tidak.
Mungkin makna justru terletak pada kemampuan untuk melihat diri dengan jernih, untuk menerima keterbatasan, untuk tidak terjebak dalam ilusi tentang ketinggian yang semu. Mungkin makna ada dalam relasi—dalam bagaimana kita hadir bagi orang lain, bukan dalam bagaimana kita mengungguli mereka.
Pongah adalah godaan yang selalu ada. Ia tidak pernah benar-benar hilang. Tapi kita bisa memilih untuk tidak sepenuhnya tunduk padanya.
Kita bisa memilih untuk tetap rendah, bukan dalam arti lemah, tetapi dalam arti sadar. Sadar bahwa kita adalah bagian kecil dari sesuatu yang lebih besar. Sadar bahwa ketinggian sejati tidak membutuhkan pengakuan.
Dan mungkin, dalam kesadaran itu, kita menemukan sesuatu yang lebih tenang daripada kebesaran: kemanusiaan. (han)












