CLOSE ADS
CLOSE ADS
PASJABAR
Selasa, 5 Mei 2026
  • PASJABAR
  • PASBANDUNG
  • PASPENDIDIKAN
  • PASKREATIF
  • PASNUSANTARA
  • PASBISNIS
  • PASHIBURAN
  • PASOLAHRAGA
  • CAHAYA PASUNDAN
  • RUANG OPINI
  • PASJABAR
  • PASBANDUNG
  • PASPENDIDIKAN
  • PASKREATIF
  • PASNUSANTARA
  • PASBISNIS
  • PASHIBURAN
  • PASOLAHRAGA
  • CAHAYA PASUNDAN
  • RUANG OPINI
No Result
View All Result
PASJABAR
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home PASNUSANTARA

Membaca Ulang Peristiwa Madiun 1948 dari Perspektif Sosio-Kultural

Tiwi Kasavela
22 Januari 2026
Membaca Ulang Peristiwa Madiun 1948 dari Perspektif Sosio-Kultural

Membaca Ulang Peristiwa Madiun 1948 dari Perspektif Sosio-Kultural. (Ist)

Share on FacebookShare on Twitter
ADVERTISEMENT

MADIUN, WWW.PASJABAR.COM— Peristiwa Madiun 1948 tidak semata-mata merupakan konflik ideologi dan perebutan kekuasaan politik, melainkan akumulasi kekecewaan sosial yang telah lama terpendam di tengah masyarakat. Kesimpulan ini mengemuka dalam Diskusi Buku #98 Temu Sejarah yang berkolaborasi dengan Historia Van Madioen, Kamis malam (15/1/2026), melalui Zoom.

Diskusi bertajuk “Madiun Affair 1948 dalam Perspektif Sosio-Kultural” ini menghadirkan Septian D. Kharisma sebagai pemantik, dengan Nabia Rizkia sebagai moderator.

Acara yang berlangsung selama 90 menit tersebut diikuti peserta dari berbagai latar belakang, mulai dari mahasiswa, peneliti sejarah, hingga masyarakat umum.

Dalam pemaparannya, Septian menjelaskan bahwa akar Peristiwa Madiun 1948 tidak dapat dilepaskan dari dinamika sosial-budaya masyarakat Madiun sejak masa kolonial. Sejak penerapan kebijakan kolonial pasca-1830, struktur sosial masyarakat mengalami perubahan signifikan. Masuknya industri gula dan kapitalisme kolonial melahirkan kelas sosial baru, memperlemah posisi priyayi tradisional, serta memperdalam kemiskinan dan masalah sosial di pedesaan.

Baca juga:   Amanda Ingin Terapkan Pengelolaan Sampah Tidak Berbau Seperti di Sanur Kauh Denpasar

“Struktur masyarakat Madiun sejak kolonial terbagi secara hierarkis, mulai dari penguasa kolonial dan priyayi desa, kiai sebagai elite agama, hingga rakyat kecil seperti petani dan buruh. Relasi feodal dan patron–klien ini melanggengkan ketimpangan sosial,” ujar Septian.

Menurutnya, budaya feodalisme, kharisma elite, serta pola bapakisme membuat dominasi priyayi dan pemuka agama atas wong cilik sulit dipatahkan. Kondisi tersebut semakin tajam pasca-kemerdekaan 1945, ketika Madiun berkembang menjadi pusat revolusi dengan basis buruh, petani, dan organisasi kelaskaran.

Rasionalisasi RERA Memicu Krisis Ekonomi

Septian juga menyoroti kebijakan Rasionalisasi Angkatan Perang (RERA) sebagai titik krusial. RERA dinilai memutus mobilitas sosial pemuda buruh dan petani yang sebelumnya menjadikan laskar sebagai jalan menuju status sosial dan ekonomi yang lebih baik. Penarikan mereka dari struktur militer tidak hanya menurunkan status sosial, tetapi juga memicu krisis ekonomi dan kekecewaan kolektif.

Baca juga:   Menjelajahi Kekayaan Sejarah dalam Kutha Walanda Ing Sala

“Kekecewaan eks-laskar inilah yang kemudian dimobilisasi oleh PKI dan FDR sebagai kekuatan politik. Janji reforma agraria, kesetaraan sosial, serta narasi perjuangan kolektif menjadi alat untuk mengonsolidasikan dukungan di desa-desa,” jelasnya.

Diskusi juga membahas bagaimana konflik agraria, aksi sepihak pembagian tanah, penghapusan tanah bengkok, hingga pergantian pamong desa memicu konflik terbuka di tingkat lokal. Namun, kekerasan yang dilakukan oleh pemerintahan Front Nasional Madiun justru menjadi bumerang. Represi terhadap priyayi, ulama, aparat desa, dan kelompok anti-PKI menurunkan simpati masyarakat luas.

Baca juga:   Daftar Nama Korban Meninggal Dunia Erupsi Gunung Marapi

Dalam analisis penutup, Septian menegaskan bahwa kegagalan Peristiwa Madiun 1948 menunjukkan batas-batas hegemoni revolusi PKI. Basis massa yang tumpang tindih, kuatnya pengaruh kiai dan budaya feodal, serta figur Musso yang kalah populer dibanding Sukarno membuat revolusi sosial tersebut tidak mendapatkan dukungan akar rumput yang solid dan akhirnya runtuh dalam waktu singkat.

Diskusi ini menegaskan bahwa Peristiwa Madiun 1948 perlu dipahami secara lebih komprehensif, tidak hanya sebagai peristiwa politik, tetapi juga sebagai ekspresi konflik sosial, budaya, dan kelas dalam masyarakat Indonesia pasca-kemerdekaan. Temu Sejarah berharap kajian sosio-kultural semacam ini dapat membuka ruang diskusi yang lebih kritis dan berimbang terhadap peristiwa-peristiwa penting dalam sejarah nasional. (tiwi)

Print Friendly, PDF & Email
Editor: Tiwi Kasavela
Tags: Peristiwa Madiun 1948SejarahTemu Sejarah


Related Posts

Tragedi Suradiningrat I: Kisah Bupati Ponorogo yang Menjadi “ATM” Politik Mataram
PASNUSANTARA

Tragedi Suradiningrat I: Kisah Bupati Ponorogo yang Menjadi “ATM” Politik Mataram

4 Mei 2026
Malia Nur Alifa: Menyingkap Tabir Lembang Melalui Kepingan Sejarah yang Terlupakan
PASBANDUNG

Malia Nur Alifa: Menyingkap Tabir Lembang Melalui Kepingan Sejarah yang Terlupakan

16 April 2026
Sidoarjo dan Brantas: Menelusuri Jejak Peradaban di Hilir Lembah Sungai Terpanjang Kedua di Jawa
PASNUSANTARA

Sidoarjo dan Brantas: Menelusuri Jejak Peradaban di Hilir Lembah Sungai Terpanjang Kedua di Jawa

13 April 2026

Categories

  • CAHAYA PASUNDAN
  • HEADLINE
  • PASBANDUNG
  • PASBISNIS
  • PASBUDAYA
  • PASDUNIA
  • PASFINANSIAL
  • PASGALERI
  • PASHIBURAN
  • PASJABAR
  • PASKESEHATAN
  • PASKREATIF
  • PASNUSANTARA
  • PASOLAHRAGA
  • PASPENDIDIKAN
  • PASTV
  • PASVIRAL
  • RUANG OPINI
  • TOKOH
  • Uncategorized
No Result
View All Result

Trending

Bayern vs PSG Champions 2026
PASOLAHRAGA

Bayern vs PSG Membara! Rekor Gol Liga Champions Barcelona Terancam Tumbang

5 Mei 2026

# Bayern vs PSG Champions 2026 BANDUNG, WWW.PASJABAR.COM -- Persaingan sengit antara Bayern Munich dan Paris Saint-Germain...

Xiaomi Mix

Rumor Xiaomi Mix 5 Meredup, Fokus Bergeser ke Xiaomi 18

5 Mei 2026
arsenal vs atletico madrid

Arsenal vs Atleti di Semifinal Liga Champions: Duel Penentuan ke Final, Siapa Lebih Siap?

5 Mei 2026
Pansus LKPJ DPRD Kota Bandung

Pansus LKPJ DPRD Kota Bandung Klaim Pembahasan Capai 75 Persen, Fokus Pertajam Misi SDM

5 Mei 2026
kolesterol tinggi

Ahli Sebut Faktor Tersembunyi yang Tingkatkan Risiko Kolesterol Tinggi

5 Mei 2026

Highlights

Pansus LKPJ DPRD Kota Bandung Klaim Pembahasan Capai 75 Persen, Fokus Pertajam Misi SDM

Ahli Sebut Faktor Tersembunyi yang Tingkatkan Risiko Kolesterol Tinggi

BMKG Prakirakan Hujan Lebat hingga Sangat Lebat Landa Indonesia

POCO C81 Pro Resmi Meluncur di Indonesia Mulai Rp1,6 Jutaan

Beckham Putra Ungkap Krusialnya Kemenangan atas PSIM

Catatan Bojan Hodak Usai Persib Bandung Tumbangkan PSIM

PASJABAR

© 2018 www.pasjabar.com

Navigate Site

  • REDAKSI
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Alamat Redaksi & Iklan

Follow Us

No Result
View All Result
  • PASJABAR
  • PASBANDUNG
  • PASPENDIDIKAN
  • PASKREATIF
  • PASNUSANTARA
  • PASBISNIS
  • PASHIBURAN
  • PASOLAHRAGA
  • CAHAYA PASUNDAN
  • RUANG OPINI

© 2018 www.pasjabar.com

This website uses cookies. By continuing to use this website you are giving consent to cookies being used. Visit our Privacy and Cookie Policy.