Kisah Kanjeng Raden Mas Aryo Adipati Surodiningrat I bukan sekadar riwayat bupati yang kaya raya, melainkan potret bagaimana pengabdian total kepada pusat kekuasaan sering kali dibalas dengan pengkhianatan dan mutilasi politik.
PONOROGO, WWW.PASJABAR.COM— Di tengah kecamuk suksesi dan intrik politik Mataram abad ke-18, nama Kanjeng Raden Mas Aryo Adipati (KRMA) Surodiningrat I muncul sebagai figur yang paradoks. Ia adalah Bupati Ponorogo sekaligus Pepatih Dalem di Kasunanan Surakarta yang secara finansial dan militer mungkin melampaui sang raja sendiri.
Namun, kejayaan itu berakhir tragis di tangan Pangeran Mangkunegoro I (Raden Mas Said) dalam sebuah pertempuran yang tak hanya menumpahkan darah, tapi juga harga diri.
Dalam diskusi daring “Temu Sejarah #109” yang membedah buku Babat Lelampahanipun KRMA Surodiningrat I, sejarawan muda Muhammad Masrofiqi Maulana mengungkap sisi gelap hubungan antara penguasa daerah (Ponorogo) dengan pusat kekuasaan Mataram (Surakarta).
Loyalitas yang Berujung Pengkhianatan
Surodiningrat I bukanlah orang sembarangan. Ayahnya, Raden Tumanggung Surobroto, adalah sosok yang menyelamatkan Pakubuwono II saat Keraton Kartasura diserang dalam peristiwa Geger Pecinan. Saat itu, Ponorogo menjadi tempat pelarian raja, memberikan bantuan logistik berupa kereta hingga kerbau bule yang kini kita kenal sebagai Kyai Slamet.
Namun, politik tak mengenal balas budi yang abadi. Surodiningrat I terjebak dalam pusaran konflik antara faksi pro-VOC (Patih Pringgoloyo) dan faksi perlawanan yang dipimpin Pangeran Mangkubumi (kelak Sultan Hamengkubuwono I).
Kematian tragis Surodiningrat dipicu oleh “Layang Candolo” sebuah surat yang dipalsukan oleh patihnya sendiri, Margo Ewuh.
Surat yang seharusnya berisi pernyataan damai kepada Mangkubumi diubah redaksinya menjadi tantangan perang (sampun samekto ing ngayudo). Pengkhianatan domestik ini menjadi legitimasi bagi pasukan Mangkubumi dan RM Said untuk menggempur Ponorogo.
Mutilasi dan Simbol Penaklukan
Pertempuran pecah di Kali Demung. Meski Surodiningrat membawa pasukan raksasa berjumlah 10.000 kavaleri melawan hanya 1.600 pasukan Mangkunegoro, strategi dan kenekatan RM Said membalikkan keadaan.
Kematian Surodiningrat I tercatat dengan sangat mengerikan dalam Babat Giyanti. Tindakan ini dianggap sebagai simbol penghinaan terhadap sosok Surodiningrat yang dikenal sebagai “Lelananging Jagad” karena memiliki 23 istri dan 135 anak.
Peristiwa kelam ini kelak diabadikan secara halus dalam tari Bedhaya Anglir Mendung di Pura Mangkunegaran, sebuah tarian yang secara implisit merayakan kemenangan atas Ponorogo.
Pelajaran dari Ponorogo: Jangan Melampaui Raja
Rofiqi Maulana memberikan catatan kritis bahwa Surodiningrat I adalah korban dari “flexing” kekuasaan yang berlebihan. Ia kerap tampil dengan kemewahan yang menyaingi raja, mengenakan beludru merah berenda emas, dan selalu membawa tiga pusaka ke mana pun ia pergi.
“Ponorogo sejak dulu dijadikan pion atau ‘ATM’ bagi keluarga kerajaan,” ujar Rofiqi. Ketika kekuatannya dianggap terlalu besar dan mengancam stabilitas pusat, maka pengosongan kekuasaan (dekapitasi) menjadi jalan keluar bagi Mataram.
Kisah Surodiningrat I menjadi pengingat pahit dalam sejarah Jawa: bahwa di bawah bayang-bayang kekuasaan Mataram, menjadi terlalu kaya dan terlalu kuat adalah dosa yang tak terampuni, meski ia dibalut dengan jubah loyalitas yang tebal.
Kini, jasad sang Adipati bersemayam di Komplek Makam Betoro Katong, Setono, Ponorogo, di dalam sebuah cungkup yang dikenal sebagai Gedong Putih. Sebuah akhir yang sunyi bagi penguasa yang dulu mengguncang tanah Jawa dengan derap 10.000 kudanya.
Sumber Referensi:
Video YouTube: Temu Sejarah #109 KRMA Suradiningrat I
(tiwi)












