CLOSE ADS
CLOSE ADS
PASJABAR
Senin, 4 Mei 2026
  • PASJABAR
  • PASBANDUNG
  • PASPENDIDIKAN
  • PASKREATIF
  • PASNUSANTARA
  • PASBISNIS
  • PASHIBURAN
  • PASOLAHRAGA
  • CAHAYA PASUNDAN
  • RUANG OPINI
  • PASJABAR
  • PASBANDUNG
  • PASPENDIDIKAN
  • PASKREATIF
  • PASNUSANTARA
  • PASBISNIS
  • PASHIBURAN
  • PASOLAHRAGA
  • CAHAYA PASUNDAN
  • RUANG OPINI
No Result
View All Result
PASJABAR
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home PASNUSANTARA

Tragedi Suradiningrat I: Kisah Bupati Ponorogo yang Menjadi “ATM” Politik Mataram

Tiwi Kasavela
4 Mei 2026
Tragedi Suradiningrat I: Kisah Bupati Ponorogo yang Menjadi “ATM” Politik Mataram

Diskusi daring "Temu Sejarah #109" yang membedah buku Babat Lelampahanipun KRMA Surodiningrat I. (Ist)

Share on FacebookShare on Twitter
ADVERTISEMENT

 

Kisah Kanjeng Raden Mas Aryo Adipati Surodiningrat I bukan sekadar riwayat bupati yang kaya raya, melainkan potret bagaimana pengabdian total kepada pusat kekuasaan sering kali dibalas dengan pengkhianatan dan mutilasi politik.

PONOROGO, WWW.PASJABAR.COM— Di tengah kecamuk suksesi dan intrik politik Mataram abad ke-18, nama Kanjeng Raden Mas Aryo Adipati (KRMA) Surodiningrat I muncul sebagai figur yang paradoks. Ia adalah Bupati Ponorogo sekaligus Pepatih Dalem di Kasunanan Surakarta yang secara finansial dan militer mungkin melampaui sang raja sendiri.

Namun, kejayaan itu berakhir tragis di tangan Pangeran Mangkunegoro I (Raden Mas Said) dalam sebuah pertempuran yang tak hanya menumpahkan darah, tapi juga harga diri.

Dalam diskusi daring “Temu Sejarah #109” yang membedah buku Babat Lelampahanipun KRMA Surodiningrat I, sejarawan muda Muhammad Masrofiqi Maulana mengungkap sisi gelap hubungan antara penguasa daerah (Ponorogo) dengan pusat kekuasaan Mataram (Surakarta).

Baca juga:   Wali Kota Bandung Ingin Jokowi – Ma’ruf Bantu Bangun Infrastruktur

Loyalitas yang Berujung Pengkhianatan

Surodiningrat I bukanlah orang sembarangan. Ayahnya, Raden Tumanggung Surobroto, adalah sosok yang menyelamatkan Pakubuwono II saat Keraton Kartasura diserang dalam peristiwa Geger Pecinan. Saat itu, Ponorogo menjadi tempat pelarian raja, memberikan bantuan logistik berupa kereta hingga kerbau bule yang kini kita kenal sebagai Kyai Slamet.

Namun, politik tak mengenal balas budi yang abadi. Surodiningrat I terjebak dalam pusaran konflik antara faksi pro-VOC (Patih Pringgoloyo) dan faksi perlawanan yang dipimpin Pangeran Mangkubumi (kelak Sultan Hamengkubuwono I).

Kematian tragis Surodiningrat dipicu oleh “Layang Candolo” sebuah surat yang dipalsukan oleh patihnya sendiri, Margo Ewuh.

Surat yang seharusnya berisi pernyataan damai kepada Mangkubumi diubah redaksinya menjadi tantangan perang (sampun samekto ing ngayudo). Pengkhianatan domestik ini menjadi legitimasi bagi pasukan Mangkubumi dan RM Said untuk menggempur Ponorogo.

Baca juga:   Membaca Ulang Peristiwa Madiun 1948 dari Perspektif Sosio-Kultural

Mutilasi dan Simbol Penaklukan

Pertempuran pecah di Kali Demung. Meski Surodiningrat membawa pasukan raksasa berjumlah 10.000 kavaleri melawan hanya 1.600 pasukan Mangkunegoro, strategi dan kenekatan RM Said membalikkan keadaan.

Kematian Surodiningrat I tercatat dengan sangat mengerikan dalam Babat Giyanti. Tindakan ini dianggap sebagai simbol penghinaan terhadap sosok Surodiningrat yang dikenal sebagai “Lelananging Jagad” karena memiliki 23 istri dan 135 anak.

Peristiwa kelam ini kelak diabadikan secara halus dalam tari Bedhaya Anglir Mendung di Pura Mangkunegaran, sebuah tarian yang secara implisit merayakan kemenangan atas Ponorogo.

Pelajaran dari Ponorogo: Jangan Melampaui Raja

Rofiqi Maulana memberikan catatan kritis bahwa Surodiningrat I adalah korban dari “flexing” kekuasaan yang berlebihan. Ia kerap tampil dengan kemewahan yang menyaingi raja, mengenakan beludru merah berenda emas, dan selalu membawa tiga pusaka ke mana pun ia pergi.

Baca juga:   Parekraf Jadi Lokomotif Penciptaan Lapangan Kerja di Sulsel

“Ponorogo sejak dulu dijadikan pion atau ‘ATM’ bagi keluarga kerajaan,” ujar Rofiqi. Ketika kekuatannya dianggap terlalu besar dan mengancam stabilitas pusat, maka pengosongan kekuasaan (dekapitasi) menjadi jalan keluar bagi Mataram.

Kisah Surodiningrat I menjadi pengingat pahit dalam sejarah Jawa: bahwa di bawah bayang-bayang kekuasaan Mataram, menjadi terlalu kaya dan terlalu kuat adalah dosa yang tak terampuni, meski ia dibalut dengan jubah loyalitas yang tebal.

Kini, jasad sang Adipati bersemayam di Komplek Makam Betoro Katong, Setono, Ponorogo, di dalam sebuah cungkup yang dikenal sebagai Gedong Putih. Sebuah akhir yang sunyi bagi penguasa yang dulu mengguncang tanah Jawa dengan derap 10.000 kudanya.

Sumber Referensi:
Video YouTube: Temu Sejarah #109 KRMA Suradiningrat I

(tiwi)

 

Print Friendly, PDF & Email
Editor: Tiwi Kasavela
Tags: mataramponorogoSejarahsuradiningratSurodiningrat I


Related Posts

Sidoarjo dan Brantas: Menelusuri Jejak Peradaban di Hilir Lembah Sungai Terpanjang Kedua di Jawa
PASNUSANTARA

Sidoarjo dan Brantas: Menelusuri Jejak Peradaban di Hilir Lembah Sungai Terpanjang Kedua di Jawa

13 April 2026
Peta Politik Sunda
PASBUDAYA

Menelusur Gurat Holle: Saat Aksara Latin Mengubah Peta Politik Sunda

10 April 2026
Membedah Sosialisme Sjahrir: Antitesis Otoritarianisme di Tengah “Menara Gading” Intelektual
PASNUSANTARA

Membedah Sosialisme Sjahrir: Antitesis Otoritarianisme di Tengah “Menara Gading” Intelektual

9 April 2026

Categories

  • CAHAYA PASUNDAN
  • HEADLINE
  • PASBANDUNG
  • PASBISNIS
  • PASBUDAYA
  • PASDUNIA
  • PASFINANSIAL
  • PASGALERI
  • PASHIBURAN
  • PASJABAR
  • PASKESEHATAN
  • PASKREATIF
  • PASNUSANTARA
  • PASOLAHRAGA
  • PASPENDIDIKAN
  • PASTV
  • PASVIRAL
  • RUANG OPINI
  • TOKOH
  • Uncategorized
No Result
View All Result

Trending

marc klok
HEADLINE

Bojan Hodak Sesalkan Tudingan Rasisme kepada Marc Klok

4 Mei 2026

WWW.PASJABAR.COM - Kapten Persib Bandung Marc Klok dirundung kabar tak sedap. Ia dituding kubu Bhayangkara FC melakukan...

Federico Barba

Lupakan Euforia, Barba Ajak Skuad Persib Bandung Fokus Tumbangkan PSIM

4 Mei 2026
palang kereta

Melawan Arus dan Terobos Palang, Pengendara Nyaris Tertemper Kereta

4 Mei 2026
Persib Vs PSIM. (Instagram/@persib)

Modal Berharga Persib Bandung Jelang Hadapi PSIM Yogyakarta

4 Mei 2026
Marc Klok. (Foto: Dok. Ileague)

Marc Klok Dituding Bertindak Rasis oleh Bhayangkara FC

4 Mei 2026

Highlights

Modal Berharga Persib Bandung Jelang Hadapi PSIM Yogyakarta

Marc Klok Dituding Bertindak Rasis oleh Bhayangkara FC

Pekan TLM PATELKI Jabar ke-40, Hadirkan Layanan Kesehatan Gratis hingga Edukasi Gizi

Tragedi Suradiningrat I: Kisah Bupati Ponorogo yang Menjadi “ATM” Politik Mataram

Persaingan Gelar Liga Inggris Memanas: Arsenal vs Manchester City, Siapa Lebih Cepat Juara?

Oxford United Terdegradasi, Nasib Ole Romeny Jadi Sorotan

PASJABAR

© 2018 www.pasjabar.com

Navigate Site

  • REDAKSI
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Alamat Redaksi & Iklan

Follow Us

No Result
View All Result
  • PASJABAR
  • PASBANDUNG
  • PASPENDIDIKAN
  • PASKREATIF
  • PASNUSANTARA
  • PASBISNIS
  • PASHIBURAN
  • PASOLAHRAGA
  • CAHAYA PASUNDAN
  • RUANG OPINI

© 2018 www.pasjabar.com

This website uses cookies. By continuing to use this website you are giving consent to cookies being used. Visit our Privacy and Cookie Policy.