CLOSE ADS
CLOSE ADS
PASJABAR
Selasa, 21 April 2026
  • PASJABAR
  • PASBANDUNG
  • PASPENDIDIKAN
  • PASKREATIF
  • PASNUSANTARA
  • PASBISNIS
  • PASHIBURAN
  • PASOLAHRAGA
  • CAHAYA PASUNDAN
  • RUANG OPINI
  • PASJABAR
  • PASBANDUNG
  • PASPENDIDIKAN
  • PASKREATIF
  • PASNUSANTARA
  • PASBISNIS
  • PASHIBURAN
  • PASOLAHRAGA
  • CAHAYA PASUNDAN
  • RUANG OPINI
No Result
View All Result
PASJABAR
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home HEADLINE

Ilmuwan Mengejar Kursi Kampus

Hanna Hanifah
20 Februari 2025
kampus

ilustrasi (foto: istockphoto.com)

Share on FacebookShare on Twitter
ADVERTISEMENT
Opini Kegaduhan Politik
Dosen Yayasan Pendidikan Tinggi Pasundan Dpk FH UNPAS, Firdaus Arifin. (foto: pasjabar)

Oleh: Firdaus Arifin, Dosen FH Unpas (Kampus)

BANDUNG, WWW.PASJABAR.COM – Universitas, setidaknya dalam imajinasi klasiknya, adalah tempat di mana gagasan-gagasan diuji tanpa takut pada kuasa. Ia adalah rumah bagi kebenaran yang sering kali tidak nyaman, tempat bagi mereka yang mencari, bukan bagi mereka yang sekadar mengelola. 

Tetapi, bagaimana jika kampus tak lagi menjadi ruang bagi pencarian ilmu, melainkan hanya arena bagi perebutan jabatan? 

Di banyak perguruan tinggi, kita menyaksikan fenomena yang semakin kentara: para akademisi yang lebih sibuk mengejar kursi rektor, dekan, atau posisi strategis lainnya daripada merawat ilmu. Mereka yang dulu menulis tentang filsafat keadilan kini sibuk melobi kekuasaan, mereka yang dulu bicara tentang etika kini terlibat dalam permainan politik kampus yang sama gelapnya dengan politik nasional. 

Dan kampus, yang seharusnya menjadi tempat paling merdeka dalam berpikir, perlahan berubah menjadi institusi yang lebih sibuk mengelola status daripada mencari kebenaran. 

Dari Intelektual ke Birokrat 

Dulu, ilmuwan adalah mereka yang membangun peradaban dengan pikiran. Kita mengenal bagaimana para pemikir abad pertengahan berani menantang dogma demi ilmu. Kita membaca bagaimana universitas, dalam sejarahnya yang panjang, menjadi ruang perlawanan terhadap otoritas yang buta. 

Namun, hari ini, banyak ilmuwan yang lebih tertarik menjadi manajer. 

Gelar profesor tidak lagi sekadar pencapaian akademik, tetapi juga tiket menuju kekuasaan. Ada kompetisi ketat, ada manuver yang halus dan kasar, ada strategi yang melibatkan jaringan politik. 

Orang-orang yang pernah mengkritik korupsi di seminar-seminar kini diam ketika kampus mereka sendiri disusupi kepentingan pragmatis. Mereka yang dulu mengajarkan tentang demokrasi kini terlibat dalam transaksi kuasa yang tak jauh berbeda dengan yang mereka kritik di luar kampus. 

Dan kampus, yang seharusnya menjadi tempat bagi keberanian intelektual, justru semakin dipenuhi oleh mereka yang lebih nyaman bermain aman. 

Rektor, Dekan, dan Politik Kampus 

Tidak sulit melihat bagaimana politik telah menyusup ke dalam ruang akademik. 

Pemilihan rektor, misalnya, semakin menyerupai pemilihan kepala daerah. Ada lobi ke pusat, ada kampanye terselubung, ada pembagian kepentingan. Dalam beberapa kasus, intervensi pemerintah begitu kentara, seolah kampus tidak bisa mengurus dirinya sendiri. 

Dan ketika seorang akademisi akhirnya mendapatkan kursi itu, apa yang terjadi? 

Sering kali, jabatan yang diemban bukan lagi soal kepemimpinan akademik, tetapi tentang bagaimana mengelola hubungan dengan berbagai pemangku kepentingan. Anggaran harus dijaga, birokrasi harus dirawat, dan tentu saja, hubungan dengan penguasa harus tetap harmonis. 

Ilmu? 

Ah, itu bisa menunggu. 

Ketika Akademisi Tidak Lagi Kritis 

Kita semakin jarang melihat ilmuwan yang berani mengambil sikap kritis. 

Bukan karena mereka tidak tahu ada yang salah, tetapi karena mereka sadar bahwa keberanian sering kali memiliki harga. Mengkritik bisa berarti kehilangan kesempatan, kehilangan akses, atau bahkan kehilangan jabatan. 

Maka, lebih baik diam. 

Lebih baik menulis jurnal yang aman, yang tidak mengguncang, yang cukup untuk memenuhi standar administrasi tanpa perlu menyinggung siapa pun. 

Dan di tengah semua itu, kampus perlahan kehilangan semangatnya. 

Dulu, universitas adalah tempat di mana pemikiran baru lahir. Hari ini, ia lebih mirip pabrik ijazah dan birokrasi yang sibuk dengan urusan administrasi. 

Dan para ilmuwan, alih-alih berjuang untuk ilmu, lebih sibuk mengejar kursi. 

Haruskah Kita Pasrah? 

Tentu saja, tidak semua akademisi seperti itu. Masih ada mereka yang terus berjuang, yang percaya bahwa kampus bukan sekadar tempat mencari jabatan, tetapi rumah bagi pemikiran yang bebas. 

Tetapi jumlah mereka semakin sedikit. 

Dan jika kita tidak berhati-hati, kita akan sampai pada titik di mana universitas benar-benar kehilangan ruhnya—menjadi institusi yang megah secara fisik tetapi kosong secara intelektual. 

Maka, pertanyaannya bukan sekadar apakah kampus kita masih menghasilkan ilmuwan, tetapi apakah kampus kita masih menghasilkan pemikir? 

Karena jika yang kita hasilkan hanyalah birokrat akademik, maka universitas tak lebih dari kantor administrasi yang kebetulan memiliki perpustakaan. 

Dan jika itu terjadi, maka kita harus bertanya pada diri sendiri: di mana tempat bagi mereka yang benar-benar ingin mencari kebenaran? (han)

Print Friendly, PDF & Email
Baca juga:   Ironi Dana Desa
Editor:
Tags: kampusOpiniuniversitas


Related Posts

Negeri Segudang Seruan
HEADLINE

Negeri Segudang Seruan

14 April 2026
berkuasa
HEADLINE

Mengakui Setelah Berkuasa

28 Maret 2026
Makan Bergizi Gratis
HEADLINE

Makan Bergizi Gratis dalam Perspektif Penggunaan APBN dan Ekonomi Makro

24 Februari 2026

Categories

  • CAHAYA PASUNDAN
  • HEADLINE
  • PASBANDUNG
  • PASBISNIS
  • PASBUDAYA
  • PASDUNIA
  • PASFINANSIAL
  • PASGALERI
  • PASHIBURAN
  • PASJABAR
  • PASKESEHATAN
  • PASKREATIF
  • PASNUSANTARA
  • PASOLAHRAGA
  • PASPENDIDIKAN
  • PASTV
  • PASVIRAL
  • RUANG OPINI
  • TOKOH
  • Uncategorized
No Result
View All Result

Trending

Fadly Alberto tertangkap kamera melakukan tendangan brutal terhadap pemain Dewa United U-20. (tangkapan layer)
HEADLINE

Belajar dari Kasus Hugo Samir: Fadly Alberto dan Ancaman Karier yang “Layu Sebelum Berkembang”

20 April 2026

JAKARTA, WWW.PASJABAR.COM – Sepak bola Indonesia kembali berduka atas runtuhnya nilai-nilai sportivitas di level pembinaan. Sosok Fadly...

Pemain Bhayangkara U-20 (putih) menendang pemain Dewa United U-20 di Semarang, Minggu (19/4) sore. (Arsip Dewa United)

Tak Main-Main! Dewa United Tempuh Jalur Hukum Terkait “Tendangan Kungfu” di Laga EPA U-20

20 April 2026
Laga Dewa United vs Persib Bandung. (Foto: Official Persib)

Hujan Drama di Banten: Persib Bandung Bangkit dari Ketertinggalan, Tahan Imbang Dewa United 2-2

20 April 2026
Tendangan Fadly Alberto ke pemain Dewa United. (Foto: Dok. Dewa United)

Dari Pahlawan Piala Dunia ke Ambang Sanksi Berat: Karier Fadly Alberto Terancam Usai Insiden “Tendangan Kungfu” di Semarang

20 April 2026
unpad

Unpad Gandeng VEX Robotics Gelar Pelatihan Robotika dan AI

20 April 2026

Highlights

Dari Pahlawan Piala Dunia ke Ambang Sanksi Berat: Karier Fadly Alberto Terancam Usai Insiden “Tendangan Kungfu” di Semarang

Unpad Gandeng VEX Robotics Gelar Pelatihan Robotika dan AI

ITB Perpanjang Pendaftaran SSU 2026, Beri Kesempatan Lebih Luas

Pemprov Jabar Akan Gabungkan BUMD dalam Holding Sangga Buana

Sidak Minyakita Bandung Temukan Distribusi Tidak Merata dan Harga Naik

Musim ‘Gila’ dan Menantang untuk Persib Bandung

PASJABAR

© 2018 www.pasjabar.com

Navigate Site

  • REDAKSI
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Alamat Redaksi & Iklan

Follow Us

No Result
View All Result
  • PASJABAR
  • PASBANDUNG
  • PASPENDIDIKAN
  • PASKREATIF
  • PASNUSANTARA
  • PASBISNIS
  • PASHIBURAN
  • PASOLAHRAGA
  • CAHAYA PASUNDAN
  • RUANG OPINI

© 2018 www.pasjabar.com

This website uses cookies. By continuing to use this website you are giving consent to cookies being used. Visit our Privacy and Cookie Policy.