• Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber
  • Alamat Redaksi & Iklan
No Result
View All Result
PASJABAR
Selasa, 12 Mei 2026
  • Login
  • BERANDA
    • PASBANDUNG
    • PASJABAR
    • PASNUSANTARA
    • PASDUNIA
  • PASBISNIS
    • PASFINANSIAL
  • PASPENDIDIKAN
    • PASKESEHATAN
  • PASOLAHRAGA
  • PASHIBURAN
    • PASBUDAYA
    • PASKREATIF
    • PASVIRAL
  • RUANG OPINI
    • TOKOH
    • CAHAYA PASUNDAN
  • PASGALERI
  • BERANDA
    • PASBANDUNG
    • PASJABAR
    • PASNUSANTARA
    • PASDUNIA
  • PASBISNIS
    • PASFINANSIAL
  • PASPENDIDIKAN
    • PASKESEHATAN
  • PASOLAHRAGA
  • PASHIBURAN
    • PASBUDAYA
    • PASKREATIF
    • PASVIRAL
  • RUANG OPINI
    • TOKOH
    • CAHAYA PASUNDAN
  • PASGALERI
No Result
View All Result
PASJABAR
No Result
View All Result
Home HEADLINE

Yang Tak Pernah Naik Bersama Upah

admin
Kamis. 1 Mei 2025 - 11:00
upah

ilustrasi. (foto: istockphoto)

Share on FacebookShare on Twitter
Opini Kegaduhan Politik
Dosen Yayasan Pendidikan Tinggi Pasundan Dpk FH UNPAS, Firdaus Arifin. (foto: pasjabar)

Oleh: Firdaus Ariifin, Dosen FH Unpas & Sekretaris APHTN HAN Jawa Barat (Upah)

WWW.PASJABAR.COM – Setiap tahun, kita menyusun panggung. Ada spanduk, orasi, pengeras suara. Ada sorakan yang menggema dari massa, dari tenda-tenda yang dirakit terburu-buru, dari ketegangan yang disimpan semalaman. May Day, seperti yang kita kenal, adalah panggung yang tak pernah benar-benar sunyi. Tapi juga tidak pernah benar-benar didengar.

RELATED POSTS

Hantavirus Gegerkan Publik, Wamenkes Dante Ngaku Indonesia Belum Terancam

Sidang Terbuka Doktor Unpas, Elin Herlina Raih Predikat Pujian dengan Penelitian tentang UMKM Batik Priangan Timur

Tahun ini, Presiden datang. Ia hadir di tengah massa buruh, berdiri di atas podium, menyapa dengan tangan setengah terangkat. Ia bicara tentang niat baik, tentang komitmen, tentang reformasi yang akan datang. Tapi pidato, seperti musim, selalu tiba sesuai kalender. Dan seperti musim pula, ia sering datang tanpa perubahan.

Yang naik setiap tahun adalah panggung. Tapi sesuatu tetap tinggal di bawah: upah, dan semua yang digantungkan padanya.

Sunyi

Upah adalah suara yang paling sering dibungkam dengan angka. Ia dihitung, ditakar, dijustifikasi dengan pertumbuhan ekonomi, inflasi, indeks konsumsi, dan biaya logistik. Tapi dalam bilangan itu, tak pernah ada rasa lelah. Tak ada jam lembur. Tak ada harga rumah kontrakan, susu anak, atau obat lambung.

Yang tak pernah naik bersama upah adalah kepastian. Bahwa bekerja seharusnya membuat seseorang hidup lebih layak, bukan sekadar bertahan. Bahwa kerja bukan hanya kewajiban, tetapi hak untuk dihormati sebagai manusia.

Pekerja rumah tangga, misalnya, bekerja dalam ruang yang paling privat tapi tak pernah mendapat ruang dalam hukum. Lebih dari dua dekade RUU PPRT dibicarakan. Tapi yang lahir bukan perlindungan, melainkan janji yang ditunda.

Di sektor digital, para pengemudi daring bekerja tanpa upah tetap. Mereka disebut mitra. Kata yang sopan, tapi mematikan. Sebab di balik itu, tak ada cuti. Tak ada pensiun. Tak ada perlindungan. Tak ada negara.

Bayang

Dulu, buruh turun ke jalan membawa mimpi. Hari ini, mereka membawa kenangan tentang janji yang tak ditepati. Mimpi itu berubah bentuk: menjadi proposal yang ditolak, menjadi serikat yang dibubarkan, menjadi rapat yang ditunda.

Kita menyebut mereka tulang punggung ekonomi. Tapi tubuh yang menopang ini terus-menerus ditekuk. Mereka disuruh sabar. Disuruh menunggu. Disuruh memahami kepentingan investasi.

Sementara itu, gaji pejabat naik. Tunjangan birokrasi bertambah. Tapi upah buruh? Ditahan oleh formula yang tak pernah berpihak. Yang naik bersama inflasi bukan penghasilan mereka, tapi kekhawatiran.

Di ruang-ruang rapat elite, kata “buruh” jarang disebut. Tapi mereka tetap bekerja. Tanpa disebut pun, mereka menjaga negeri ini tetap berdenyut.

Gelap

Di balik setiap angka upah minimum, ada yang disembunyikan. Biaya hidup yang melonjak. Kontrak kerja yang tak jelas. Ancaman PHK yang mengintai. Dan janji-janji hukum yang tak kunjung dijadikan keputusan.

Negara membanggakan pertumbuhan ekonomi. Tapi pertumbuhan itu sering berjalan sendiri. Ia tak menoleh ke tukang sapu, ke buruh garmen, ke pekerja tambang, ke perawat tanpa status ASN.

RUU PPRT masih tertahan. RUU Perampasan Aset digantung. Satgas PHK hanya ide. Dan pengawasan ketenagakerjaan berjalan seperti ritual yang tak punya otoritas.

Yang naik di papan indikator ekonomi adalah keyakinan pasar. Tapi yang jatuh di rumah-rumah sempit di pinggiran kota adalah keyakinan rakyat.

Tangga

Setiap orang ingin naik tangga hidup. Tapi bagi buruh, tangga itu sering kali miring. Mereka memulai dari bawah. Tapi tak ada yang menjamin akan sampai ke atas.

Sistem kontrak membuat mereka tak punya jenjang. Sistem outsourcing membuat mereka tak punya masa kerja yang diakui. Dan sistem pengupahan membuat mereka terus melangkah di tempat.

Kita sering bicara tentang meritokrasi. Tentang kerja keras yang akan dibalas. Tapi kenyataannya, kerja keras buruh dibayar dengan surat kontrak tiga bulan yang terus diperpanjang.

Tak ada jabatan. Tak ada promosi. Yang ada hanya penggantian kartu identitas perusahaan setiap kali diperpanjang. Nama perusahaan berubah. Nasib tetap sama.

Gaung

Buruh bersuara setiap 1 Mei. Tapi suara itu jarang menggema. Ia dipantulkan oleh tembok-tembok gedung tinggi. Ia ditelan oleh strategi pengamanan. Ia diliput, tapi tak ditindaklanjuti.

Media menulis headline. Politikus membuat pernyataan. Presiden hadir. Tapi besoknya, harga kebutuhan pokok naik. Besoknya, PRT tetap tidak punya kontrak. Besoknya, pekerja lepas tetap tanpa jaminan kesehatan.

Hari Buruh seharusnya bukan seremoni. Tapi sudah terlalu lama peringatan ini hanya jadi tanda baca—bukan paragraf baru dalam sejarah perburuhan kita.

Peluh

Kerja adalah peluh yang tak selalu dihargai. Ia bukan sekadar soal gaji. Tapi tentang martabat. Tentang waktu bersama keluarga yang terambil. Tentang tubuh yang lelah sebelum waktunya. Tentang masa depan yang tak bisa direncanakan.

Upah yang naik bukan berarti hidup jadi lebih baik. Karena saat upah naik, biaya hidup sering naik lebih dulu. Keseimbangan itu palsu. Dan yang membayar harga tertingginya adalah mereka yang tidak pernah bisa menolak kerja.

Kita bicara tentang produktivitas. Tapi tak pernah bicara tentang kesehatan mental buruh. Tentang tidur yang cukup. Tentang keamanan kerja. Tentang ruang tumbuh yang wajar.

Janji

Negara tak pernah kekurangan janji. Tapi janji, seperti juga panggung, harus dibongkar jika tidak digunakan.

Buruh tidak butuh dibela. Mereka butuh diperlakukan adil. Mereka tidak minta dikasihani. Mereka hanya ingin dihargai.

Upah bukan sekadar kompensasi kerja. Ia adalah bentuk penghormatan. Jika negara membiarkan upah tetap rendah, itu bukan semata soal ekonomi. Itu adalah pernyataan ideologis bahwa buruh tak penting.

Dan itu, dalam republik yang katanya demokratis, adalah pengkhianatan terhadap konstitusi.

Akhir

Setelah semua spanduk dilipat, setelah presiden turun dari panggung, dan setelah pengeras suara dimatikan, buruh kembali ke tempat mereka bekerja.

Mereka tetap datang pagi-pagi. Tetap menaati jam lembur. Tetap menerima gaji yang sama. Tetap menahan diri untuk tidak bersuara terlalu keras. Sebab terlalu banyak yang pernah dipecat hanya karena bersuara.

Dan negara? Mungkin sedang menyiapkan panggung tahun depan. (han)

Disclaimer

Informasi dalam artikel ini disajikan untuk tujuan informasi umum. Redaksi Pasjabar berupaya menyajikan data yang akurat dan terkini, namun tidak menjamin kelengkapan dan keakuratan sepenuhnya.

Pembaca diharapkan melakukan verifikasi tambahan sebelum mengambil keputusan berdasarkan informasi ini. Segala risiko yang timbul dari penggunaan informasi menjadi tanggung jawab pembaca.

Jika terdapat kekeliruan atau ingin mengajukan hak jawab, silakan kunjungi halaman: Disclaimer.

Editor: admin
Tags: Hari Buruh InternasionalMay DayOpiniupah
Share30Tweet19

Related Posts

Hantavirus Indonesia

Hantavirus Gegerkan Publik, Wamenkes Dante Ngaku Indonesia Belum Terancam

Yatti Chahyati
Selasa. 12 Mei 2026 - 19:29
0

# Hantavirus Indonesia BANDUNG, WWW.PASJABAR.COM – Wakil Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Dante Saksono Harbuwono, memastikan Hantavirus tidak akan memicu pandemi...

Sidang Doktor Elin Herlina

Sidang Terbuka Doktor Unpas, Elin Herlina Raih Predikat Pujian dengan Penelitian tentang UMKM Batik Priangan Timur

Yatti Chahyati
Selasa. 12 Mei 2026 - 16:18
0

# Sidang Doktor Elin Herlina BANDUNG, WWW.PASJABAR.COM – Pascasarjana Universitas Pasundan (Unpas) menggelar sidang terbuka ujian promosi doktor Program Doktor...

FIFA Futsal World Cup 2028

Indonesia Ajukan Jadi Tuan Rumah FIFA Futsal World Cup 2028

Yatti Chahyati
Selasa. 12 Mei 2026 - 14:00
0

WWW.PASJABAR.COM - Ketua Umum Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia, Erick Thohir, mengungkapkan perkembangan komunikasi dengan FIFA terkait rencana Indonesia mengajukan...

The Lord of the Rings 2026

Amazon MGM Studios Majukan Jadwal The Lord of the Rings 2026

Yatti Chahyati
Selasa. 12 Mei 2026 - 13:00
0

WWW.PASJABAR.COM - Serial fantasi populer The Lord of the Rings: The Rings of Power akan kembali hadir dengan musim ketiga...

kesehatan hewan kurban bandung

Ratusan Petugas Awasi Kesehatan Hewan Kurban di Kota Bandung

Yatti Chahyati
Selasa. 12 Mei 2026 - 12:00
0

BANDUNG, WWW.PASJABAR.COM - Pemerintah Kota Bandung mulai memperketat pengawasan kesehatan hewan kurban menjelang Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah. Melalui...

Next Post
LeBron

LeBron Bukan Lagi Andalan, Lakers Angkat Koper

Raphinha Lampaui Messi, Barcelona Imbang 3-3 Lawan Inter

Raphinha Lampaui Messi, Barcelona Imbang 3-3 Lawan Inter

RECOMMENDED

UMKM Bandung

Perintis Berdaya Connect Buka Jalan UMKM Bandung Tembus Pasar Lebih Luas

Selasa. 12 Mei 2026 - 19:42
Hantavirus Indonesia

Hantavirus Gegerkan Publik, Wamenkes Dante Ngaku Indonesia Belum Terancam

Selasa. 12 Mei 2026 - 19:29
  • 640 Followers
  • 23.9k Followers

MOST VIEWED

  • Bandung panas

    Cuaca Bandung Hari Ini Terasa Lebih Panas, Ini Penyebabnya

    85 shares
    Share 34 Tweet 21
  • 19 Sekolah di Jawa Barat Resmi Jadi Sekolah Maung 2026, Diterapkan di Tahun Ajaran Baru

    80 shares
    Share 32 Tweet 20
  • Menanti Dominasi Manis Persib atas Persija

    79 shares
    Share 32 Tweet 20
  • Dr. Nenden Euis Sri Mulyati Terpilih Menjadi Ketua IKA Unpas 2026–2031

    78 shares
    Share 31 Tweet 20
  • Fakta Menarik di Balik Kemenangan Persib atas Persija

    77 shares
    Share 31 Tweet 19
PASJABAR

© 2026 PASJABAR</a

Navigate Site

  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber
  • Alamat Redaksi & Iklan

Follow Us

Ok

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

Powered by
►
Necessary cookies enable essential site features like secure log-ins and consent preference adjustments. They do not store personal data.
None
►
Functional cookies support features like content sharing on social media, collecting feedback, and enabling third-party tools.
None
►
Analytical cookies track visitor interactions, providing insights on metrics like visitor count, bounce rate, and traffic sources.
None
►
Advertisement cookies deliver personalized ads based on your previous visits and analyze the effectiveness of ad campaigns.
None
►
Unclassified cookies are cookies that we are in the process of classifying, together with the providers of individual cookies.
None
Powered by
No Result
View All Result
  • BERANDA
    • PASBANDUNG
    • PASJABAR
    • PASNUSANTARA
    • PASDUNIA
  • PASBISNIS
    • PASFINANSIAL
  • PASPENDIDIKAN
    • PASKESEHATAN
  • PASOLAHRAGA
  • PASHIBURAN
    • PASBUDAYA
    • PASKREATIF
    • PASVIRAL
  • RUANG OPINI
    • TOKOH
    • CAHAYA PASUNDAN
  • PASGALERI

© 2026 PASJABAR</a