• Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber
  • Alamat Redaksi & Iklan
No Result
View All Result
PASJABAR
Jumat, 15 Mei 2026
  • Login
  • BERANDA
    • PASBANDUNG
    • PASJABAR
    • PASNUSANTARA
    • PASDUNIA
  • PASBISNIS
    • PASFINANSIAL
  • PASPENDIDIKAN
    • PASKESEHATAN
  • PASOLAHRAGA
  • PASHIBURAN
    • PASBUDAYA
    • PASKREATIF
    • PASVIRAL
  • RUANG OPINI
    • TOKOH
    • CAHAYA PASUNDAN
  • PASGALERI
  • BERANDA
    • PASBANDUNG
    • PASJABAR
    • PASNUSANTARA
    • PASDUNIA
  • PASBISNIS
    • PASFINANSIAL
  • PASPENDIDIKAN
    • PASKESEHATAN
  • PASOLAHRAGA
  • PASHIBURAN
    • PASBUDAYA
    • PASKREATIF
    • PASVIRAL
  • RUANG OPINI
    • TOKOH
    • CAHAYA PASUNDAN
  • PASGALERI
No Result
View All Result
PASJABAR
No Result
View All Result
Home HEADLINE

Hikayat Bendera

admin
Kamis. 7 Agustus 2025
Bendera

ilustrasi. (foto: istockphoto)

Share on FacebookShare on Twitter
Opini Kegaduhan Politik
Dosen Yayasan Pendidikan Tinggi Pasundan Dpk FH UNPAS, Firdaus Arifin. (foto: pasjabar)

Oleh: Firdaus Arifin, Dosen FH Unpas dan Sekretaris APHTN HAN Jawa Barat (Hikayat Bendera)

WWW.PASJABAR.COM — Di tiang-tiang bambu yang dulu ditegakkan dengan harap dan darah, bendera pernah menjadi lebih dari sehelai kain. Ia menjelma lambang. Bukan semata tanda milik atau simbol negara, melainkan penjelmaan dari mimpi, luka, dan martabat kolektif. Merah dan putih, dalam sejarah Indonesia, bukan sekadar warna. Ia adalah kontrak tak tertulis antara rakyat dan tanah air, bahwa apa pun yang terjadi, kehormatan tak boleh diremehkan. Bahwa mati untuk sepotong kain bisa menjadi hidup untuk sebuah keyakinan.

RELATED POSTS

Inter Milan Raih Double Winners, Ketua Senat Italia Tetap Beri Kritik Pedas untuk Cristian Chivu

Sempurna! Inter Milan Segel Gelar Double Winners Usai Tekuk Lazio di Final Coppa Italia

Namun di tengah parade zaman, simbol bisa kehilangan maknanya, atau justru dipaksakan menjadi makna baru. Kita hidup di zaman ketika anak muda lebih menghafal bendera bajak laut daripada mengingat tanggal lahir pahlawan nasional. Sebagian menyebutnya krisis identitas. Sebagian lagi menyebutnya evolusi budaya.

Fiksi

Bendera One Piece, atau lebih tepatnya Jolly Roger, adalah simbol dari dunia fiksi. Dunia yang diciptakan Eiichiro Oda dalam bentuk manga, namun lalu hidup dalam imajinasi jutaan manusia. Tengkorak tersenyum dengan topi jerami bukan sekadar lambang bajak laut. Ia adalah mimpi tentang kebebasan, persahabatan, dan melawan tirani. Dalam dunia yang penuh sensor, hukum, dan batas, Luffy dan krunya mengajarkan satu hal sederhana: bahwa untuk menjadi manusia merdeka, kadang kita harus melawan arus.

Namun bagaimana jika bendera fiksi itu berkibar di bawah bendera nyata? Bagaimana jika tengkorak tersenyum itu menari di tiang yang seharusnya menegakkan kehormatan negara? Apakah itu bentuk ekspresi? Atau justru bentuk subversi?

Konflik

Pemerintah bereaksi. Larangan dikeluarkan. Pasal-pasal diingatkan. UU Nomor 24 Tahun 2009 kembali dikutip. Simbol negara tidak boleh diduakan, apalagi disandingkan. Dalam logika kekuasaan, simbol adalah wilayah sakral. Menyentuhnya tanpa izin adalah dosa. Menandingi dengan simbol lain adalah penghinaan.

Tapi bagaimana jika anak-anak muda tak sedang menandingi, melainkan sedang mencari makna baru dari kebangsaan yang terasa hampa? Mungkin, bagi mereka, bendera Merah Putih telah kehilangan cerita. Sementara Jolly Roger punya narasi, petualangan, dan integritas meski fiktif. Ini bukan semata soal fanatisme terhadap anime, melainkan haus akan narasi yang jujur.

Bendera selalu lebih dari sekadar kain. Ia menyimpan makna yang dikonstruksi. Di zaman revolusi, ia simbol perlawanan. Di zaman damai, ia simbol kesatuan. Di zaman digital, ia bisa menjadi meme, avatar, atau template.

Yang dipersoalkan bukan bentuknya, tapi maknanya. Ketika orang mengibarkan bendera, yang mereka ingin tunjukkan bukan warna atau gambar, tetapi siapa mereka. Apa yang mereka perjuangkan. Apa yang mereka percayai. Maka, pertanyaannya bukan kenapa orang mengibarkan Jolly Roger, tetapi kenapa mereka merasa lebih terwakili oleh tengkorak tersenyum daripada simbol resmi negara?

Parodi

Dalam banyak kasus, rakyat menggunakan simbol fiksi untuk menyindir kenyataan. Luffy melawan Pemerintah Dunia yang korup dan menindas. Di dunia nyata, banyak orang merasa hidup dalam sistem yang tak jauh berbeda. Maka Jolly Roger bukan sekadar lambang fandom, tapi juga kritik sosial. Parodi terhadap negara yang kehilangan arah.

Tapi kekuasaan tak mengenal ironi. Ia hanya mengenal loyalitas atau pemberontakan. Ketika seorang remaja mengibarkan Jolly Roger di bawah Merah Putih, ia tak dilihat sebagai pemuda yang haus makna, tapi sebagai ancaman. Negara panik. Padahal yang dibutuhkan mungkin hanya ruang dialog.

Kita hidup di zaman hiper-simbol. Semuanya direpresentasikan oleh logo, emoji, stiker. Simbol menjadi bahasa baru. Tapi di balik semua itu, ada kebutuhan yang lebih dalam: representasi. Manusia ingin merasa dilihat. Diakui. Dipahami.

Jolly Roger berhasil menjadi simbol bukan karena dipaksakan, tapi karena diciptakan oleh imajinasi dan loyalitas emosional. Sementara Merah Putih, dalam banyak ruang publik, menjadi simbol yang wajib, tapi kadang tak lagi hidup. Tidak mati, tapi tidur.

Kesadaran

Barangkali yang kita butuhkan bukan melarang, tapi menghidupkan kembali. Menghidupkan cerita-cerita di balik bendera negara. Menyuntikkan narasi-narasi keberanian dan ketulusan. Mengajarkan bahwa Merah Putih bukan simbol negara karena peraturan, tapi karena pengorbanan. Bahwa ia bukan lambang kekuasaan, tapi perjuangan.

Negara yang percaya diri tidak takut pada bendera fiksi. Ia justru belajar darinya. Belajar bagaimana membangun simbol yang hidup, bukan hanya ada. Belajar bahwa generasi muda tak bisa dipaksa hormat, tapi bisa diajak merasa memiliki.

Pada akhirnya, hikayat bendera bukan tentang kain, tapi tentang kepercayaan. Tentang siapa yang dipercaya membawa harapan. Di dunia Luffy, harapan ada di kapal kecil dengan layar sobek dan tawa tulus. Di dunia kita, harapan seharusnya ada di ruang-ruang publik, di tiang-tiang bendera yang tegak, di cerita-cerita tentang bangsa yang jujur dan tak lupa dari mana ia berasal.

Barangkali saatnya kita tidak hanya memaksa orang hormat kepada bendera. Tapi membuat mereka kembali jatuh cinta padanya. (han)

Disclaimer

Informasi dalam artikel ini disajikan untuk tujuan informasi umum. Redaksi Pasjabar berupaya menyajikan data yang akurat dan terkini, namun tidak menjamin kelengkapan dan keakuratan sepenuhnya.

Pembaca diharapkan melakukan verifikasi tambahan sebelum mengambil keputusan berdasarkan informasi ini. Segala risiko yang timbul dari penggunaan informasi menjadi tanggung jawab pembaca.

Jika terdapat kekeliruan atau ingin mengajukan hak jawab, silakan kunjungi halaman: Disclaimer.

Editor: admin
Tags: benderaHikayat BenderaMerah dan putihOpinisejarah Indonesiasimbol negara
Share30Tweet19

Related Posts

Pelatih Inter Milan, Christian Chivu, mengangkat trofi Coppa Italia. Inter Milan sukses merebut trofi Coppa Italia 2025-2026 usai mengalahkan Lazio 2-0 di partai final. Pertandingan Lazio vs Inter Milan berlangsung di Stadion Olimpico, Roma, Kamis (14/5/2026) dini hari WIB.(AFP/ALBERTO PIZZOLI)

Inter Milan Raih Double Winners, Ketua Senat Italia Tetap Beri Kritik Pedas untuk Cristian Chivu

pri
Kamis. 14 Mei 2026
0

ROMA, WWW.PASJABAR.COM – Keberhasilan Inter Milan merengkuh gelar Coppa Italia 2025/2026 setelah mengalahkan Lazio 2-0 di Stadion Olimpico, Kamis (14/5/2026),...

Inter Milan sudah 10 gelar Coppa Italia, cuma kalah dari Juventus. (REUTERS/Guglielmo Mangiapane)

Sempurna! Inter Milan Segel Gelar Double Winners Usai Tekuk Lazio di Final Coppa Italia

pri
Kamis. 14 Mei 2026
0

ROMA, WWW.PASJABAR.COM – Inter Milan sukses mengukir sejarah baru di kancah sepak bola Italia musim 2025/2026. Pasukan Nerazzurri berhasil merengkuh...

Vietnam berhasil lolos ke Piala Dunia U-17 2026. (ANTARA FOTO/Umarul Faruq)

Vietnam Jadi Wakil Tunggal ASEAN di Piala Dunia U-17 2026, Indonesia dan Thailand Gugur

pri
Kamis. 14 Mei 2026
0

HANOI, WWW.PASJABAR.COM – Tim nasional Vietnam mengukir prestasi gemilang dengan menjadi satu-satunya negara dari kawasan Asia Tenggara (ASEAN) yang berhasil...

Laga Borneo FC vs Persib Bandung. (Foto: Official Persib)

Gelar Juara Ditentukan hingga Pekan Terakhir, I.League Siapkan Trofi di Dua Lokasi

pri
Kamis. 14 Mei 2026
0

JAKARTA, WWW.PASJABAR.COM – Direktur Operasional I.League, Asep Saputra, mengungkapkan bahwa pihaknya telah menyiapkan dua skema penyerahan trofi juara BRI Super...

Persib Bandung

Persib Pincang Hadapi PSM Makassar: Bojan Hodak, Barba, dan Lucho Dipastikan Absen

pri
Kamis. 14 Mei 2026
0

BANDUNG, WWW.PASJABAR.COM – Persib Bandung harus menghadapi ujian berat pada pekan ke-33 Super League 2025/2026. Tim berjuluk Maung Bandung ini...

Next Post
film weapons

Weapons (2025), Film Horor Psikologis Sarat Misteri dan Kritik Sosial

unpas

Mahasiswa Unpas, Ini Cara Seru Menghafal Materi Kuliahmu

RECOMMENDED

Pelatih Inter Milan, Christian Chivu, mengangkat trofi Coppa Italia. Inter Milan sukses merebut trofi Coppa Italia 2025-2026 usai mengalahkan Lazio 2-0 di partai final. Pertandingan Lazio vs Inter Milan berlangsung di Stadion Olimpico, Roma, Kamis (14/5/2026) dini hari WIB.(AFP/ALBERTO PIZZOLI)

Inter Milan Raih Double Winners, Ketua Senat Italia Tetap Beri Kritik Pedas untuk Cristian Chivu

Kamis. 14 Mei 2026
Inter Milan sudah 10 gelar Coppa Italia, cuma kalah dari Juventus. (REUTERS/Guglielmo Mangiapane)

Sempurna! Inter Milan Segel Gelar Double Winners Usai Tekuk Lazio di Final Coppa Italia

Kamis. 14 Mei 2026
  • 640 Followers
  • 23.9k Followers

MOST VIEWED

  • Bandung panas

    Cuaca Bandung Hari Ini Terasa Lebih Panas, Ini Penyebabnya

    89 shares
    Share 36 Tweet 22
  • Jepang dan Uzbekistan Pimpin Daftar Negara Lolos ke Delapan Besar AFC U-17 2026

    84 shares
    Share 34 Tweet 21
  • 19 Sekolah di Jawa Barat Resmi Jadi Sekolah Maung 2026, Diterapkan di Tahun Ajaran Baru

    82 shares
    Share 33 Tweet 21
  • Sidang Doktor Nova Maulida Bahas Inovasi Pelayanan Sosial di Kabupaten Bandung

    79 shares
    Share 32 Tweet 20
  • Menanti Dominasi Manis Persib atas Persija

    79 shares
    Share 32 Tweet 20
PASJABAR

© 2026 PASJABAR</a

Navigate Site

  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber
  • Alamat Redaksi & Iklan

Follow Us

Ok

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

Powered by
►
Necessary cookies enable essential site features like secure log-ins and consent preference adjustments. They do not store personal data.
None
►
Functional cookies support features like content sharing on social media, collecting feedback, and enabling third-party tools.
None
►
Analytical cookies track visitor interactions, providing insights on metrics like visitor count, bounce rate, and traffic sources.
None
►
Advertisement cookies deliver personalized ads based on your previous visits and analyze the effectiveness of ad campaigns.
None
►
Unclassified cookies are cookies that we are in the process of classifying, together with the providers of individual cookies.
None
Powered by
No Result
View All Result
  • BERANDA
    • PASBANDUNG
    • PASJABAR
    • PASNUSANTARA
    • PASDUNIA
  • PASBISNIS
    • PASFINANSIAL
  • PASPENDIDIKAN
    • PASKESEHATAN
  • PASOLAHRAGA
  • PASHIBURAN
    • PASBUDAYA
    • PASKREATIF
    • PASVIRAL
  • RUANG OPINI
    • TOKOH
    • CAHAYA PASUNDAN
  • PASGALERI

© 2026 PASJABAR</a