BANDUNG, WWW.PASJABAR.COM— Di usianya yang masih belia, Ni Made Rike Widhya Febiola atau akrab disapa Made, Rike, dan Febi sudah melangkah jauh melampaui batas geografis dan zona nyaman. Lahir di Bandung, 8 Februari 2007, Rike tumbuh sebagai remaja dengan rasa ingin tahu yang besar. Di sela hobinya bermain badminton dan menulis, ia diam-diam menyiapkan diri untuk sesuatu yang lebih besar: memahami dunia.
Ketertarikannya pada pendidikan internasional bukan sekadar ambisi sesaat. “Saya ingin melihat langsung bagaimana sistem pendidikan di negara maju berjalan, sekaligus memperkenalkan budaya Indonesia ke masyarakat internasional,” ujar Rike.
Perjalanan menuju Amerika Serikat bukan hal yang instan. Sejak Agustus, ia telah melalui serangkaian seleksi panjang, mulai dari administrasi, esai, hingga wawancara. Ia juga harus bersaing di tingkat chapter Bandung dan nasional di Jakarta.
“Prosesnya panjang dan cukup menantang, tapi justru dari situ saya belajar tentang konsistensi dan percaya diri,” katanya.
Usahanya berbuah manis. Rike diterima sebagai peserta pertukaran pelajar dan ditempatkan di Minnesota, tepatnya di kota Saint Paul, untuk bersekolah di Central High School.
Namun, kehidupan di Amerika tidak langsung terasa nyaman. Perbedaan budaya menjadi tantangan pertama yang harus ia hadapi.
“Yang paling kaget itu makanan dan cuaca. Tidak ada nasi, rasanya juga lebih hambar. Tapi yang paling berat itu musim dingin, suhunya bisa sampai minus 30 derajat,” ungkapnya.
Ia bahkan sempat merasa kewalahan di awal. “Saya pernah menangis karena belum terbiasa dengan suhu sedingin itu. Tapi lama-lama saya belajar beradaptasi dan jadi lebih kuat.”
Di sekolah, Rike menemukan suasana belajar yang berbeda. Hubungan guru dan murid terasa lebih dekat dan santai. Sistem pembelajaran pun lebih fleksibel.
“Dalam sehari hanya sekitar empat mata pelajaran, dan kita bisa pilih sesuai minat. Itu membuat belajar jadi lebih menyenangkan,” jelasnya.
Teknologi juga menjadi bagian penting dalam proses belajar.
“Saya dapat iPad dari sekolah, semua tugas dikumpulkan secara online. Sistemnya transparan, jadi kita tahu nilai dan perkembangan kita dengan jelas,” tambah Rike.
Fasilitas sekolah yang lengkap membuatnya takjub. Namun, yang paling berkesan justru adalah kesetaraan kualitas pendidikan.
“Di sana tidak ada istilah sekolah unggulan. Hampir semua sekolah punya fasilitas dan kualitas yang sama, jadi semua siswa punya kesempatan yang setara.”
Salah satu pengalaman paling membekas adalah saat ia mengikuti kabaret sekolah. Dari proses audisi yang ketat, Rike berhasil lolos sebagai dancer, bahkan dipercaya menjadi dance captain.
“Itu salah satu momen paling berharga. Lingkungannya sangat suportif, teman-teman selalu memberi semangat. Saya jadi lebih percaya diri,” kenangnya.
Di atas panggung, ia merasakan apresiasi yang hangat dari penonton.
“Saat tampil dan melihat penonton tersenyum serta bertepuk tangan, rasanya sangat terharu. Apalagi host family saya juga datang mendukung,” ungkapnya kepada PASJABAR, Rabu (8/4/2026).
Tak hanya soal akademik dan kegiatan sekolah, Rike juga mendapat pelajaran berharga dari interaksi lintas budaya. Ia tinggal bersama siswa pertukaran dari India yang kemudian menjadi sangat dekat dengannya.
“Kami sering berdiskusi bahkan berdebat, tapi dari situ saya belajar bahwa perbedaan itu bukan penghalang. Justru itu yang membuat kita bisa saling memahami,” ujarnya.
Pengalaman tersebut membentuk cara pandangnya tentang dunia.
“Saya jadi lebih sadar bahwa toleransi dan perdamaian itu penting, dan bisa dimulai dari hal kecil seperti saling menghargai.”
Kini, Rike kembali dengan perspektif yang lebih luas. Ia tidak hanya membawa pengalaman, tetapi juga semangat untuk berkontribusi bagi pendidikan di Indonesia.
Bagi generasi muda yang ingin mengikuti jejaknya, ia punya pesan sederhana.
“Jangan takut keluar dari zona nyaman. Berani mencoba, terus belajar, dan jangan takut gagal. Semua proses itu yang akan membentuk kita,” tandasnya.
Dari Bandung ke Amerika, perjalanan Rike bukan sekadar perpindahan tempat. Ini adalah kisah tentang keberanian, adaptasi, dan mimpi yang diperjuangkan, pelan, tapi pasti. (tiwi)












