BANDUNG, WWW.PASJABAR.COM – Program Pascasarjana Universitas Pasundan (Unpas) kembali melahirkan doktor baru. Karmin Suharna resmi meraih gelar Doktor Ilmu Sosial setelah menjalani Sidang Promosi Doktor yang digelar pada Rabu (17/12/2025) di Aula Mandalasaba dr. Djoenjoenan, Gedung Pascasarjana Unpas, Jalan Sumatra No. 41, Kota Bandung.
Sidang promosi doktor tersebut dipimpin oleh Ketua Sidang Prof. Dr. H. Azhar Affandi, S.E., M.Sc. dengan promotor Prof. Dr. H. M. Didi Turmudzi, M.Si. serta co-promotor Prof. Dr. H. Yaya Mulyana A. A, M.Si. dan Prof. Dr. H. Ali Anwar, M.Si.
Adapun tim penelaah dan penguji terdiri dari Prof. Dr. H. Kamal Alamsyah, M.Si., Prof. Dr. H. Thomas Bustomi, M.Si., dan Prof. Dr. H. Bambang Heru P., M.S.

Karmin mempertahankan disertasinya yang berjudul “Efektivitas Strategi Pemerintah dalam Upaya Menanggulangi Radikalisme dan Terorisme di Indonesia.”
Penelitian tersebut mengkaji efektivitas strategi pemerintah dalam menghadapi ancaman radikalisme dengan menyoroti tantangan koordinasi antarinstansi, efektivitas program kontra-radikalisasi dan deradikalisasi, serta pengaruh faktor sosial, budaya, dan ekonomi.
Tantangan Koordinasi dan Ancaman Radikalisme ke Depan
Dalam disertasinya, Karmin menggunakan metode kualitatif studi kasus berbasis analisis dokumen kebijakan, diskusi kelompok terfokus (FGD), serta wawancara mendalam dengan para pemangku kepentingan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemerintah telah membangun struktur kelembagaan dan sistem koordinasi yang relatif komprehensif, namun efektivitas substantif dalam menekan penyebaran ideologi radikal dan memperkuat ketahanan sosial belum sepenuhnya tercapai.
Kendala utama terletak pada koordinasi lintas lembaga seperti Kemenko Polhukam, BNPT, TNI, Polri, serta kementerian dan lembaga lainnya yang menyebabkan implementasi kebijakan belum terintegrasi secara optimal.

Selain itu, faktor sosial budaya seperti intoleransi, stigma terhadap mantan pelaku radikalisasi, serta ketimpangan ekonomi turut menjadi penghambat keberhasilan program deradikalisasi.
Usai sidang, Karmin menjelaskan bahwa ketertarikannya meneliti isu ini berangkat dari kekhawatiran terhadap ancaman radikalisme bagi masa depan bangsa.
“Maksud dan tujuan saya sebetulnya ingin melihat ancaman radikalisme itu sebagai ancaman yang sangat berbahaya ke depan untuk negeri ini, untuk Indonesia,” ujar Karmin.
Ia menegaskan bahwa pemikiran radikal dapat berkembang menjadi tindakan terorisme yang berdampak luas.
“Pemikiran radikal itu bisa berdampak kepada hal-hal yang lebih besar, tindakan teror dari pemikiran radikal. Kalau sudah sampai ke tindakan terorisme, maka kerugian personel dan kerugian material akan kita alami, bahkan stabilitas nasional bisa terganggu,” katanya.
Melalui penelitiannya, Karmin berharap upaya pencegahan dapat dilakukan sejak dini.

“Harapannya, radikalisme bisa dieliminasi dari awal melalui penguatan ideologi yang baik dan perbaikan sistem yang ada sekarang. Kalau pun masih ada, prosentasenya semakin kecil, bahkan diharapkan tidak ada,” tambahnya.
Penelitian ini juga merekomendasikan penguatan riset multidisipliner, pengembangan kurikulum pendidikan anti-radikalisme, peningkatan kapasitas aparat melalui pelatihan terpadu, serta pemanfaatan teknologi digital untuk deteksi dini dan penyebaran narasi tandingan.
Pendekatan inklusif dengan melibatkan komunitas lokal dinilai menjadi kunci keberhasilan jangka panjang.
Karmin dinyatakan lulus dengan IPK akhir 3,67 dan yudisium sangat memuaskan, sekaligus tercatat sebagai lulusan ke-307 Doktor Ilmu Sosial Universitas Pasundan. Ia pun menyampaikan rasa bangga dan terima kasihnya kepada Unpas.
“Saya berterima kasih dan merasa bangga bisa studi di sini. Mudah-mudahan Unpas ke depan bisa lebih maju dan lebih jaya karena telah menghasilkan pemikiran-pemikiran yang sangat signifikan, khususnya untuk Jawa Barat dan bangsa Indonesia secara keseluruhan,” tutupnya. (han)












