BANDUNG, WWW.PASJABAR.COM — Pandemi COVID-19 membuat daya beli masyarakat banyak yang menurun. Hal ini turut berdampak jelang perayaan Imlek.
Di Vihara Dharma Ramsi, pesanan lilin ‘raksasa’ alias lilin besar yang biasa jadi bagian perayaan Imlek, menurun cukup tajam pada tahun ini.
“Pesanan lilin turun sekitar 30 persen dari sebelumnya,” kata pengurus Vihara Dharma Ramsi Asikin.
Menurutnya, setiap tahun biasanya pengurus vihara menerima pesanan lebih dari 200 lilin ‘raksasa’ dengan berbagai ukuran. Namun, tahun ini jumlah pesanan kurang dari 200.
“Mungkin karena usaha umat enggak selancar seperti sebelum pandemi. Jadi pesanan juga berkurang,” jelas Asikin.
Namun, hal itu tak lantas menyurutkan kekhasan Imlek. Lilin pesanan umat akan dipasang di lokasi. Meski begitu, proses penyalaan lilin akan berbeda.
Jika biasanya lilin dinyalakan masing-masing pemiliknya sesaat sebelum pergantian tahun baru China atau pada H-1 malam (11 Februari), tahun ini ada metode berbeda. Lilin hanya akan dinyalakan sebagian oleh pengurus saja.
“Kalau umat ada yang nitip mau dinyalakan saat menjelang pergantian tahun, kita nyalakan. Tapi kalau enggak nitip dinyalakan, itu dinyalakan sendiri oleh masing-masing keesokan harinya (12 Februari 2021),” jelas Asikin.
Prosesi penyalaan lilin sendiri punya makna mendalam. Lilin itu jadi simbol doa dan harapan dari warga keturunan Tionghoa agar kehidupannya dalam setahun ke depan menjadi lebih ‘terang’. (ors)












