BANDUNG, WWW.PASJABAR.COM– Kota Malang yang kita kenal hari ini tidak tumbuh begitu saja. Di balik rapi dan indahnya tata kota, tersimpan jejak kolonialisme yang membentuk siapa yang boleh tinggal di pusat kota dan siapa yang harus tersingkir ke pinggiran.
Untuk mengungkap kembali narasi sejarah tersebut, komunitas Temu Sejarah berkolaborasi dengan A Day In Malang menghadirkan kegiatan Temu Sejarah Explore #4: Urbanisme Hindia Belanda di Poros Balai Kota Malang.
Kegiatan ini akan digelar pada Minggu, 18 Mei 2025 pukul 09.00 – 12.00 WIB, dengan format heritage walk menyusuri titik-titik bersejarah di pusat kota Malang.
Mengangkat tema urbanisme kolonial, kegiatan ini mengajak peserta berjalan kaki dari Huize Jhon Coffee hingga SMA Negeri 1 Malang, menyusuri kawasan poros Balai Kota yang menjadi bagian penting dari Bouwplan II—rencana besar tata kota Malang era Hindia Belanda. Kawasan ini merupakan simbol kekuasaan dan eksklusi sosial, di mana akses terhadap ruang kota ditentukan oleh ras dan status.
“Malang bukan hanya kota wisata. Ia adalah dokumen terbuka yang bisa dibaca ulang dari lapis-lapis sejarahnya,” ujar Founder Temu Sejarah, Tiwi Kasavela.
“Lewat kegiatan ini, kami ingin mengajak masyarakat untuk lebih kritis terhadap ruang dan memahami bagaimana masa lalu membentuk ruang hidup hari ini,” tambahnya.
Detail Acara:
• Nama Kegiatan: Temu Sejarah Explore #4: Urbanisme Hindia Belanda di Poros Balai Kota Malang
• Tanggal: Minggu, 18 Mei 2025
• Waktu: 09.00 – 12.00 WIB
• Titik Kumpul: Huize Jhon Coffee, Jl. Majapahit No.6 H7, Klojen, Malang
• HTM: Rp25.000
• Pendaftaran: via WhatsApp 0895-3572-55688
Acara ini terbuka untuk umum dan sangat relevan bagi pecinta sejarah, arsitektur, serta warga kota yang ingin memahami ruangnya secara lebih mendalam.
Informasi lebih lanjut dapat diakses melalui akun Instagram @temusejarah dan @adayinmalang. (tiwi)












