CLOSE ADS
CLOSE ADS
PASJABAR
Senin, 20 April 2026
  • PASJABAR
  • PASBANDUNG
  • PASPENDIDIKAN
  • PASKREATIF
  • PASNUSANTARA
  • PASBISNIS
  • PASHIBURAN
  • PASOLAHRAGA
  • CAHAYA PASUNDAN
  • RUANG OPINI
  • PASJABAR
  • PASBANDUNG
  • PASPENDIDIKAN
  • PASKREATIF
  • PASNUSANTARA
  • PASBISNIS
  • PASHIBURAN
  • PASOLAHRAGA
  • CAHAYA PASUNDAN
  • RUANG OPINI
No Result
View All Result
PASJABAR
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home PASNUSANTARA

Membaca Ulang Peristiwa Madiun 1948 dari Perspektif Sosio-Kultural

Tiwi Kasavela
22 Januari 2026
Membaca Ulang Peristiwa Madiun 1948 dari Perspektif Sosio-Kultural

Membaca Ulang Peristiwa Madiun 1948 dari Perspektif Sosio-Kultural. (Ist)

Share on FacebookShare on Twitter
ADVERTISEMENT

MADIUN, WWW.PASJABAR.COM— Peristiwa Madiun 1948 tidak semata-mata merupakan konflik ideologi dan perebutan kekuasaan politik, melainkan akumulasi kekecewaan sosial yang telah lama terpendam di tengah masyarakat. Kesimpulan ini mengemuka dalam Diskusi Buku #98 Temu Sejarah yang berkolaborasi dengan Historia Van Madioen, Kamis malam (15/1/2026), melalui Zoom.

Diskusi bertajuk “Madiun Affair 1948 dalam Perspektif Sosio-Kultural” ini menghadirkan Septian D. Kharisma sebagai pemantik, dengan Nabia Rizkia sebagai moderator.

Acara yang berlangsung selama 90 menit tersebut diikuti peserta dari berbagai latar belakang, mulai dari mahasiswa, peneliti sejarah, hingga masyarakat umum.

Dalam pemaparannya, Septian menjelaskan bahwa akar Peristiwa Madiun 1948 tidak dapat dilepaskan dari dinamika sosial-budaya masyarakat Madiun sejak masa kolonial. Sejak penerapan kebijakan kolonial pasca-1830, struktur sosial masyarakat mengalami perubahan signifikan. Masuknya industri gula dan kapitalisme kolonial melahirkan kelas sosial baru, memperlemah posisi priyayi tradisional, serta memperdalam kemiskinan dan masalah sosial di pedesaan.

Baca juga:   Brimob Bentak Wartawan Saat Sidang Etik Ferdy Sambo, Kadiv Humas Memohon Maaf

“Struktur masyarakat Madiun sejak kolonial terbagi secara hierarkis, mulai dari penguasa kolonial dan priyayi desa, kiai sebagai elite agama, hingga rakyat kecil seperti petani dan buruh. Relasi feodal dan patron–klien ini melanggengkan ketimpangan sosial,” ujar Septian.

Menurutnya, budaya feodalisme, kharisma elite, serta pola bapakisme membuat dominasi priyayi dan pemuka agama atas wong cilik sulit dipatahkan. Kondisi tersebut semakin tajam pasca-kemerdekaan 1945, ketika Madiun berkembang menjadi pusat revolusi dengan basis buruh, petani, dan organisasi kelaskaran.

Rasionalisasi RERA Memicu Krisis Ekonomi

Septian juga menyoroti kebijakan Rasionalisasi Angkatan Perang (RERA) sebagai titik krusial. RERA dinilai memutus mobilitas sosial pemuda buruh dan petani yang sebelumnya menjadikan laskar sebagai jalan menuju status sosial dan ekonomi yang lebih baik. Penarikan mereka dari struktur militer tidak hanya menurunkan status sosial, tetapi juga memicu krisis ekonomi dan kekecewaan kolektif.

Baca juga:   Angin Puting Beliung Terjang Madiun Sebabkan 515 Rumah Rusak Termasuk Polsek

“Kekecewaan eks-laskar inilah yang kemudian dimobilisasi oleh PKI dan FDR sebagai kekuatan politik. Janji reforma agraria, kesetaraan sosial, serta narasi perjuangan kolektif menjadi alat untuk mengonsolidasikan dukungan di desa-desa,” jelasnya.

Diskusi juga membahas bagaimana konflik agraria, aksi sepihak pembagian tanah, penghapusan tanah bengkok, hingga pergantian pamong desa memicu konflik terbuka di tingkat lokal. Namun, kekerasan yang dilakukan oleh pemerintahan Front Nasional Madiun justru menjadi bumerang. Represi terhadap priyayi, ulama, aparat desa, dan kelompok anti-PKI menurunkan simpati masyarakat luas.

Baca juga:   Candi Sojiwan dan Panggilan Kebijaksanaan dalam Diskusi Buku Temu Sejarah #93

Dalam analisis penutup, Septian menegaskan bahwa kegagalan Peristiwa Madiun 1948 menunjukkan batas-batas hegemoni revolusi PKI. Basis massa yang tumpang tindih, kuatnya pengaruh kiai dan budaya feodal, serta figur Musso yang kalah populer dibanding Sukarno membuat revolusi sosial tersebut tidak mendapatkan dukungan akar rumput yang solid dan akhirnya runtuh dalam waktu singkat.

Diskusi ini menegaskan bahwa Peristiwa Madiun 1948 perlu dipahami secara lebih komprehensif, tidak hanya sebagai peristiwa politik, tetapi juga sebagai ekspresi konflik sosial, budaya, dan kelas dalam masyarakat Indonesia pasca-kemerdekaan. Temu Sejarah berharap kajian sosio-kultural semacam ini dapat membuka ruang diskusi yang lebih kritis dan berimbang terhadap peristiwa-peristiwa penting dalam sejarah nasional. (tiwi)

Print Friendly, PDF & Email
Editor: Tiwi Kasavela
Tags: Peristiwa Madiun 1948SejarahTemu Sejarah


Related Posts

Malia Nur Alifa: Menyingkap Tabir Lembang Melalui Kepingan Sejarah yang Terlupakan
PASBANDUNG

Malia Nur Alifa: Menyingkap Tabir Lembang Melalui Kepingan Sejarah yang Terlupakan

16 April 2026
Sidoarjo dan Brantas: Menelusuri Jejak Peradaban di Hilir Lembah Sungai Terpanjang Kedua di Jawa
PASNUSANTARA

Sidoarjo dan Brantas: Menelusuri Jejak Peradaban di Hilir Lembah Sungai Terpanjang Kedua di Jawa

13 April 2026
Peta Politik Sunda
PASBUDAYA

Menelusur Gurat Holle: Saat Aksara Latin Mengubah Peta Politik Sunda

10 April 2026

Categories

  • CAHAYA PASUNDAN
  • HEADLINE
  • PASBANDUNG
  • PASBISNIS
  • PASBUDAYA
  • PASDUNIA
  • PASFINANSIAL
  • PASGALERI
  • PASHIBURAN
  • PASJABAR
  • PASKESEHATAN
  • PASKREATIF
  • PASNUSANTARA
  • PASOLAHRAGA
  • PASPENDIDIKAN
  • PASTV
  • PASVIRAL
  • RUANG OPINI
  • TOKOH
  • Uncategorized
No Result
View All Result

Trending

google
HEADLINE

Google Perluas Strategi Wearable Lewat Kacamata Pintar Gucci Berbasis XR

19 April 2026

WWW.PASJABAR.COM - Google dilaporkan memperluas strategi pengembangan kacamata pintar berbasis Android XR dengan menggandeng perusahaan optik global...

Permendiktisaintek

Cabut Permendiktisaintek No 3 Tahun 2026, Karena Tidak Adil Bagi PTS

19 April 2026
unpad

Unpad Imbau Peserta UTBK Jatinangor Disiplin Waktu dan Administrasi

19 April 2026
bnpb

BNPB Catat Bencana Serentak Terkini di Sejumlah Wilayah Indonesia

19 April 2026
ITB

ITB Wisuda 2026 Tekankan Pendidikan Inklusif dan Kisah Perjuangan Mahasiswa

19 April 2026

Highlights

BNPB Catat Bencana Serentak Terkini di Sejumlah Wilayah Indonesia

ITB Wisuda 2026 Tekankan Pendidikan Inklusif dan Kisah Perjuangan Mahasiswa

Jabar Bangun PSEL Sarimukti dan Bogor, Atasi Sampah Perkotaan

Dedi Mulyadi: Peradaban Sunda Tertinggi Ada pada Nilai Rasa

Dies Natalis UIN Bandung, Dedi Dorong Akses Kuliah Gratis

Jabar Jadi Pilot Project Program Gentengisasi Rumah Subsidi Nasional

PASJABAR

© 2018 www.pasjabar.com

Navigate Site

  • REDAKSI
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Alamat Redaksi & Iklan

Follow Us

No Result
View All Result
  • PASJABAR
  • PASBANDUNG
  • PASPENDIDIKAN
  • PASKREATIF
  • PASNUSANTARA
  • PASBISNIS
  • PASHIBURAN
  • PASOLAHRAGA
  • CAHAYA PASUNDAN
  • RUANG OPINI

© 2018 www.pasjabar.com

This website uses cookies. By continuing to use this website you are giving consent to cookies being used. Visit our Privacy and Cookie Policy.