CLOSE ADS
CLOSE ADS
PASJABAR
Senin, 20 April 2026
  • PASJABAR
  • PASBANDUNG
  • PASPENDIDIKAN
  • PASKREATIF
  • PASNUSANTARA
  • PASBISNIS
  • PASHIBURAN
  • PASOLAHRAGA
  • CAHAYA PASUNDAN
  • RUANG OPINI
  • PASJABAR
  • PASBANDUNG
  • PASPENDIDIKAN
  • PASKREATIF
  • PASNUSANTARA
  • PASBISNIS
  • PASHIBURAN
  • PASOLAHRAGA
  • CAHAYA PASUNDAN
  • RUANG OPINI
No Result
View All Result
PASJABAR
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home PASNUSANTARA

Sidoarjo dan Brantas: Menelusuri Jejak Peradaban di Hilir Lembah Sungai Terpanjang Kedua di Jawa

Tiwi Kasavela
13 April 2026
Sidoarjo dan Brantas: Menelusuri Jejak Peradaban di Hilir Lembah Sungai Terpanjang Kedua di Jawa

Dalam diskusi "Temu Sejarah", Raymond Valiant membedah bukunya yang bertajuk Brantas Sang Pembawa Berkah. (Ist)

Share on FacebookShare on Twitter
ADVERTISEMENT

Dalam diskusi “Temu Sejarah”, Raymond Valiant membedah bukunya yang bertajuk Brantas Sang Pembawa Berkah. Ia menegaskan bahwa kemajuan peradaban di Jawa Timur tak lepas dari politik air dan pengelolaan navigasi sungai sejak abad pertama.

SURABAYA, WWW.PASJABAR.COM— Bagi masyarakat Jawa Timur, Sungai Brantas bukan sekadar aliran air. Ia adalah urat nadi peradaban yang menghubungkan wilayah pedalaman dengan dunia luar sejak masa klasik. Dalam diskusi daring “Temu Sejarah” bertajuk Sidoarjo – Penjuru Peradaban di Hilir Lembah Brantas, pakar pengairan Raymond Valiant memaparkan betapa vitalnya peran sungai ini dalam membentuk konstelasi politik dan ekonomi di Nusantara.

“Dulu, Indonesia adalah bagian dari Sundaland. Sungai-sungai besar seperti Brantas dan Citarum merupakan sisa-sisa dari jejaring sungai raksasa masa lalu,” ujar Raymond mengawali paparannya.

Ia menjelaskan bahwa 50.000 tahun lalu, rendahnya muka air laut memungkinkan migrasi manusia dari daratan Asia hingga ke wilayah yang kini kita kenal sebagai Surabaya dan Malang.

Baca juga:   Menelusur Gurat Holle: Saat Aksara Latin Mengubah Peta Politik Sunda

Politik Air dan Legitimasi Kekuasaan

Salah satu poin menarik yang dibahas Raymond adalah konsep “politik air”. Menurutnya, suksesi kerajaan di Jawa, mulai dari Medang, Kahuripan, hingga Majapahit, sangat bergantung pada penguasaan sumber daya air dan lahan subur.

Raymond mencontohkan pembangunan “Bendung Waringin Sapta” (bukan bendungan) oleh Raja Airlangga pada abad ke-11. Proyek ini disebutnya sebagai “Proyek Strategis Nasional” masa itu.

“Tujuan utamanya adalah mengendalikan banjir dan menjaga navigasi sungai agar kapal-kapal dagang tetap bisa masuk ke pedalaman,” jelas mantan Direktur Utama Jasa Tirta ini.

Menariknya, ia juga mengulas sisi mistis di balik pembagian kerajaan menjadi Jenggala dan Panjalu oleh Empu Bharada. Dalam legenda, sang Empu disebut terbang dan membagi wilayah dengan kucuran air kendi.

Baca juga:   Reka Ulang Sejarah, Rawat Ingatan Bangsa di Museum Reenactor Malang

Namun, Raymond melihat ini sebagai alegori dari perspektif tata ruang yang canggih. “Ini adalah resolusi konflik berbasis spiritual untuk melegitimasi pembagian akses ekonomi dan sumber daya alam,” tambahnya.

Jejak Perdagangan Global

Bukti bahwa Brantas adalah jalur perdagangan internasional pun tak terbantahkan. Raymond mengungkap temuan koin-koin dari zaman Romawi abad ke-3 dan Bizantium abad ke-6 di dasar sungai. Ada pula keramik dari Dinasti Song yang diproduksi di Thailand pada abad ke-13.

Temuan-temuan ini mengukuhkan posisi pelabuhan di hilir Brantas, seperti yang ada di Sidoarjo dan Surabaya, sebagai pintu masuk barang-barang mancanegara ke jantung kekuasaan Majapahit.

Warisan Kolonial dan Masalah Masa Kini

Memasuki era kolonial, Belanda melanjutkan teknokrasi pengelolaan air dengan membangun infrastruktur seperti Bendung Lengkong Lama (1857) untuk mendukung industri gula. Raymond mencatat bahwa pada puncaknya, terdapat lebih dari 90 pabrik gula di sepanjang daerah aliran sungai (DAS) Brantas yang menyedot sumber daya air secara masif.

Baca juga:   HUT ke-1 Temu Sejarah Gelar Pekan Diskusi, Menulis Hingga Eksplorasi Sejarah

Namun, kejayaan masa lalu kini berhadapan dengan realita pahit. Menjawab pertanyaan peserta diskusi mengenai kualitas air, Raymond tak menampik adanya degradasi lingkungan. Saat ini, DAS Brantas dihuni oleh sekitar 18 juta jiwa, yang mengakibatkan beban limbah domestik mencapai 65 persen, sementara sisanya berasal dari industri.

Diskusi yang berlangsung selama hampir dua jam ini menjadi pengingat bahwa memahami sejarah Brantas berarti memahami jati diri masyarakat Jawa Timur itu sendiri, sebuah peradaban yang dibangun di atas aliran air yang membawa berkah sekaligus tantangan besar bagi masa depan.

Simak video lengkapnya di sini: https://youtu.be/DE9JAvX3d0s?si=Rqs0kANn48uX-S3a

(tiwi)

Print Friendly, PDF & Email
Editor: Tiwi Kasavela
Tags: SejarahSidoarjosungai Brantas


Related Posts

Peta Politik Sunda
PASBUDAYA

Menelusur Gurat Holle: Saat Aksara Latin Mengubah Peta Politik Sunda

10 April 2026
Membedah Sosialisme Sjahrir: Antitesis Otoritarianisme di Tengah “Menara Gading” Intelektual
PASNUSANTARA

Membedah Sosialisme Sjahrir: Antitesis Otoritarianisme di Tengah “Menara Gading” Intelektual

9 April 2026
Malia Nur Alifa: Mengenal Sejarah adalah Kunci Mencintai Tempat Tinggal
PASBANDUNG

Malia Nur Alifa: Mengenal Sejarah adalah Kunci Mencintai Tempat Tinggal

4 Februari 2026

Categories

  • CAHAYA PASUNDAN
  • HEADLINE
  • PASBANDUNG
  • PASBISNIS
  • PASBUDAYA
  • PASDUNIA
  • PASFINANSIAL
  • PASGALERI
  • PASHIBURAN
  • PASJABAR
  • PASKESEHATAN
  • PASKREATIF
  • PASNUSANTARA
  • PASOLAHRAGA
  • PASPENDIDIKAN
  • PASTV
  • PASVIRAL
  • RUANG OPINI
  • TOKOH
  • Uncategorized
No Result
View All Result

Trending

google
HEADLINE

Google Perluas Strategi Wearable Lewat Kacamata Pintar Gucci Berbasis XR

19 April 2026

WWW.PASJABAR.COM - Google dilaporkan memperluas strategi pengembangan kacamata pintar berbasis Android XR dengan menggandeng perusahaan optik global...

Permendiktisaintek

Cabut Permendiktisaintek No 3 Tahun 2026, Karena Tidak Adil Bagi PTS

19 April 2026
unpad

Unpad Imbau Peserta UTBK Jatinangor Disiplin Waktu dan Administrasi

19 April 2026
bnpb

BNPB Catat Bencana Serentak Terkini di Sejumlah Wilayah Indonesia

19 April 2026
ITB

ITB Wisuda 2026 Tekankan Pendidikan Inklusif dan Kisah Perjuangan Mahasiswa

19 April 2026

Highlights

BNPB Catat Bencana Serentak Terkini di Sejumlah Wilayah Indonesia

ITB Wisuda 2026 Tekankan Pendidikan Inklusif dan Kisah Perjuangan Mahasiswa

Jabar Bangun PSEL Sarimukti dan Bogor, Atasi Sampah Perkotaan

Dedi Mulyadi: Peradaban Sunda Tertinggi Ada pada Nilai Rasa

Dies Natalis UIN Bandung, Dedi Dorong Akses Kuliah Gratis

Jabar Jadi Pilot Project Program Gentengisasi Rumah Subsidi Nasional

PASJABAR

© 2018 www.pasjabar.com

Navigate Site

  • REDAKSI
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Alamat Redaksi & Iklan

Follow Us

No Result
View All Result
  • PASJABAR
  • PASBANDUNG
  • PASPENDIDIKAN
  • PASKREATIF
  • PASNUSANTARA
  • PASBISNIS
  • PASHIBURAN
  • PASOLAHRAGA
  • CAHAYA PASUNDAN
  • RUANG OPINI

© 2018 www.pasjabar.com

This website uses cookies. By continuing to use this website you are giving consent to cookies being used. Visit our Privacy and Cookie Policy.