CLOSE ADS
CLOSE ADS
PASJABAR
Rabu, 15 April 2026
  • PASJABAR
  • PASBANDUNG
  • PASPENDIDIKAN
  • PASKREATIF
  • PASNUSANTARA
  • PASBISNIS
  • PASHIBURAN
  • PASOLAHRAGA
  • CAHAYA PASUNDAN
  • RUANG OPINI
  • PASJABAR
  • PASBANDUNG
  • PASPENDIDIKAN
  • PASKREATIF
  • PASNUSANTARA
  • PASBISNIS
  • PASHIBURAN
  • PASOLAHRAGA
  • CAHAYA PASUNDAN
  • RUANG OPINI
No Result
View All Result
PASJABAR
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home HEADLINE

Negeri Segudang Seruan

Hanna Hanifah
14 April 2026
Negeri Segudang Seruan

ilustrasi. (foto: istockphoto)

Share on FacebookShare on Twitter
ADVERTISEMENT
OPini Firdaus Arifin Berburu Kursi
Dosen Yayasan Pendidikan Tinggi Pasundan Dpk FH UNPAS, Firdaus Arifin. (foto: pasjabar)

Oleh: Firdaus Arifin, Dosen FH Unpas & Sekretaris APHTN HAN Jawa Barat (Negeri Segudang Seruan)

WWW.PASJABAR.COM – Pada suatu pagi yang tak benar-benar sunyi, kita mendengar lagi suara-suara itu. Ia datang dari layar yang kita genggam, dari mimbar yang ditinggikan, dari ruang-ruang yang dipenuhi tepuk tangan. Seruan demi seruan dilontarkan—tentang moral, tentang bangsa, tentang apa yang seharusnya dilakukan oleh orang lain. Kita hidup dalam banjir kata-kata. Kata yang mendesak, kata yang menghakimi, kata yang mengajak, bahkan kata yang mengutuk.

Namun, di tengah keramaian itu, ada sesuatu yang terasa absen. Ia tidak berteriak, tidak memaksa, tidak meminta panggung. Ia berjalan pelan, hampir tak terdengar. Itulah teladan.

Barangkali kita sedang berada di sebuah negeri yang terlalu percaya pada suara, tetapi mulai kehilangan kepercayaan pada laku. Kita terpesona pada retorika, tetapi ragu pada praktik. Kita memuja kata-kata yang indah, tetapi abai pada tindakan yang sederhana.

Seruan memiliki kekuatan. Ia bisa menggerakkan massa, membentuk opini, bahkan menjatuhkan kekuasaan. Dalam sejarah, kita menemukan banyak momen ketika seruan menjadi titik balik: pekik kemerdekaan, tuntutan reformasi, panggilan untuk perubahan. Seruan adalah energi.

Tetapi energi, tanpa arah yang jelas, bisa menjadi kebisingan.

Di negeri ini, seruan tampaknya tidak pernah berhenti. Setiap peristiwa melahirkan reaksi. Setiap kebijakan memantik komentar. Setiap kesalahan segera dibalas dengan tuntutan. Kita seperti hidup dalam sebuah ruang gema—di mana suara berulang, membesar, dan sering kali kehilangan asalnya.

Dalam ruang seperti itu, kita jarang bertanya: setelah seruan itu dilontarkan, apa yang berubah?

Teladan bekerja dengan cara yang berbeda. Ia tidak datang sebagai perintah, melainkan sebagai kemungkinan. Ia tidak memaksa, tetapi mengundang. Ia tidak memerlukan pengeras suara, sebab ia berbicara melalui konsistensi.

Baca juga:   FORSIM STKIP Pasundan Bentuk Mahasiswa Berbudi Pekerti Luhur dan Mandiri

Namun justru karena itu, teladan sering kali kalah cepat.

Dalam dunia yang bergerak serba instan, kita lebih mudah tergerak oleh yang segera tampak. Seruan menawarkan kepuasan cepat—kita merasa telah berbuat sesuatu hanya dengan menyatakan sikap. Teladan, sebaliknya, menuntut kesabaran. Ia memerlukan waktu, bahkan sering kali tidak memberikan hasil yang langsung terlihat. (Negeri Segudang Seruan)

Maka tak heran jika kita lebih memilih berseru daripada menjadi contoh.

Di ruang publik kita, moralitas sering hadir sebagai kata. Ia diucapkan dengan lantang, dipajang dalam slogan, diulang dalam berbagai kesempatan. Tetapi ketika kita melihat lebih dekat, kita menemukan jarak yang menganga antara kata dan tindakan.

Kita mendengar seruan tentang kejujuran, tetapi menyaksikan praktik yang tak sepenuhnya jujur. Kita mendengar ajakan untuk sederhana, tetapi melihat gaya hidup yang berlebihan. Kita mendengar pentingnya tanggung jawab, tetapi jarang melihatnya diwujudkan secara utuh.

Di sinilah paradoks itu muncul: semakin sering moral diucapkan, semakin terasa ia tidak hadir.

Barangkali ini bukan soal kemunafikan semata, melainkan gejala yang lebih dalam. Kita telah terbiasa memisahkan kata dari laku. Kita menganggap bahwa mengatakan sesuatu sudah cukup, tanpa perlu benar-benar menjalaninya.

Seorang pemikir pernah mengatakan bahwa manusia belajar bukan hanya dari apa yang dia dengar, tetapi dari apa yang dia lihat. Dalam pengertian ini, teladan adalah pendidikan yang paling efektif. Ia tidak membutuhkan argumentasi panjang. Ia cukup hadir.

Namun, teladan juga menuntut sesuatu yang tidak mudah: integritas.

Integritas bukan sekadar kesesuaian antara kata dan tindakan, tetapi juga kesediaan untuk mempertahankan kesesuaian itu dalam berbagai situasi. Ia diuji ketika tidak ada yang melihat, ketika tidak ada yang memberi penghargaan, ketika ada godaan untuk menyimpang.

Dan di sinilah banyak orang goyah. Sebab integritas tidak menawarkan keuntungan instan. Ia bahkan sering kali menuntut pengorbanan.

Baca juga:   Anak Krakatau Erupsi, Kolom Abu Capai 500 Meter

Kita hidup dalam zaman di mana pengakuan menjadi sesuatu yang penting. Apa yang tidak terlihat, seolah tidak ada. Apa yang tidak dibicarakan, seolah tidak berarti. Dalam logika seperti ini, teladan yang bekerja dalam diam menjadi tidak menarik.

Media, dengan segala kecepatannya, memperkuat kecenderungan ini. Ia memilih yang dramatis, yang kontroversial, yang memancing emosi. Seruan, dengan sifatnya yang tegas dan sering kali provokatif, lebih mudah memenuhi kriteria itu. Teladan, yang sunyi dan berulang, sulit bersaing.

Akibatnya, ruang publik kita dipenuhi oleh suara, tetapi miskin contoh. (Negeri Segudang Seruan)

⸻

Namun, kita tidak sepenuhnya kehilangan teladan. Ia masih ada—meski tidak selalu terlihat.

Ia ada dalam sosok yang memilih jujur ketika berbohong lebih menguntungkan. Ia ada dalam mereka yang tetap bekerja dengan baik meski tidak diawasi. Ia ada dalam keputusan-keputusan kecil yang tidak pernah menjadi berita, tetapi menentukan arah hidup seseorang.

Teladan seperti ini tidak spektakuler. Ia tidak mengundang tepuk tangan. Tetapi justru di situlah letak kekuatannya. Ia tidak bergantung pada pengakuan.

Dalam diamnya, ia membentuk.

Barangkali masalah kita bukan karena terlalu banyak orang yang berseru, tetapi karena terlalu sedikit yang bersedia menjadi contoh. Kita lebih nyaman berada di posisi pengamat—mengomentari, mengkritik, menilai—daripada mengambil risiko untuk menjalani apa yang kita katakan.

Padahal, perubahan tidak selalu dimulai dari seruan besar. Ia sering kali dimulai dari tindakan kecil yang konsisten.

Seorang yang memilih untuk tidak korupsi, meski ada kesempatan. Seorang yang menolak menyalahgunakan wewenang, meski tidak ada yang mengawasi. Seorang yang tetap memegang prinsip, meski harus menanggung konsekuensi.

Tindakan-tindakan seperti itu mungkin tidak mengubah dunia dalam sekejap. Tetapi ia menciptakan kemungkinan—bahwa hal yang benar masih bisa dilakukan.

Baca juga:   Deden : Proses Persidangan MK Jadi Solusi Terbaik Meredakan Ketegangan Politik

Di negeri segudang seruan ini, kita mungkin perlu belajar kembali tentang arti keheningan. Bukan keheningan yang pasif, tetapi keheningan yang reflektif. Keheningan yang memberi ruang bagi kita untuk bertanya: apakah yang kita katakan sudah kita jalani?

Pertanyaan itu sederhana, tetapi tidak selalu nyaman. Ia menuntut kejujuran pada diri sendiri. Ia membuka kemungkinan bahwa kita belum sepenuhnya konsisten. (Negeri Segudang Seruan)

Namun justru dari sanalah teladan bisa lahir.

Teladan tidak dimulai dari kesempurnaan, melainkan dari kesadaran. Kesadaran bahwa kata-kata memiliki konsekuensi, bahwa setiap seruan membawa tanggung jawab.

Akhirnya, kita sampai pada sebuah pilihan.

Kita bisa terus hidup dalam kebisingan seruan—menambah suara, memperkuat gema, dan berharap sesuatu akan berubah. Atau kita bisa memilih jalan yang lebih sunyi: menjadi teladan, meski kecil, meski tak terlihat.

Pilihan kedua mungkin tidak menarik. Ia tidak memberi sensasi. Ia tidak menjanjikan popularitas. Tetapi ia memiliki sesuatu yang lebih dalam: kejujuran.

Dan mungkin, dalam jangka panjang, kejujuran itulah yang dibutuhkan oleh negeri ini.

Seruan akan selalu ada. Ia bagian dari kehidupan publik. Ia tidak perlu dihilangkan.

Tetapi tanpa teladan, seruan akan kehilangan makna. Ia menjadi sekadar suara—datang dan pergi, tanpa jejak yang berarti.

Teladan, sebaliknya, meninggalkan sesuatu yang lebih tahan lama. Ia tidak hanya didengar, tetapi diingat. Ia tidak hanya menggerakkan, tetapi membentuk.

Di antara keduanya, kita mungkin perlu memilih keseimbangan. Berseru ketika perlu, tetapi lebih dari itu, menjadi.

Sebab pada akhirnya, negeri ini tidak hanya membutuhkan suara yang lantang, tetapi juga langkah yang jujur. Dan dari langkah-langkah itulah, mungkin, kita bisa perlahan keluar dari kebisingan—menuju sesuatu yang lebih bermakna. (han)

Print Friendly, PDF & Email
Editor: Hanna Hanifah
Tags: NegeriNegeri Segudang SeruanOpinipasundan


Related Posts

berkuasa
HEADLINE

Mengakui Setelah Berkuasa

28 Maret 2026
Makan Bergizi Gratis
HEADLINE

Makan Bergizi Gratis dalam Perspektif Penggunaan APBN dan Ekonomi Makro

24 Februari 2026
Pesan Moral dan Sosial Ibadah Puasa
HEADLINE

Pesan Moral dan Sosial Ibadah Puasa

23 Februari 2026

Categories

  • CAHAYA PASUNDAN
  • HEADLINE
  • PASBANDUNG
  • PASBISNIS
  • PASBUDAYA
  • PASDUNIA
  • PASFINANSIAL
  • PASGALERI
  • PASHIBURAN
  • PASJABAR
  • PASKESEHATAN
  • PASKREATIF
  • PASNUSANTARA
  • PASOLAHRAGA
  • PASPENDIDIKAN
  • PASTV
  • PASVIRAL
  • RUANG OPINI
  • TOKOH
  • Uncategorized
No Result
View All Result

Trending

UTBK SNBT 2026
HEADLINE

Pengunduhan Kartu SBMPTN 2026 Ditutup, Terlewat Unduh? Ini Risikonya

15 April 2026

BANDUNG, WWW.PASJABAR.COM – Pengunduhan kartu peserta UTBK-SNBT 2026 (yang sebelumnya dikenal sebagai SBMPTN) resmi ditutup. Ribuan peserta...

stres

Dokter Ungkap Tips Efektif Atasi Stres dan Kecemasan

15 April 2026
wisuda unjani

Wisuda Unjani 2026: 1.810 Lulusan, Sistem Hybrid Jadi Andalan

15 April 2026
penataan gedung sate

Pemprov Jabar Mulai Bongkar Plaza Depan Gedung Sate untuk Penataan

15 April 2026
TJSL

KAI Daop 2 Bandung Salurkan TJSL Rp1,1 Miliar Sepanjang 2025

15 April 2026

Highlights

Pemprov Jabar Mulai Bongkar Plaza Depan Gedung Sate untuk Penataan

KAI Daop 2 Bandung Salurkan TJSL Rp1,1 Miliar Sepanjang 2025

HMT ITB Minta Maaf atas Lagu Kontroversial yang Picu Keresahan

Rusun ASN Kejati Jabar Capai 32%, Berpotensi Rampung Lebih Cepat

Program Bedah Rumah Jabar Dimulai, Target 40 Ribu Hunian

Pemprov Jabar Tata Ulang Kawasan Gedung Sate Jadi Ruang Terpadu

PASJABAR

© 2018 www.pasjabar.com

Navigate Site

  • REDAKSI
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Alamat Redaksi & Iklan

Follow Us

No Result
View All Result
  • PASJABAR
  • PASBANDUNG
  • PASPENDIDIKAN
  • PASKREATIF
  • PASNUSANTARA
  • PASBISNIS
  • PASHIBURAN
  • PASOLAHRAGA
  • CAHAYA PASUNDAN
  • RUANG OPINI

© 2018 www.pasjabar.com

This website uses cookies. By continuing to use this website you are giving consent to cookies being used. Visit our Privacy and Cookie Policy.