CLOSE ADS
CLOSE ADS
PASJABAR
Senin, 20 April 2026
  • PASJABAR
  • PASBANDUNG
  • PASPENDIDIKAN
  • PASKREATIF
  • PASNUSANTARA
  • PASBISNIS
  • PASHIBURAN
  • PASOLAHRAGA
  • CAHAYA PASUNDAN
  • RUANG OPINI
  • PASJABAR
  • PASBANDUNG
  • PASPENDIDIKAN
  • PASKREATIF
  • PASNUSANTARA
  • PASBISNIS
  • PASHIBURAN
  • PASOLAHRAGA
  • CAHAYA PASUNDAN
  • RUANG OPINI
No Result
View All Result
PASJABAR
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home HEADLINE

Membaca Nasib Desa di Kabinet Omon-Omon

Hanna Hanifah
21 Januari 2025
nasib desa

ilustrasi. (foto: freepik)

Share on FacebookShare on Twitter
ADVERTISEMENT
U Wawan Sam Adinata, Dosen STIE Pasundan. (foto: pasjabar)

Oleh: U Wawan Sam Adinata, Dosen STIE Pasundan (Nasib Desa)

BANDUNG, WWW.PASJABAR.COM – Berita tidak sedap terkait Dana Desa tiba-tiba muncul dan menggelinding seperti bola salju. Tidak ada hujan tidak ada angin, tersiar kabar Presiden Prabowo akan menghentikan Dana Desa, sebuah isu yang tentu saja sangat berpengaruh bagi masyarakat, khususnya yang bergiat di pemberdayaan desa. Namun demikian, berita tersebut belum tentu benar, dan tidak ada konfirmasi resmi tentang hal ini.

Kenapa nasib tentang Dana Desa menarik untuk dibahas? Ada beberapa hal yang perlu dicatat, karena hingga saat ini desa adalah basis kekuatan negara. Karena mayoritas penduduk Indonesia tinggal di desa. Oleh karena itu, kemajuan desa akan berdampak langsung pada kemajuan negara. Yang lebih mendasar adalah desa seringkali menjadi lokasi kemiskinan yang parah. Dengan memulai kemajuan dari desa, negara dapat mengentaskan kemiskinan dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat, selain sumber daya alam yang melimpah.

Dalam dunia politik, kita sering mendengar istilah “Desa Mengepung Kota”. Teori ini bisa dimaknai sebagai sebuah gerakan di mana desa sebagai basis kekuatan, terutama di negara-negara besar dan luas yang sentralistik. Memaknai teori ini secara positif akan melahirkan sebuah kebijakan yang berangkat dari akar, karena pada awal kelahirannya yang namanya kota itu tidak ada, tapi lahan baru yang dibuka, dibangun, dijadikan pusat kelola dengan warganya mayoritas pendatang (pelancong dll).

Baca juga:   Vietnam jadi Juara Piala AFF 2024

Menurut berbagai sumber, teori “Desa Mengepung Kota” (DMK) adalah sebuah konsep yang dikembangkan oleh Bung Karno, Presiden Pertama Republik Indonesia, pada tahun 1960-an. Teori ini menjelaskan tentang bagaimana desa-desa di Indonesia dapat menjadi kekuatan utama dalam menghadapi penjajahan dan memperjuangkan kemerdekaan.

Dengan dasar strategi perang menghadapi kolonialisme saat itu, Bung Karno menyadari bahwa kekuatan militer dan ekonomi Indonesia tidak seimbang dengan kekuatan penjajah. Oleh karena itu, beliau mengembangkan teori DMK sebagai strategi untuk menghadapi penjajahan. Roh dari teori “Desa Mengepung Kota” pemikiran Bung Karno adalah pentingnya kemandirian ekonomi, kemandirian politik, dan kemandirian budaya.

Era Jokowi: Desa Bangkit

Roh dari teori “Desa Mengepung Kota” terus menghantui para pengambil kebijakan di negara kita. Wajar karena roh tersebut adalah roh ideologi akan cita-cita para pendiri negara tentang lahirnya Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Angka-angka kemajuan tanpa menyentuh kesejahteraan rakyat adalah ilusi. Pembangunan pencakar langit tanpa terasa oleh akar rumput bangsa Indonesia adalah kebohongan terhadap cita-cita NKRI. Desa adalah rumah utama agenda NKRI memerangi kebodohan dan kemiskinan.

Desa sebagai prioritas pembangunan di segala sektornya memang sudah berlangsung lama, bahkan bisa dibilang semua presiden di Indonesia selalu menjadikan desa sebagai basis program percepatan pembangunan. Namun demikian, penggagas Dana Desa adalah Presiden Jokowi. Dana Desa adalah salah satu program unggulan pemerintahan Jokowi yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa dan memperkuat pemerintahan desa.

Baca juga:   Sunda Jeung Politik (Sunda dan Politik)

Sejarah mencatat, pada tahun 2015 Presiden Jokowi mengeluarkan Peraturan Pemerintah (PP) No. 60 Tahun 2014 tentang Dana Desa yang Bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). PP ini mengatur tentang pengalokasian Dana Desa yang bersumber dari APBN untuk mendukung pembangunan desa.

Dana Desa diberikan kepada desa-desa di Indonesia untuk digunakan dalam berbagai kegiatan, seperti pengembangan ekonomi desa, pembangunan infrastruktur desa, peningkatan kualitas pendidikan dan kesehatan, dan pengembangan pariwisata desa. Dengan Dana Desa, pemerintahan Jokowi berharap dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa dan memperkuat pemerintahan desa.

Undang-Undang No. 6 Tahun 2014, atau Undang-Undang Desa, telah menempatkan desa sebagai ujung tombak pembangunan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Desa diberikan kewenangan dan sumber dana yang memadai agar dapat mengelola potensi yang dimilikinya guna meningkatkan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.

Negara Lain

Menengok ke negara lain, di dunia ini banyak negara-negara yang menjadikan desa sebagai basis kekuatan. Misalkan negeri yang terkenal dengan Bollywood, India. India memiliki sistem pemerintahan desa yang kuat, yang dikenal sebagai “Panchayati Raj”. Sistem ini memberikan otonomi yang luas kepada desa-desa untuk mengelola urusan mereka sendiri. Yang kedua adalah negeri Tirai Bambu, Cina.

Baca juga:   Penting! Pengembangan UKM dan Peran Notaris di Era Transformasi Digital

Cina memiliki sistem desa yang kuat, yang dikenal sebagai “Xiang” atau “Desa”. Desa-desa di Cina memiliki otonomi yang luas untuk mengelola urusan mereka sendiri, termasuk pengelolaan lahan, pendidikan, dan kesehatan. Banyak lagi negara-negara lain di mana desa memiliki otonomi yang luas dalam mengelola urusan mereka sendiri.

Dalam konteks kekinian atau era pembangunan dan memajukan Negara Kesatuan Republik Indonesia, maka pemahaman akan arti “Desa Mengepung Kota” bukan hanya slogan dan propaganda, tapi menjadi roh ideologi dalam memajukan bangsa dan mengejar “tinggal landas” agar tidak tertinggal di landasan. Artinya, besar harapan agar pemerintahan Prabowo Subianto yang terkenal dengan kabinet “Omon-Omon” karena kabinetnya banyak diisi oleh para ahli dan profesional, bukan era NATO (No Action Talk Only) atau kabinet omong doang, bisa mewujudkan mimpi besar rakyat Indonesia dan para pendiri Negara Republik Indonesia.

Penulis memiliki keyakinan, era Prabowo Subianto adalah era emas kebangkitan kedua kemajuan nasib desa yang lebih baik. Apalagi Prabowo sempat bertekad untuk meningkatkan Dana Desa menjadi Rp5 miliar, sebuah tekad yang menjadikan harapan. Tentu saja perangkat penerima dan sistemnya harus lebih baik dalam segala hal dari sebelumnya. Semoga. (han)

Print Friendly, PDF & Email
Editor:
Tags: dana desakabinet prabowonasib desaOpiniSTIE Pasundan


Related Posts

Negeri Segudang Seruan
HEADLINE

Negeri Segudang Seruan

14 April 2026
Lulusan siap kerja
HEADLINE

Unpas–STIE Pasundan Disnakertrans Jabar Siapkan Lulusan Siap Kerja

11 April 2026
berkuasa
HEADLINE

Mengakui Setelah Berkuasa

28 Maret 2026

Categories

  • CAHAYA PASUNDAN
  • HEADLINE
  • PASBANDUNG
  • PASBISNIS
  • PASBUDAYA
  • PASDUNIA
  • PASFINANSIAL
  • PASGALERI
  • PASHIBURAN
  • PASJABAR
  • PASKESEHATAN
  • PASKREATIF
  • PASNUSANTARA
  • PASOLAHRAGA
  • PASPENDIDIKAN
  • PASTV
  • PASVIRAL
  • RUANG OPINI
  • TOKOH
  • Uncategorized
No Result
View All Result

Trending

Persib Bandung
HEADLINE

Pelatih Persib Bandung Pede Curi Poin Penuh di Kandang Dewa United

20 April 2026

WWW.PASJABAR.COM - Persib Bandung menebar ancaman serius jelang laga tandang kontra Dewa United pada pekan ke-28 Super...

google

Google Perluas Strategi Wearable Lewat Kacamata Pintar Gucci Berbasis XR

19 April 2026
Permendiktisaintek

Cabut Permendiktisaintek No 3 Tahun 2026, Karena Tidak Adil Bagi PTS

19 April 2026
unpad

Unpad Imbau Peserta UTBK Jatinangor Disiplin Waktu dan Administrasi

19 April 2026
bnpb

BNPB Catat Bencana Serentak Terkini di Sejumlah Wilayah Indonesia

19 April 2026

Highlights

Unpad Imbau Peserta UTBK Jatinangor Disiplin Waktu dan Administrasi

BNPB Catat Bencana Serentak Terkini di Sejumlah Wilayah Indonesia

ITB Wisuda 2026 Tekankan Pendidikan Inklusif dan Kisah Perjuangan Mahasiswa

Jabar Bangun PSEL Sarimukti dan Bogor, Atasi Sampah Perkotaan

Dedi Mulyadi: Peradaban Sunda Tertinggi Ada pada Nilai Rasa

Dies Natalis UIN Bandung, Dedi Dorong Akses Kuliah Gratis

PASJABAR

© 2018 www.pasjabar.com

Navigate Site

  • REDAKSI
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Alamat Redaksi & Iklan

Follow Us

No Result
View All Result
  • PASJABAR
  • PASBANDUNG
  • PASPENDIDIKAN
  • PASKREATIF
  • PASNUSANTARA
  • PASBISNIS
  • PASHIBURAN
  • PASOLAHRAGA
  • CAHAYA PASUNDAN
  • RUANG OPINI

© 2018 www.pasjabar.com

This website uses cookies. By continuing to use this website you are giving consent to cookies being used. Visit our Privacy and Cookie Policy.